
Kenapa bocah kecil itu rebutan berlari ke arah meja itu. Apa lagi si kecil Galih yang terlihat sangat antusias dengan topi kecilnya.
"Na dini tan elen tat(nah gini kan keren kak)" ucap Galih duduk di salah satu kursi kosong, lalu di susul juga oleh ketiga sohibnya.
"Duduk yang diam ya, kak Dev pesan menunya dulu" ucap kak Dev.
"Ia tat(iya kak)" ucap keempat bocah kecil itu bersama.
"Wa empat ya elen anet ya ais, atu uka de atan di es olan dini(wah tempatnya keren banget ya guys, aku suka deh makan di restoran gini)" ucap Galih.
"Ia ni aja da ompol ya buat asat dili(iya ini aja ada kompornya buat masak sendiri)" ucap Galah tak kalau antusias nya.
"Ebal ni ga atan eledat di uka ita tan?(kembar ini gak akan meledak di muka kita kan?)" tanya Kifli melihat si kembar.
"Ya ga la Ipli, ni tu da di uat elem au(ya gak lah Kifli, ini itu sudah di buat keren tau)" ucap Galih melihat sang sahabat.
"Bis atu atut anti ompol ya edat agi, lus ena ajah ita(habis aku takut nanti kompornya meledak lagi, terus kena wajah kita)" ucap Kifli lagi.
"Hahahhaha,, Ipli, Ipli amu ni ucu ya(hahahhaa,,, Kifli, Kifli. kamu ini lucu ya)" ucap Galah sambil tertawa.
Membaut kak Dev yang baru saja masuk, melihat ke arah si kembar yang tak henti-hentinya tertawa.
"Ada apa, kok ketawa sih?" tanya kak Dev.
__ADS_1
"Ni tat, Ipli asa ilan anti ompol ya edat lus ena ajah ita(ini kak, Kifli masa bilang nanti kompornya meledak terus kena wajah kita)" ucap Galih di selah tawanya.
"Kak kok Kifli, ini udah di rancang sebagus mungkin," ucap kak Dev, memberitahu bocah kecil yang duduk di sebelah Galah itu.
"Ditu ya tat(gitu ya kak)" ucap Kifli.
"Hhhee...." ucap kak Dev.
Tak berselang lama, dua pelayan masuk dengan membawa nampang yang berisi pesanan mereka.
"Permisi mas, adek ini pesanannya," ucap salah satu pelayan dengan ramah meletakan nampang itu di atas meja.
"Wa adin ya esal anet ais(wah daging nya besar banget guys)" ucap Galih melepaskan topi kecilnya, dan meletakan di kursi samping.
"Silahkan mas, nanti kalau butuh sesuatu bisa panggil kami lagi," ucap dua pelayan itu, lalu kembali undur diri.
"Iya dek sama-sama," ucap kedua pelayan itu dengan ramah, kemudian berlalu dari hadapan kak Dev dan keempat bocah kecil itu.
"Tat ni imana tala asat ya?(kak ini gimana cara masaknya?)" tanya Galih.
"Tunggu sabar, biar kak Dev nyalakan alat masaknya," ucap kak Dev.
Keempat bocah kecil itu pun hanya melihat pergerakan kak Dev, dari mencok kompor listrik itu, lalu mulai menuangkan saos ke dalam alat pemasak di depan mereka, lalu kak Dev mengambil daging yang sudah di lumuri dengan banyak bumbu, lalu meletakan nya di atas tempat masak itu.
__ADS_1
Dan asap pun mengepung, membuat keempat bocah kecil itu menghindar sedikit menjauh, melihat banyak asap.
"Kenapa?" tanya kak Dev melihat keempat bocah kecil itu.
"Tu ga atan ebatalan tan tat(itu gak akan kebakaran kan kak?)" tanya Galih, membuat tawa kak Dev lepas di ruang VVIP itu.
"Ya gak lah, kalian ini gimana sih, tadi mintanya makan masak sendiri," ucap kak Dev.
Setelah melihat dagingnya sudah mulai mateng, asapnya pun juga sudah mulai menghilang, dan di gantikan dengan aroma harum juga yang menyeruak.
"Wa alum anet ni(wah harum banget nih)" ucap Galih, mengambil sesuatu dari saki sweater yang ia kenakan.
"Alih, amu agi bil apa(Galih, kamu lagi ambil apa?)" tanya Iqbal.
"Bil pe la, uat oto ni(ambil hp lah, buat foto ini)" ucap Galih menunjuk daging yang sudah mulai mateng.
Kak Dev terlihat mengambil mangkuk kecil, dan meletakan daging-daging potongan kecil ke dalam mangkuk keempat bocah kecil itu.
"Ini makan lah, udah mateng ini nasi nya," ucap kak Dev juga.
"Ita atan ake umpit tat(kita makan pakai sumpit kak?)" tanya Galah melihat kak Dev.
"Ini ada sendok, pake sendok aja," ucap kak Dev.
__ADS_1
"Maaci ya tat(makasih ya kak)" ucap Galah dan yang lain.
Sedangkan Galih masi asik memotret menu-menu makanan yang ada di atas meja, lalu Galih berdiri dan memotret dari kejauhan, kak Dev yang asik membolak-balik daging pun juga ke potret.