Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Malika pingsan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu,


Nico yang kini kembali bekerja di bengkel lama mulai disibukkan dengan semua pekerjaannya.


Begitupun dengan Malika,pasca pak Mahardika menaikan jabatannya menjadi asisten pribadi dirinya,Malika selalu hilir mudik menemani pak Mahardika kemanapun dia pergi,hingga banyak kolega dan klien mereka yang menganggap Malika seperti cucunya.


Perhatian Malika dan sikapnya yang baik pada pak Mahardika membuat pak Mahardika pun menganggap Malika seperti putrinya sendiri.


Tak jarang jika mereka sedang bepergian ke luar kota untuk sekedar meeting,Malika selalu memperhatikan pola makan dan minum tuannya itu.


"Terimakasih ya nak,kamu tidak hanya berperan sebagai karyawan tapi kamu juga berhasil membuat saya menganggap kamu seperti anak bapak sendiri"


Ucap pak Mahardika pada Malika memuji kinerja kerja dirinya.


Malika yang tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ayah juga menikmati setiap perhatian pak Mahardika dan kasih sayang padanya.


Terlintas di pikiran Malika,senang rasanya jika dia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah,namun semua tidak mungkin,karena ayahnya sudah lama tiada.


Kehadiran pak Mahardika di hidupnya sedikit mengobati kerinduan Malika pada ayahnya yang sudah tiada.


"Sama-sama pak,andai ayah saya masih ada,mungkin dia juga akan menyayangiku seperti bapak bahkan mungkin lebih"


Malika sedikit mencurahkan isi hati akan kerinduannya tentang sosok seorang ayah pada pak Mahardika.


Pak Mahardika yang baru menyadari jika ayah Malika sudah tiada meminta maaf karena membuat Malika teringat akan sosok ayahnya.


***


Bu Arum yang sudah melupakan dan mengira jika Nico sudah tidak menghubungi Malika merasa tenang,karena akhirnya Nico mau menuruti permintaannya untuk tidak berhubungan lagi dengan anaknya.


"Jika saja Nico berani mendekati Malika lagi,maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk memberitahu Malika jika Nico adalah anak dari Gunawan, pembunuh ayahnya"


Kata hati Bu Arum mengancam.


Tanpa sepengetahuan Bu Arum, ternyata Nico dan Malika setiap hari selalu bertemu dan bahkan makan bersama di waktu istirahat kerja.


Hubungan keduanya justru semakin lebih dekat satu sama lain.


Malika dan Nico justru saling memahami kekurangan masing-masing.


Malika sengaja tidak lagi membahas hubungannya dengan Nico pada Bu Arum, karena semua hanya akan sia-sia saja, Bu Arum akan tetap pada pendiriannya untuk tidak merestui hubungan mereka.


"Bagaimana keadaan ibu kamu sekarang?"


Tanya Nico pada Malika menanyakan kabar Bu Arum, apakah dia masih melarang hubungan mereka, atau adakah sinar harapan untuk mereka bersatu dengan restunya.


Malika pun mengatakan jika Bu Arum sudah tidak lagi menanyakan tentang dirinya dan Nico,karena Malika juga selalu diam untuk hubungannya, dia tidak mau lagi mendengar ibunya terus menghina Nico.


Isti sebabnya Malika kini hanya bisa diam.


Malika menikmati kebersamaan mereka walau secara diam-diam.


Saat Malika hendak memakan bakso yang dia pesan bersama Nico, tiba-tiba saja perutnya mual,dia serasa ingin muntah.


Keningnya pun berkeringat.


"Kamu kenapa sayang?"


Tanya Nico panik melihat Malika mual-mual.

__ADS_1


Malika tak mampu menjawab pertanyaan Nico padanya dia segera berlari ke kamar mandi.


Malika memuntahkan semua yang dia makan, perutnya sangat sakit dan perih, rasa mual yang berlebihan membuat kepalanya sedikit pusing.


"Sakit sekali, perutku mual, kenapa sebenarnya aku?"


Malika merintih kesakitan,


Di luar kamar mandi, Nico yang cemas coba mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan kondisi Malika.


"Malika, kamu baik-baik saja?"


Teriak Nico pada Malika yang masih belum keluar dari dalam kamar mandi.


Pintu kamar mandi pun terbuka secara perlahan, Malika melangkah dengan lemah,


Wajahnya pun pucat.


"Sayang, wajahmu sangat pucat sekali, kita periksa ke dokter ya"


Nico mengajak Malika untuk memeriksakan diri ke dokter agar memastikan jika Malika baik-baik saja, namun Malika menolak dia hanya beralasan mungkin asam lambungnya kambuh, itu sebabnya dia sangat mual.


Malika pun meminta Nico untuk mengantarnya pulang ke rumah,


"Tidak apa co, hantarkan saja aku pulang ke rumah, sepertinya aku harus istirahat"


Pinta Malika.


Nico pun akhirnya mengantarkan Malika pulang, seperti biasa, Nico menurunkan Malika di pertigaan jalan menuju ke rumahnya, setelah itu Malika biasa berjalan atau naik ojek sampai ke rumah.


"Biar aku antar sampai depan rumah saja ya?"


Kata Nico pada Malika.


Nico pun tidak bisa memaksa, Malika akhirnya turun dengan wajahnya yang masih pucat.


Di lain tempat, saat Suci pulang dari belanjanya bersama Alana, dia melihat Malika di hantarkan oleh Nico.


"Loh itu Malika kan? Bukankah pria itu Nico?"


Suci terkejut karena ternyata Malika masih berhubungan dengan Nico meski Bu Arum sudah melarangnya.


"Jadi ternyata Malika masih berhubungan dengan pria itu?tapi apakah Bu Arum tahu?"


Pikir Suci tentang hubungan keduanya itu,dia pun terus melihat ke arah Malika dan Nico.


Suci melihat Malika dengan wajah pucat,hingga akhirnya Suci menghentikan mobilnya dan memanggil Malika untuk naik ke mobilnya.


"Malika"


Saat Malika membalikkan badannya ke arah Suci,dia sangat terkejut.


"Suci,apa dia melihat aku bersama Nico?"


Wajah Malika seketika panik karena takut Suci melihat dirinya bersama Nico, Malika pun berhenti dan melihat ke arah Suci.


"Tunggu sebentar ya nak, ibu ajak ka Malika dulu"


Suci turun dari mobil dan mengajak Malika naik ke mobilnya.

__ADS_1


Wajah Malika yang semakin pucat membuatnya semakin lemah,


Hingga akhirnya Malika tak kuasa lagi menahan tubuhnya dan terjatuh pingsan.


Suci sangat terkejut dan berteriak meminta pertolongan warga untuk membawa Malika kedalam mobilnya.


"Tolong pak, tolong bantu saya bawa adik saya kedalam mobil ya, dia jatuh pingsan"


Seorang warga pun menolong Suci membawa Malika kedalam mobilnya, dengan segera dia pun membawa Malika pulang ke rumahnya.


"Terimakasih ya pak, bapak sudah membantu saya"


Tak lupa Suci berterima kasih pada mereka yang sudah menolongnya membawa Malika kedalam mobil.


Suci pun langsung tancap gas menuju rumah yang memang sudah tidak jauh lagi dari sana.


"Bu.. Bu Arum"


Teriak Suci di depan rumah Malika membuat Bu Arum terkejut, hingga karyawan yang ada di rumahnya pun melihat ke arah luar.


Bu Arum langsung keluar dan melihat Suci.


"Bu Malika Bu, dia pingsan"


Dengan nada bicara yang panik Suci memberitahu keadaan Malika di dalam mobil.


Bu Arum pun terkejut dan langsung memindahkan Malika kedalam kamarnya.


Dia pun langsung menelpon dokter datang ke rumah untuk memeriksanya.


Sambil menunggu dokter datang Bu Arum bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada Malika.


Suci bingung harus mengatakan apa,


Apa harus dia mengatakan yang sebenarnya jika tadi Malika dihantarkan Nico sampai pertigaan.


"Sebenarnya..."


Sebelum Suci selesai menjawab pertanyaan Bu Arum, dokter pun datang untuk memeriksa Malika.


"Selamat sore dokter, tolong periksa anak saya dok, tadi di jalan dia jatuh pingsan, wajahnya juga sangat pucat"


Sedikit penjelasan yang terlihat oleh Bu Arum mengenai Malika.


Dokter Vita pun langsung memeriksa Malika di kamarnya.


Bu Arum yang sangat mencemaskan Malika, berharap jika dia baik-baik saja.


Semua doa Bu Arum curahkan untuk anaknya itu.


Selang beberapa menit, dokter pun selesai memeriksa Malika.


"Bagaimana kondisi anak saya dok?"


Tanya Bu Arum dengan raut wajah yang khawatir.


Dokter pun tersenyum pada Bu Arum dan memintanya untuk tidak cemas.


"Semua baik-baik saja,hanya sekarang Malika tidak boleh dulu terlalu kecapean ya, aktifitasnya juga harus dikurangi, tidak boleh stres dan berpikir yang berat-berat "

__ADS_1


"Memangnya anak saya kenapa dok?"


Tanya Bu Arum penasaran dengan semua penjelasan sang dokter.


__ADS_2