
"jangan usir Malika Bu jangan .."
Malika terus berteriak untuk tidak di usir sang ibu dalam tidurnya.
Teriakannya pun terdengar oleh Bu Arum dari bawah,karena panik Bu Arum pun mendatangi dan coba membangunkan Malika yang terus mengigau.
"Malika nak,bangunlah hei bangun"
Bu Arum terus membangunkan Malika hingga akhirnya Malika pun terbangun.
"Astagfirullah ..ibu"
Saat melihat sang ibu berada tepat di hadapannya,Malika langsung memeluk nya erat,
"Maafkan Malika Bu,maafkan Malika"
Malika menangis di pelukan Bu Arum dan meminta maaf.
Bu Arum pun mengerti,mungkin Malika terlalu memikirkan kejadian kemarin hingga sampai terbawa mimpi.
"Sudah nak,sudahlah jangan kamu pikirkan lagi,ibu sudah tidak marah sama kamu,ibu sangat menyayangimu"
Jawaban Bu Arum membuat Malika semakin merasa bersalah untuk semua yang terjadi padanya.
Pagi harinya seperti biasa,Malika bersiap untuk bekerja,
Satu pesan masuk di ponsel nya.
Nico mengirim pesan selamat pagi dan meminta untuk mengantar Malika ke kantornya.
"Aku ingin Nico antar,tapi bagaimana jika ibu tahu?"
Pikir Malika.
Setelah bersiap Malika pun segera berangkat,dia pamit pada sang ibu dengan langkah yang masih sedikit terasa perih.
"Malika pamit ya Bu"
"Hati-hati di jalan sayang,jaga dirimu baik-baik"
Bu Arum memeluk Malika sebelum berangkat kerja.
Malika pun meminta Nico untuk menjemputnya di pertigaan jalan,
Dan ternyata Nico sudah menunggunya disana.
Malika merasa senang karena Nico kembali menjemput dan mengantarnya,seperti masa sekolah dulu .
Dan masih dengan motornya yang sama,
Motor Vespa berwarna abu kesayangannya.
Senyum Malika yang terpancar dari jauh membuat Nico membalas senyumnya dengan penuh cinta.
"Kamu sudah lama menunggu ya?"
Tanya Malika pada Nico.
Nico pun mengatakan jika dirinya belum terlalu lama menunggu,Malika pun naik ke motor nya dengan mengenakan helm yang sama saat masih sekolah dulu.
__ADS_1
"Melihat motor mu ini,aku jadi teringat akan masa sekolah kita dulu ya"
Ucap Malika memulai perbincangan di pertengahan jalan mereka.
Nico pun ikut terbawa suasana mengingat masa kebersamaan mereka dulu.
Masa kebersamaan mereka yang sangat indah,masa dimana Bu Arum begitu sangat dekat dengan Nico.
"Tapi aku heran sama ibu,dulu kalian dekat kan?tapi kenapa sekarang ini terlihat sangat benci sama kamu ?"
Pertanyaan Malika membuat Nico ingat pada cerita Tiara yang menyatakan jika Bu Arum tidak akan pernah merestui hubungan mereka karena Nico adlah anak dari Gunawan,pembunuh ayahnya Malika.
Malika coba membelokkan perbincangan mereka,karena dia tidak mau jika Malika sampai mengetahui semuanya.
"Maafkan aku sayang"
Ucap hati Nico meminta maaf pada Malika.
Mereka pun akhirnya tiba di depan kantor Mahardika grup,
"Kamu kerja yang rajin ya,nanti aku jemput lagi"
Ucap Nico pada Malika.
Dengan senang hati Malika senang jika Nico akan menjemputnya nanti.
"Baiklah kalau begitu aku masuk dulu ya"
"Bye"
Keduanya saling memberi senyum mereka yang manis,entah kenapa setelah ritual mereka terjadi,Nico merasa semakin dekat dengan Malika,dia merasa jika Malika sudah menjadi bagian dari hidupnya yang nyata.
Begitupun dengan Malika,diapun merasakan hal yang sama dengan Nico,
Perasaan apa ini sebenarnya? Mengapa mereka seakan sudah merasa saling memiliki satu sama lain,sehingga mereka tidak ingin lepas ataupun menjauh.
Di dalam kantor,Malika melihat Nico di balik kaca,dia pun kembali tersenyum padanya,
"Kenapa aku merasa aneh ya,seakan seperti remaja kemarin sore yang sedang berbunga-bunga,hihi"
Ucap Malika saat melepas kepergian Nico dari pandangannya.
Malika tersenyum sumringah,
Karyawan lain melihat Malika dengan tatapan aneh,
Diapun berpikir mengapa mereka menatapnya seperti itu,apa ada yang salah dengan dirinya.
Malika pun coba melihat dirinya sendiri di cermin.
"Apa make up ku terlalu tebal,atau rambutku kusut,tidak ...tapi kenapa mereka melihatku seperti itu?"
Ucap Malika di depan cermin.
"Kamu terlihat sangat cantik sekali pagi ini ka"
Ucap Sherli dari belakang tersenyum padanya.
"Ah ka Sherli bisa saja,"
__ADS_1
"Ya,pasti kamu bertanya mengapa mereka memperhatikanmu seperti itu kan? Ya memang pagi ini kamu terlihat sangat bahagia,senyuman mu membuat rona di wajahmu bermekaran hihi"
Jawab ka Sherli dengan sedikit meledeknya.
Keduanya pun tertawa,
Sherli menanyakan tentang pekerjaannya pada Malika, pekerjaan yang belum sempat Keenan selesaikan dulu saat bersamanya.
"Oh ya Malika,berkas proyek pak Keenan yang masih belum selesai ada sama kamu kan,tolong kamu revisi kembali dan berikan pada pak Mahardika di ruangannya ya"
Ucap Sherli meminta Malika untuk membereskan tugasnya.
"Ada ka,baiklah segera aku kerjakan dulu sekarang,nanti aku berikan pada pak Mahardika."
Dengan segera,Malika pun menyelesaikan tugas yang diberikan Sherli padanya.
Dia mulai membuka berkas Keenan yang belum selesai,
Alangkah terkejutnya Malika melihat sampel undangan pernikahan dirinya bersama Keenan terselip di berkas tersebut.
"Ini, jadi pak Keenan"
Malika teringat akan Keenan,
Dia tidak menyangka jika Keenan memang serius dan benar-benar mencintainya,namun kini Maika harus merelakan Keenan pergi dan kembali pada Kartika,meski sejujurnya di hati kecilnya memang sudah tumbuh cinta untuk Keenan.
"Maafkan aku pak Keenan,kau sangat baik sekali padaku,semoga kau baik-baik disana,dan berbahagia bersama Kartika"
Harap Malika akan Keenan.
Malika pun merasa tidak boleh berlarut dalam kesedihannya akan kenangan Keenan,dia pun segera menyelesaikan berkas dan memberikannya pada pak Mahardika.
Setelah selesai,Malika langsung pergi ke ruangannya,
Dia mengetuk pintu dan berucap salam ijin masuk ruangan dengan sopan pada pak Mahardika.
"Salam pak,bisa saya masuk?"
"Oh ya,masuklah nak,"
Pak Mahardika terlihat sangat hangat menyambut kedatangan Malika ke ruangannya.
"Duduklah"
Diapun meminta Malika untuk duduk di kursi depan meja kantornya.
Malika merasa terhormat dan di hargai kala pak Mahardika selaku CEO utama Mahardika grup menyuruhnya untuk duduk di depannya.
Dia pun duduk meski di hatinya merasa msih tidak percaya,karena jarang sekali pak Mahardika menyuruh staf karyawan nya untuk duduk di depannya.
"Saya banyak mendengar tentang kamu dari cucu saya,kamu adalah gadis yang baik dan sopan,kamu juga cantik dan berwibawa,pantas saja cucu saya jatuh hati padamu"
Malika tersipu malu kala pak Mahardika memujinya terlalu berlebihan.
"Terimakasih atas semua pujiannya pak,sudah tanggung jawab saya untuk bersikap baik pada siapapun termasuk cucu bapak,"
Pak Mahardika juga berterimakasih karena dulu Malika sempat mendonorkan darahnya untuk Suci saat operasi.
"Mungkin kebaikanmu tidak akan pernah terbalaskan meski dengan apapun,tapi sebagai rasa terimakasih saya akan semua kebaikanmu dan orangtuamu pada keluarga bapak,ijin kan bapak untuk menaikan jabatan kamu ya "
__ADS_1
Ucap pak mahardika mengapresiasi kebaikan malika pada keluarganya dengan menghadiahkan jabatan yang baru dan tentunya dengan gaji yang lebih besar lagi.