Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
rumah baru


__ADS_3

Malika akhirnya berhasil membuat api cemburu di hati Nico memudar, terlihat sekali Nico ingin menghajar pria yang telah menyelamatkan Malika.


Namun dengan semua yang Malika katakan akhirnya Nico pun diam dan mengerti dengan situasi dan keadaan yang menimpa Malika tadi.


"Tapi kamu tidak apa apa kan? Perutmu bagaimana?"


Nico pun mulai menanyakan keadaan janin diperut Malika.


Dengan wajah tenang Malika mengatakan jika dirinya dan bayi didalam kandungannya baik-baik saja, tidak ada yang harus di khawatirkan.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih mas, "


Ucap Malika kembali berterima kasih pada pria asing itu.


"Baiklah, no problem, lain kali hati-hati, sebab disini memang rawan copet "


Jawab pria asing berjas abu itu, tanpa saling memperkenalkan satu sama lain, pria itupun berlalu dan pergi diantara Nico dan Malika.


Malika pun coba untuk menanyakan namanya namun terlambat.


"Tunggu sebentar"


Ucap Malika coba menghalau kepergian pria itu, namun sia-sia karena pria itu terus berlalu tanpa memperdulikan panggilan Malika padanya.


Malika pun tertunduk diam, sementara Nico yang melihatnya sangat tidak suka,


"Mengapa kamu memanggil pria itu?"


"Aku hanya ingin mengetahui siapa dia, itu saja tidak lebih"

__ADS_1


"Sudah ayo kita pergi"


Dengan kesal, Nico menggenggam tangan Malika dan menariknya dengan keras sehingga Malika sedikit kesakitan.


"Kamu masih tetap sama co, setiap kamu cemburu, kamu tidak segan untuk melukaiku"


Ucap hati Malika menahan sakit di tangannya.


Merekapun melanjutkan perjalanannya menuju rumah kontrakan baru mereka,


Semua barang sudah masuk taksi.


Sepanjang perjalanan, Malika terdiam tak banyak bicara, Nico pun menyadari hal itu, sehingga dia bertanya apa yang sedang Malika pikirkan.


"Ibu ..."


Mendengar jawaban Malika, Nico kembali teringat akan kesalahannya pada Bu Arum.


"Sebelum berangkat, kita tidak sempat ke makam ibu dulu co, ini pertama kalinya aku pergi keluar kota tanpa ibu, tentunya terasa beda, karena sebelumnya kemana-mana ibu selalu menemaniku"


Jelas Malika pada Nico.


Nico pun berusaha untuk menjadi sahabat yang baik saat Malika sedang sedih akan ibunya, Nico mendengarkan semua kesedihannya dengan baik sehingga Malika merasa jika dia tidak sendirian.


"Tapi aku bersyukur, karena sekarang aku sudah memiliki kamu yang selalu mencintai aku"


"Dan anak kita"


Lanjut Nico sambil mengelus perut Malika, keduanya pun tersenyum bahagia.

__ADS_1


***


Akhirnya merekapun tiba di rumah yang di tuju, sebuah rumah sederhana yang cukup luas untuk dihuni sepasang suami istri baru seperti mereka, agar lebih mandiri.


"Syukurlah akhirnya kita sampai juga co?"


Ucap Malika melihat rumah baru dan sekelilingnya.


Sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah pemukiman padat ibu kota Jakarta, namun meskipun begitu, Malika menyukai tempat barunya itu.


"Apa kamu suka dengan rumah kecil ini, maafkan aku, aku tidak bisa membahagiakan kamu dengan semua kemewahan"


Nico meminta maaf pada Malika karena belum bisa membahagiakan dirinya.


Malika pun memeluk Nico dan berkata jika dia sang bahagia dengan semua ini, meskipun mereka masih hidup mengontrak, asalkan selalu bersama, maka tidak jadi masalah bagi Malika.


Keduanya pun masuk kedalam rumah dan mulai mengangkut barang bawaan mereka kedalam.


Di dalam rumah, belum ada furnitur rumah yang lengkap, tidak ada kompor, kasur dan lain sebagainya.


Nico pun merasa bingung, karena uangnya tinggal sedikit lagi,


Nico menggaruk kepalanya karena bingung harus bagaimana.


"Untuk sementara, untuk makan kita beli atau pesan saja ya sayang, nanti kalau aku sudah punya uang kita beli kompor gas dan kebutuhan yang lainnya."


Ucap Nico pada Malika membuat hatinya sedih.


"Itu tidak masalah co, tapi yang jadi masalah sekarang, coba kamu lihat ke kamar kita, tidak ada kasur sama sekali"

__ADS_1


"Haduh".


Nico pun kembali menepuk jidatnya.


__ADS_2