
Bu Arum yang kala itu sedang menghadap jendela luar menikmati pancaran sinar matahari di buat kembali tidak berdaya dengan kedatangan Malika dan Nico dengan pakaian mereka yang khas.
Bu Arum pun coba membalikkan badannya dengan segenap usahanya karena sebelah dari tubuh nya sudah tidak bisa di gerakan lagi pasca struk melanda dirinya.
Air mata Bu Arum pun kembali membasahi pipinya, dia tidak menyangka jika Malika akan Setega itu meninggalkan dirinya dan menikah dengan pria yang sangat dia benci.
"Sudah sepantasnya mereka menikah, saya tidak salah membuat keputusan menikahkan mereka kan Bu Arum?"
Ucap Bu Ratna yang tiba-tiba datang ke kamar Bu Arum tanpa ada yang tahu.
Perasaan Bu Ratna sangat puas melihat Bu Arum yang terlihat sangat kesal padanya namun tidak berdaya untuk berucap ataupun melawan.
Dia hanya sedih melihat anak perempuan satu-satunya yang selama ini dia besarkan deng kuan sepenuh hati, bisa menghianati nya dan akan meninggalkannya.
Malika pun perlahan berjalan menuju Bu Arum yang menangis,
Malika memeluk Bu Arum dengan erat, dia meminta maaf dan restu Bu Arum untuk hubungannya bersama Nico.
__ADS_1
"Maafkan Malika Bu, Malika harus melakukan ini, Malika tidak peduli dengan apa yang orang akan katakan tentang Malika, tapi Malika tidak mau anak Malika lahir tanpa seorang ayah, tentunya ibu tahu bagaimana nikmatnya mengurus anak tanpa seorang suami di sisi ibu? Maika tidak mau anak Malika merasakan sepi nya hati tanpa seorang ayah sepeti yang Malika rasakan selama ini Bu"
Malika terisak menangis mengucapakan semua itu.
Namun batin Bu Arum seolah sedang berjuang dengan tubuhnya yang tidak berdaya, jika dia ingin mengatakan bahwa ayahmu telah di bunuh oleh ayahnya Nico.
Namun usaha Bu Arum sia-sia, respon tubuh Bu Arum yang ingin menghentikan Malika untuk bersama Nico, justru terlihat seperti ingin menganiaya Malika.
Sontak Suci pun menahan tubuh Bu Arum yang terlihat akan menyerang Malika. Padahal sebenarnya, Bu Arum ingin mengatakan semua kebenarannya dan mencegahnya pergi bersama Nico.
Euh.."
Bahasa Bu Arum kini sama sekali tidak bisa dimengerti, dia hanya bisa menunjuk ke arah Malika dan ingin menariknya agar tidak ikut bersama Nico.
Nico yang menyadari sikap Bu Arum dari tatapan matanya langsung menarik lengan Malika agar tidak mendekat lagi dengannya.
"Sudahlah sayang, kau jangan khawatir. Ibumu pasti akan baik-baik saja, ayo kita pergi"
__ADS_1
Berat di rasa kaki melangkah,
Sakit ulu hati saat satu kaki melangkah untuk meninggalkan seorang yang kita cintai,
"Bu, maafkan Malika, Malika harus pergi bersama Nico, Malika yakin di dalam hati ibu, ibu juga merasakan bahagia melihat Malika sudah menikah dan akan menjadi seorang ibu"
Bu Arum masih berusaha untuk mencegah kepergian sang anak,
Namun semua hanya sia-sia, Bu Arum terlalu tidak berdaya dengan semua yang dia derita.
Dengan terpaksa, Bu Arum pun melepas kepergian Malika dengan penuh haru. Dia sangat sedih melihat kepergian Puspa,
Setelah menarik Malika, Nico meminta nya untuk segera pulang dan kembali ke rumah bersamanya,
dia tidak ingin sampai Bu Arum mengatakan yang sebenarnya pada Malika, jika ayahnya Nico lah yang telah menghabiskan ayah Malika,dia tak kuasa meski dirinya tidak berdaya.
"Malika ayo kita pulang, "
__ADS_1