
Setelah merasa puas akan keterpurukan Bu Arum yang sedih melepaskan anak gadisnya menikah dengan pria yang dia benci, Bu Ratna tersenyum menang, karena akhirnya dia bisa membalaskan sakit hatinya dulu oleh Bu Arum.
"Kau pantas mendapatkan ini semua "
Ujar Bu Ratna dalam hati dengan senyum bahagianya.
Para tetangga rumah pun akhirnya tahu jika Malika sudah menikah dengan Nico karena Malika hamil, merekapun menyindir Bu Arum dengan sangat pedasnya.
"Ya beginilah jadinya kalau anak gadis dibiarkan pacaran bebas, kita juga yang kecolongan"
Kata Bu Rika salah satu tetangga Bu Arum yang tidak sengaja lewat depan rumah Bu Arum.
Sindiran Bu Rika pada Bu Arum yang sedang berjemur di depan rumahnya di temani suci.
Bu Arum mengerti sekali jika sindiran itu ditujukan untuknya.
Batin Bu Arum kembali terkoyak setelah beberapa saat terluka kembali dengan kedatangan Malika dan Nico untuk meninggalkannya.
Dan sekarang, sindiran dan hinaan dari para tetangga akan siap menerpa batinnya kembali.
"Apa salah Dan dosaku ya Allah, kau uji aku dengan semua ini, berilah petunjuk untuk anakku, sadarkan lah dia, dan bawalah dia kembali pada pelukanku"
Tangis hati Bu Arum dalam doa nya kepada sang pencinta.
Suci ikut sedih dengan semua yang terjadi pada Bu Arum, dia merasakan sakit hati yang di rasanya, karena bagaimana pun, suci sudah menganggap Bu Arum seperti ibu kandungnya sendiri, dan Malika sudah seperti saudaranya juga, darah yang kini mengalir di tubuh Suci membuatnya ikut terhubung diantara mereka.
" Tenang Bu, yang sabar ya, mungkin sekarang tuhan sedang menguji iman dan kesabaran kita, ibu harus cepat sembuh, ibu harus kembali sehat"
Pesan Suci pada Bu Arum.
Bu Arum hanya diam dan mendengarkan semua yang dikatakan Suci padanya, dia tidak menyangka jika Suci bisa berkata seperti itu padanya.
Suci menjelma sebagai anak nya sendiri, dengan sebelah tangannya yang masih bisa di gerakkan, Bu Arum pun memeluk Suci.
Keduanya pun saling menenangkan satu sama lain.
***
Di rumah Nico, Malika masih sedih dan merasa bersalah pada ibunya, momen malam pertama setelah pernikahan yang seharusnya bahagia seperti yang selalu dia bayangkan, ternyata jauh dari kata indah.
Hatinya yang selalu gelisah membuat mal pertama Malika tidak dia nikmati dengan sepenuh hati.
"Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? Sekarang kita sudah menikah"
Kata Nico memulai kebisuan mereka di dalam kamar.
"Aku masih memikirkan ibu co, aku tidak tega meninggalkan ibu sendirian di rumah, apalagi ibu sedang sakit"
__ADS_1
Raut wajah Malika terlihat sangat menghawatirkan ibunya.
Dengan raut wajah yang tenang, Nico coba membuat Malika tidak sedih dan memikirkan ibunya lagi.
Nico meminta Malika untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu, sedangkan dia akan menyiapkan makan malam yang spesial untuknya.
Malika pun tersenyum dan menuruti permintaan suaminya itu.
Saat Malika berdiri dan hendak menuju kamar mandi, Nico menarik tangannya dan memeluknya.
"I love u"
Bisik cinta Nico di telinga Malika yang membuatnya merasa aneh.
Malika pun melepaskan pelukannya secara perlahan agar Nico tidak tersinggung.
"I love u to "
Jawab Malika dengan menatap wajah suaminya yang tampan itu.
Keduanya pun tersenyum.
Di rumah hanya ada mereka berdua, Bu Ratna dan kedua anaknya sengaja menepi tinggal di rumah saudaranya yang lain untuk sementara karena tidak ingin mengganggu malam pertama Malika dan Nico.
Dengan memakai baju handuk berwarna hitam, Malika terlihat sangat cantik dan seksi, Nico terpana melihat kecantikan istrinya itu.
Rambut yang basah terurai membuatnya semakin tidak bisa memalingkan pandangannya pada keseksian Malika yang menggairahkan.
Dan itu sungguh menjadi pemandangan indah pertama Nico melihat Malika.
Nico yang saat itu sudah menunggu Malika di meja makan langsung memanggilnya,
Diatas meja, sudah tersaji dua piring spaghetti buatan Nico, meski Nico pemarah dan tidak terlihat suka bermain di dapur, pada faktanya untuk urusan masak memasak dia cukup bisa diandalkan.
Nico menarik tangan Malika dan menyuruhnya duduk di kursi.
"Sebentar co, biar aku pakai baju dulu"
"Sudah, nanti saja, sekarang kita makan dulu, oke"
Malika pun tidak bisa menolak permintaan suaminya itu.
Akhirnya keduanya pun duduk makan romantis berdua meski hanya dengan spaghetti.
" Maafkan aku, tidak ada menu yang istimewa untuk malam pertama kita?"
Nico meminta maaf pada Malika karena di mal pertamanya, tidak ada hal yang istimewa ataupun spesial yang bisa dia berikan.
__ADS_1
Nico juga hanya memberi Malika mahar seadanya, seperangkat alat solat dan 10 gram emas yang bisa dia berikan untuk Malika.
Malika menerima semua yang Nico berikan padanya, sebagai wanita yang baik, dia tidak ingin memberatkan Nico dengan mahar uang harus besar, Malika meminta mahar semampu Nico.
"Bagaimana masakan ku?"
Tanya Nico.
"Masakan kamu enak co"
Jawab Malika dengan mengusap sisa bumbu di bibirnya dengan tissue, dia memang menikmati masakan Nico yang cukup lezat menurutnya.
"Setelah ini kita ... "
Nico seakan sungkan dan malu untuk berkata pada Malika jika dia ingin bermain cinta dengannya.
"Kita apa?, Oh ya aku pakai baju dulu ya, "
Malika berdiri dan hendak menuju kamar untuk memakai pakaian tidurnya.
Malika yang polos tidak paham dengan maksud Nico yang meminta jatah malam pertamanya.
Akhirnya Malika pun masuk kedalam kamar dan membuka lemari pakaian Nico.
Saat membuka lemari, Malika kembali teringat akan sang ibu yang selalu memilihkan pakaian untuk dia kenakan jika sedang ada waktu luang,
Bu Arum selalu memilihkan pakaian tidur Malika yang tertutup dan longgar agar Malika bisa bebas bergerak ketika tidur.
Saat pikirannya melayang teringat akan sang ibu, pelukan Nico dari belakang membuatnya terhenyak dan terkejut.
"Astaga Nico, kau mengagetkan ku"
Malika sangat terkejut dengan pelukan Nico.
"Ini malam pertama kita Malika"
Nico coba mengingatkan istrinya itu, namun Malika yang saat itu msih belum berhasrat untuk bermain karena segudang beban pikirannya coba menghindar dari Nico. Namun Malika tidak berani untuk mengungkapkan isi pikirannya karena takut Nico tersinggung.
Perlahan Malika melepaskan pelukannya.
Namun Nico ternyata lebih pandai dari Malika.
Dia tahu jika saat ini Malika masih belum tergoda pada dirinya.
Akhirnya dengan sengaja Nico membalikkan tubuh Malika dan mendorongnya ke sisi tembok,
Kini keduanya saling berhadapan, jantung Malika pun mulai berdegup kencang kala dia merasakan napas Nico berada dekat dengan napasnya.
__ADS_1
Malika menatap wajah Nico yang manja kepadanya, Nico berkata jika dirinya ingin sekali menikmati mal pertama mereka dengan semua keindahan yang seharusnya mereka rasakan.
Malika pun tersenyum dan langsung mencium suaminya itu.