Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
air mata Bu Arum


__ADS_3

Saat Suci membuka pintu, Nico menyadari dari langkahnya itu bukanlah Malika yang membuka pintu,


Dengan segera dia pun langsung pergi dari sana dan meletakan sebungkus donat untuk Malika.


"Kemana tukang paket itu, dan apa ini, "


Suci meraih bungkusan makanan yang ditujukan untuk Malika, Suci pun sudah mengira jika ini pasti dari Nico, namun dia tidak ingin Bu Arum tahu,


Bu Arum cukup terpukul dengan kabar kehamilan Malika, dia tidak ingin menambah beban pikirannya lagi dengan sebungkus donat yang sedang dia pegang.


Akhirnya Suci memanggil tukang sampah yang kebetulan sedang membersihkan di sekitar rumah Malika dan Suci.


"Mang sini sebentar mang, ini ada sedikit Rizki mohon di terima ya?"


Kata Suci memberikan donat itu pada sang tukang sampah,


Tukang sampah itu sangat senang dan bersyukur sekali karena mendapatkan Rizki yang tidak disangka-sangka.


"Terimakasih neng"


Suci pun segera kembali kedalam rumah.


Nico yang mengintai Suci dari kejauhan sangat kesal dan marah karena donat yang akan dia berikan untuk Malika justru dia berikan pada tulang sampah.


"Apa maksudnya dia memberikan makanan itu pada tukang sampah, padahal aku sengaja membelikan donat itu untuk Malika"


Gerutu Nico yang kesal pada Suci.


Suci yang sengaja memancing kemarahan Nico akhirnya bisa melihat dia keluar dari persembunyiannya.


Suci pun akhirnya yakin jika memang Nico lah yang telah mengirim donat madu itu untuk Malika.


Dengan air mata yang masih membasahi pipinya Bu Arum bertanya siapa yang mengetuk pintu, Suci hanya memberitahu jika itu orang yang salah alamat.


Bu Arum pun kembali sedih, dia bingung apa yang harus dia lakukan pada Malika, jika harus jujur, Bu rum sangat marah dan kecewa pada Malika.


Ibu mana yang tidak kecewa mendapati anaknya hamil diluar nikah, sungguh perbuatan yang sangat hina dan memalukan.


Bu Arum pun bangkit dan hendak ke kamar Malika.


Dengan raut wajah yang tidak bisa dia sembunyikan kemarahannya, Bu Arum melangkah.


Suci berusaha untuk menghentikannya dan coba menenangkan nya agar tidak gegabah.


Namun semua percuma, Bu Arum terlanjur di selimuti api kemarahan pada Malika.


Pintu kamar pun dibuka,


Malika yang saat itu baru tersadar tidak tahu apa-apa, dia hanya mengingat jika Suci memanggilnya dan kemudian dia pun sudah tidak ingat lagi.


"Malika"

__ADS_1


Panggil Suci sedikit memberi kode padanya tentang sang ibu yang sedang marah padanya.


Karena baru sadar, Malika tidak menyadari kode dari Suci untuknya.


"Ibu...ka Suci"


Jawab Malika dengan keadaannya yang baru sadarkan diri.


Malika pun bangkit dari pembaringannya dan duduk,


Perlahan Bu Arum datang menghampirinya, tidak sampai lima detik, telapak tangan Bu Arum berhasil mendarat di pipi Malika dengan sangat keras hingga membuat pipi nya memerah.


Plak ...


Malika begitu terkejut dengan tamparan dari ibunya,


Apa sebenarnya yang terjadi pikir Malika.


"Ibu kenapa menamparku?"


Tanya Malika yang masih belum tahu apa-apa tentang kehamilannya.


Suci tidak tega melihat pertengkaran antara ibu dan anak di hadapannya,


Dia coba Menenangkan Bu Arum dengan mengusap bahunya.


"Sabar Bu Arum, sabar biarkan Malika tenang terlebih dahulu,"


Pesan Suci pada Bu Arum.


Dengan linangan air mata, Bu Arum meluapkan kemarahan dan kekecewaannya pada Malika.


Sedangkan Malika masih belum mengerti mengapa ibunya bisa bicara seperti itu, ya Malika memang merasa bersalah karena tidak pernah menuruti permintaan sang ibu untuk tidak berhubungan lagi dengan Nico, tapi untuk cintanya yang buta, apa itu maksudnya?


"Sebenarnya apa yang terjadi ka?"


Malika coba bertanya pada Suci berharap dia bisa menjelaskan semuanya, karena untuk bertanya pada Bu Arum dia terlalu takut.


"Kau, dasar anak kurang ajar, kau masih bisa bersikap tenang setelah melakukan semua dosa itu hah, ibu sudah cukup sabar menghadapi sikap kamu Malika, tapi untuk kesalahan ini, ibu lebih baik mati daripada harus menanggung malu atas aibmu"


Suara petir menggelegar bak menghujam hati Malika yang kian menyadari kesalahan atas aibnya,


"Aib


Aib apa maksud ibuku, apakah dia tahu jika aku dan Nico pernah melakukan hal yang di larang?"


Pikir hati Malika kala mendengar sang ibu menyebutnya aib.


"Katakan pada ibu siapa ayah dari bayimu itu?"


Pertanyaan Bu Arum membuat nya sangat terkejut dan sedih mengapa sampai hati Bu Arum tega merendahkannya dengan semua pertanyaan itu.

__ADS_1


"Ayah, apa maksud ibu?"


"Kamu jangan berlaga sok polos, ibu sudah tahu semuanya, ibu tidak menyangka jika kamu bisa menghianati ibu seperti ini, apa salah ibu sama kamu nak?"


Bu Arum menangis terjatuh dihadapan Malika.


Suci tak kuasa menahan air matanya karena melihat Bu Arum yang begitu kecewa pada Malika.


"Mengapa kau lakukan ini pada ibu, mengapa tidak kau bunuh saja ibu "


Bu Arum terus berkata yang tidak-tidak dalam kesedihannya.


Dalam hati Malika berpikir, mungkinkah dirinya hamil, tidak mungkin pasti tidak mungkin.


Malika sangat sakit hati melihat sang ibu terjatuh dan menangis di hadapannya.


Suasana pun semakin sedih kala Bu Arum meminta maaf pada dirinya dan suaminya karena telah gagal menjaga anak gadisnya.


"Maafkan ibu pak, maafkan ibu, ibu tidak bisa menjaga anak kita, ibu telah bersalah"


Tangis Bu Arum memuncak, Malika tak kuasa melihat ibunya terus menangis.


Dia berusaha memeluk tubuh Bu Arum dan meraihnya ke pelukannya, namun Bu Arum menolak.


"Jangan sentuh ibu, "


Kata Bu Arum dengan menepis tangannya.


Semua bayangan yang terjadi di hadapannya kini, Malika merasa jika ini adalah mimpi.


Dia terus menepuk pipinya berusaha sadar dari mimpi buruknya itu.


Suci pun memberikan hasil laporan dokter yang memeriksa Malika tadi,


Betapa terkejutnya dia saat melihat hasil laporan medis yang menyatakan jika dirinya sedang hamil 1 Minggu.


"Ini tidak mungkin, ini tidak mungkin, "


Malika pun langsung memeluk paksa sang ibu dan mengatakan jika dirinya tidak hamil, itu tidak mungkin, dia terus meminta maaf pada Bu Arum dengan penuh air mata penyesalan.


"Maafkan Malika Bu, maafkan Malika,"


Malika meminta maaf pada Bu Arum dan menyesali semua yang telah terjadi padanya,


Malika mengakui jika dirinya memang bersalah, tidak seharusnya dia melakukan semua itu dengan Nico.


"semua terjadi begitu saja Bu, Malika pun tidak sadar, maafkan Malika"


satu tamparan pun kini mendarat kembali di pipi Malika.


plak...

__ADS_1


"kau bilang tidak sadar, kau begitu polos atau bodoh Malika, pergi kamu dari sini?"


dengan menunjukkan jarinya ke ujung pintu kamar, Bu Arum mengusir Malika dengan sangat kasar karena marah.


__ADS_2