
Raffa kembali mengendong Melatih, mereka harus cepat keluar dari hutan itu karena saat ini malam sudah sangat larut.
"Ayo naik lagi ke punggung aku" ucap Raffa.
"Apa kamu gak papa?" tanya Melatih.
"Iya aku gak papa ko, ayo naik" ajak Raffa lagi.
Melatih pun naik lagi ke punggung Raffa, keduanya kembali berjalan, dan untung saja selama mencari gadis itu tadi Raffa mematahkan beberapa kayu, agar ia bisa tau kalau jalan itu yang ia lalui tadi.
"Kamu berat banget sih, berat badan kamu berapa kilo sih?" tanya Raffa.
"Gak kok cuma 50 kilo aja, ya udah aku jalan aja kalau kamu gak sanggup gendong" ucap Melatih yang sudah merajuk, karena di katakan berat oleh Raffa.
Sedangkan Raffa hanya tersenyum mendengar perkataan gadis yang saat ini ia gendong, rasanya saat ini Raffa sangat suka menjahili gadis itu.
"Kalau kamu jalan, kapan kita sampai ke Vila" ucap Raffa.
Melatih hanya diam saja, karena saat ini ia juga sudah sangat capek dan mengantuk. Raffa terus berjalan keluar dari hutan.
Sedangkan di sisi lain para tim sar juga sudah mulai mencari Melatih ke dalam hutan, karena tak mendapat keberadaan sang putri, pak Rehan langsung meminta bantuan petugas.
Saat ini jam sudah menunjukan pukul 8 malam, tapi Raffa dan juga Melatih belum juga tiba di Vila, mungkin karena hutan yang di masuki keduanya sangat dalam.
Di sisi lain, Marvel, Brian, Rasya dan Ilham sedang menunggu di Vila yang mereka tempati, Brian sudah meminta bantuan tim sar juga untuk mencari sahabat mereka itu.
Di Vila sebelah mama Melatih masih tak henti-hentinya menangis, putri sematawayangnya hilang di hutan dan sampai malam ini belum juga di temukan.
"Ma, mama sabar ya papa yakin kalau petugas pasti akan menemukan putri kita" ucap papa Rehan.
"Gimana mama bisa tenang pa, putri kita sendiri di dalam hutan" ucap mama Melatih.
"Iya ma, papa juga merasakan hal yang sama dengan mama" ucap papa Rehan.
"*Mel, loh kemana sih, plis cepat kembali" ucap Vani dalam hati, karena ia juga merasa kuatir dengan keadaan Melatih saat ini.
Kembali lagi bersama Raffa dan Melatih*.
"Dikit lagi kita akan keluar dari hutan" ucap Raffa, tapi tidak mendapat sahutan dari gadis yang ia gendong.
"Hey, kamu dengar aku gak sih?" tanya Raffa lagi, dan lagi-lagi tak mendapat sahutan dari gadis itu.
Raffa melihat ke belakang dan ternyata gadis yang sedang gendong sedang tertidur pules di belakangnya.
"Pantas gak nyaut ternyata tidur" ucap Raffa.
"Mungkin dia kecapean" ucap Raffa dan kembali berjalan, karena sedikit lagi mereka akan sampai di Vila.
Brian, Marvel, Rasya dan Ilham yang saat ini sedang berdiri di luar Vila pun menunggu perkembangan dari para petugas, karena saat ini jam sudah menunjukan pukul 10 malam.
Dari kejauhan Brian melihat sang sahabat sedang mengendong seseorang, Brian memastikan penglihatannya takut salah dan ternyata tidak, itu beneran sahabatnya.
"Itu Raffa, tapi dia sama siapa itu?" ucap Brian, membaut Marvel dan yang lain melihat ke arah yang di tunjuk Brian.
"Iya itu Raffa, ayo kita samperin" ajak Marvel.
Sedangkan Raffa terus berjalan mendekati Vila, membuat keempat sahabatnya saling pandang, karena orang yang Raffa gendong adalah seorang wanita.
"Men ini anaknya siapa?" tanya Marvel.
"Gue juga gak tau, tersesat tadi di hutan" ucap Raffa.
"Jangan-jangan ini anak nya penghuni Vila sebelah yang katanya hilang di hutan tadi sore" ucap Brian.
"Iya benar, kasian ya dia pingsan Raf?" tanya Rasya.
"Gak dia ketiduran, mungkin dia capek" ucap Raffa.
__ADS_1
Kalau gitu kita anter aja ke Vila sebelah, kasian orang tua nya kuatir loh" ucap Ilham.
"Ayo" ajak Raffa.
Raffa kembali mengendong Melatih ke Vila sebelah, dengan di ikuti oleh keempat sahabatnya dari belakang.
Sesampainya di Vila sebelah, Marvel langsung mengetuk pintu dan di buka oleh Vani.
"Astaga Melatih, om, tante Melatih udah ketemu" teriak Vani, membuat kelima pria itu saling padang.
"Suara lah loh berisik banget sih" ucap Ilham kesal, tapi tak di hiraukan oleh Vani membuat Ilham bertambah kesal.
Mendengar suara teriakan Vani, kedua orang Tua Melatih beranjak dari sofa dan melihat ke arah depan.
"Melatih" panggil mama Melatih.
"Pak Raffa?" panggil pak Rehan.
"Pak Rehan" ucap Raffa juga.
"Ayo pak Raffa bawa masuk saja" ucap pak Rehan.
"Dia udah tidur pak, langsung baring di kamar saja" ucap Raffa.
"Iya pak Raffa, mari silahkan" ucap pak Rehan.
Raffa membawa gadis itu ke dalam kamar, dan membaringkannya di sana. Karena kelelahan Melatih tidak terusik dengan obrolan mereka di sana.
Setelah membaringkan Melatih, Raffa dan pak Rehan keluar dari kamar itu dan tersisa hanya mama Melatih dan juga Vani, keduanya akan membantu menggantikan pakaian Melatih dan akan mengobati luka yang ada di kaki Melatih.
Di ruang tamu pak Rehan meminta kelima pria itu untuk duduk, karena pak Rehan juga sangat kaget kalau yang menemukan putrinya adalah pak Raffa, rekan bisnis nya sendiri.
"Bagaimana pak Raffa bisa bertemu dengan putri saya?" tanya pak Rehan.
"Panggil Raffa saja pak, kalau lagi di luar kantor" ucap Raffa sambil tersenyum.
Raffa pun menceritakan semuanya dari dia melihat Melatih dan Vani sedang berada di kebun teh, sampai ia melihat Melatih berlari ke dalam hutan dan Raffa langsung mengikuti gadis itu.
"Saya sangat berterimakasih pada nak Raffa, sudah mau menolong putri saya" ucap pak Rehan.
"Iya om, sama-sama" ucap Raffa.
Pak Rehan juga sudah menghubungi petugas tim sar, untuk mengatakan kalau putrinya sudah ketemu dan sudah kembali ke Vila.
Setelah mengobrol sedikit lama, Raffa dan kawan-kawan lalu pamit pada pak Rehan, karena saat ini malam sudah semakin larut, mereka harus segera istirahat.
Sesampainya di Vila, kelima pria itu tidak langsung istirahat, mereka mengobrol di ruang tengah Vila.
"Raf, bukanya gadis kecil yang loh cari namanya Melatih?" tanya Brian.
"Iya, tapi kan belum tentu gadis itu, nama Melatih itu banyak" ucap Raffa.
"Iya juga sih, tapi jangan sampai loh kaya kak Gilang sama kak Ambar" ucap Brian.
"Memangnya papi dan mami nya si kembar kenapa" tanya Raffa kepo.
"Dulu kak Gilang kembali dari Jerman nyari gadis kecilnya, yang ternyata adalah kak Ambar mereka saling mencari yang ternyata mereka selalu bertemu cuma gak saling kenal" ucap Brian.
"Tapi aku bisa kok mengenali gadis kecilku" ucap Raffa.
Kelima pria itu larut dalam obrolan, sampai lupa waktu.
☘☘☘☘
Di kediaman si kembar, kedua bocah kembar itu saat ini masi berada di kamar eyang dan juga kakek nya.
Rupanya habis makan mie tadi si kembar ikut ke kamar kedua eyang dan kakek nya.
__ADS_1
Saat ini kedua bocah kembar itu sedang duduk di atas ranjang bersama sang eyang, saat ini mereka sedang melihat album foto masa kecil sang kakek, sang mami dan uncle Brian.
"Eyan ni ucel Blian ama ucel Alvel ya(eyang ini uncle Brian sama uncle Marvel ya)" tanya Galih.
"Iya sayang, waktu itu kita liburan ke pantai dan kalian tau gak" tanya eyang Nisa.
"Enapa eyan(kenapa eyang)" tanya si kembar.
"Ucnle Brian dan uncle Marvel bikin anak orang nangis di sana" ucap eyang Nisa.
"Ucel Blian ama ucel Alvel akal anet ci(uncle Brian sama uncle Marvel nakal banget sih)" ucap Galih.
"Yan ni oty ura ama ami ya eyan(yang ini aunty Maura sama mami ya eyang)" tanya Galah, menunjuk sebuah foto.
"Iya sayang, ini aunty Maura sama mami kalian" ucap eyang Nisa.
"Ami ama oty ura ucu ya(mami sama aunty Maura lucu ya)" ucap Galih.
"Aya ita la ucu(kaya kita lah lucu)" ucap Galah.
Membuat eyang Nisa dan kakek Nicko yang berada di sana tertawa melihat tingkah kedua cucu kembar mereka.
Pandangan si kembar tertuju pada salah satu foto keluarga, di mana di sana ada eyang buyut Tika yang masi sehat dan kuat.
"Eyan, ni eyan uyut ya(eyang, ini eyang buyut ya)" tanya Galah.
Pandangan eyang Nisa tertuju pada foto yang di tunjuk oleh Galah, di dalam foto itu eyang buyut masi tersenyum bahagia.
"Iya sayang ini eyang buyut" ucap eyang Nisa.
"Ita anen ama eyan uyut(kita kangen sama eyang buyu" ucap kedua bocah kembar itu.
"Kita berdoa ya, semoga eyang buyut tenang di sisi Allah yang maha kuasa ya" ucap eyang Nisa.
"Ia eyan(iya eyang)" ucap kedua bocah lembar.
"Eyan ni oto iapa to ucu anet ci aya ita(eyang ini foto siapa kok lucu banget sih kaya kita)" tanya Galih.
"Ini itu foto kakek kalian waktu kecil dulu" ucap eyang Nisa.
"Tu aja ya ga ama ya ama etalan(kok wajahnya gak sama ya sama sekarang)" ucap Galah.
"Beda lah boy, kakek kan udah tua" ucap kakek Nicko.
"Api asi ante to ke(tapi masi ganteng kok kek)" ucap Galih.
"Dengar itu sayang, cucu kita bilang mas masi ganteng loh" ucap Nicko sambil tersenyum melihat sang istri.
"Eyan alo ni aiapa (kalau ini siapa)" tanya Galih menunjuk salah satu foto.
"Ini itu eyang Nara sayang, ini foto eyang Nara masi kecil juga)" ucap eyang Nisa.
"Aja ya eyan Ara, aya oty ura ya(wajahnya eyang Nara, kaya aunty Maura ya)" ucap Galih.
"Ia ama(ia sama)" ucap Galah juga.
"Kan aunty Maura anaknya eyang Nara sayang" ucap eyang Nisa.
"Eman aja ya lus ama ya eyan(emang wajahnya harus sama ya eyang)" tanya Galih.
"Hak juga kok sayang" jawab eyang Nisa.
Si kembar dan eyang Nisa terus melihat-lihat isi album foto itu.
Next...
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya...
__ADS_1