Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Tergoda untuk yang kedua kali


__ADS_3

Nico pun terpaksa haru mengalah pada Clara, karena dia sangat licik dan berbahaya untuk Nico,


Clara bisa menghancurkan rumah tangganya bersama Malika, dan itu tidak akan pernah Nico biarkan.


Nico pun kemudian berlalu dari ruangan Clara dengan raut wajah yang penuh dengan amarah padanya.


Nico tidak menyangka jika dirinya akan terjebak diantara sikap Clara yang jauh lebih nekad dari sebelumnya kepadanya.


Dalam hati Nico berpikir, apakah mungkin dia harus pergi dari kota ini untuk menghindari Clara agar rumah tangganya tidak dia usik?


"Ah sial, kenapa semua ini terjadi padaku?"


Tanya Nico dalam kemarahan kepada sang pencipta, dia merasa bingung mengapa kehidupannya seakan tiada luput dari cobaan dan ujian.


Dalam keadaan yang penuh akan amarah, Nico pun melanjutkan pekerjaan, dengan sesekali tatapan genit Clara selalu mengintainya, dan itu sungguh membuatnya sangat tidak nyaman.


...


Hari demi hari telah terlewati, Minggu demi Minggu semakin maju seiring berjalannya waktu, kini Zidan sudah berusia satu bulan, kehidupan keduanya juga masih dikatakan cukup aman, Nico masih bisa menahan kesabarannya menghadapi bayi Zidan yang rewel dan suka menangis.


Namun suatu hari saat Nico hendak bersiap berangkat kerja, di meja masih belum ada makanan, Nico pergi ke kamar dia lihat Malika masih sibuk mengurus bayinya.


"Belum ada sarapan ya sayang?"


Tanya Nico masih bersikap baik,


Malika menjawab jika dirinya tidak sempat membeli beras kemarin jadi dia belum membuat sarapan untuk Nico.


"Kenapa kamu tidak ngomong, aku sudah beri kamu jatah belanja kan?"


Malika mengatakan jika jatah yang diberikan Nico hanya cukup untuk membeli susu dan popok Zidan.


"Maafkan aku mas, tapi yang yang kamu beri kemarin tidak cukup untuk membeli beras, uangnya kurang, "


Malika berdiri menggendong Zidan sambil memberikan struk belanjaan nya pada Nico yang hanya membeli susu dan popok bayinya saja.


Perasaan Nico mulai memanas, rasanya dia tidak sanggup jika harus terus seperti ini,


"Ah, sudahlah aku pusing, aku tidak ingin lebih pusing lagi dengan memikirkan semua ini"


Dengan nada kesal, Nico pergi meninggalkan Malika dalam keadaan perutnya yang kosong.


Untuk kesekian kalinya hanya karena tidak ada sarapan, Nico pergi meninggalkan Malika, namun kali ini perkara ditambah jatah belanja dari Nico yang jadi permasalahannya.


Gaji Nico di bengkel tidak sebesar gaji Malika saat bekerja di kantor dulu, namun meskipun begitu, Malika tetap menerima berapapun yang Nico berikan padanya, meski harus putar otak untuk mengatur uang yang sedikit namun kebutuhan yang besar, rasanya Malika ingin sekali membantu keuangan Nico dengan kembali bekerja, tapi bagaimana dengan Zidan.


Pikirnya


"Sudahlah untuk saat ini mungkin aku memang harus bersabar dengan keadaan ini"


Ucap Malika kala menyadari keadaanya sekarang.


Tampilan Malika pun kini tidak rapih seperti dulu, kini pakaiannya selalu lusuh dan nampak tidak menggairahkan di mata Nico.


***


Ditempat kerja, Nico menceritakan semuanya pada Andre sahabatnya, dia mengeluhkan semua kekesalannya pada Malika dan penampilan istrinya yang semakin hari semakin tidak menarik.


"Rasanya aku kesal dan bosan melihat istriku yang semakin hari nampak lusuh, dia juga hanya sibuk mengurus bayinya, sedangkan dia tidak bisa berperan aktif mengurus aku sebagai suaminya".


Curahan Nico pada Andre.


Andre pun hanya tersenyum mendengar semua keluhan sahabatnya itu,


"Sesekali pergilah keluar untuk mencuci matamu agar kembali fresh, haha"


Jawab Andre justru menyuruh Nico untuk mencari kesenangan di luar.


Dan nampaknya saran Andrea di anggap serius oleh Nico.


"Benar juga kamu ya, kapan-kapan ajak aku jika kamu mau keluar, oke"


Andre pun mengatakan kenapa dia tidak pergi saja dengan Clara, bukankah dia sangat tergila-gila padanya.


Nico pun hanya terdiam.


Kemudian mereka kembali bekerja setelah ada dia mobil yang rusak datang ke bengkel.


...


Di dalam rumah, Malika masih disibukan dengan pekerjaan rumahnya, disaat Zidan terlelap, Malika coba membereskan rumah dan dapur, dia juga mencuci pakaian suami dan anaknya secara manual, pekerjaan rumah Malika tidak ada hentinya.


Saat dia hendak memasak, Malika bingung akan memasak apa, sedangkan di dapurnya tidak ada bahan apapun, sebutir beras pun tidak ada.


"Astaga apa yang harus aku lakukan?"


Malika coba berpikir keras disaat perutnya keroncongan.

__ADS_1


Malika pun coba pergi keluar dan melihat Bu Marni sedang menyiram tanamannya.


Walau dirasa malu, Malika memberanikan diri untuk meminjam uang pada Bu Marni untuk membeli beras, meski dia tidak yakin sepenuhnya jika Bu Marni mempunyai uang untuk dia pinjamkan padanya, tapi Malika tetap akan mencobanya.


Dengan perasaan yang gugup Malika coba menyapa Bu Marni yang sendirian,


"Bu Marni, apa bisa bicara sebentar".


Ucap Malika dengan perasaannya yang malu, karena ini kali pertama dia hendak meminjam uang pada orang asing.


Bu Marni yang melihat Malika terlihat seperti kesusahan pun langsung menghentikan aktifitasnya dan menghampiri Malika.


Dia bertanya ada apa? Dan mengapa Malika terlihat sangat khawatir?


"Sebenarnya saya ingin meminjam uang sama Bu Marni, sebentar saja Bu tidak akan lama jika Bu Marni ada?"


Ucap Malika pada Bu Marni.


Sebagai orangtua, Bu Marni pun tidak tega melihat Malika yang terlihat sangat sedih.


Bu Marni pun bertanya untuk apa Malika meminjam uang, karena tidak biasanya dia datang pada Bu Marni hanya untuk meminjam uang, bisanya Malika selalu memberi makanan apapun yang dia miliki pada Bu Mari.


Mendengar semua cerita Malika, Bu Marni ikut sedih dengan keseharian dirinya setelah ada Zidan.


"Yang sabar ya nak, Nico mungkin begitu karena belum terbiasa, tapi yakinlah, dia pasti sangat menyayangi kalian berdua"


Ucap Bu Marni coba Menenangkan Malika.


Tidak lupa beliau memberi Malika 5kg beras dan uang seratus ribu dan itu membuat Malika terharu.


Malika pun berterimakasih dan segera pulang untuk memasak, Malika hendak menyiapkan makanan untuk Nico istirahat.


Tak lupa Malika chat Nico terlebih dahulu untuk pulang jika istirahat karena dia sudah menyiapkan makanan siang untuknya.


"Mas, aku sudah masak makanan kesukaan kamu, jika istirahat pulang dulu ya"


Chat Malika kepada Nico yang hanya centang biru saja tanpa Nico balas.


Nico yang terlanjur kesal, malas rasanya bertemu dengan Malika.


Nico pun kembali bekerja tanpa membalas pesan Malika.


"Kenapa mas Nico tidak membalas pesanku ya?"


Tanya hati Malika.


Malika pun segera menggendong dan menyusuinya.


"Zidan sudah bangun ya? "


Tanya Malika pada Zidan dengan senyum bahagianya memiliki bayi istimewa seperti Zidan.


Zidan pun terdiam dan sesekali tersenyum melihat sang ibu.


Hingga akhirnya jam istirahat pun tiba, Malika bergegas menyiapkan semuanya menunggu Nico pulang.


"Mama beres beres dulu ya nak, mama mau nyiapin makanan buat papa kamu"


Dengan senyumnya yang manis, Malika coba mengajak Zidan bicara.


Selang 20 menit, Nico tak kunjung datang, Malika pun mulai resah, dia berpikir apakah Nico masih marah padanya karena akhir-akhir ini dia tidak bisa melayaninya dengan sepenuh hati.


"Kamu kemana co? Ayo pulanglah aku sudah siapkan semuanya untuk kamu?"


Sesekali Malika coba hubungi Nico, namun tak kunjung ada balasan.


Akhirnya Malika pun memutuskan untuk mengantarkan makanan siangnya ke tempat kerja Nico dengan membawa Zidan yang masih bayi.


Malika bersiap dengan polesan riasan yang tipis natural namun terlihat sangat cantik.


Pada saat Malika mengunci pintu, Bu Marni memanggilnya dan bertanya hendak kemana dia dengan membawa Zidan yang masih bayi?


Malika pun menjelaskan semua tujuannya pada Bu Marni.


Bu Marni yang khawatir jika Zidan yang masih bayi kenapa apa melarang Malika membawa Zidan bersamanya.


"Biar Zidan bersama ibu, kamu pergilah sendiri, kasihan Zidan, dia masih bayi belum genap 40 hari, angin diluar sangatlah tidak baik untuknya"


Ucap Bu Marni pada Malika.


Malika pun menitipkan Zidan bersama Bu Marni dan berterimakasih padanya.


"Baiklah Bu, Malika titip Zidan sebentar ya Malika tidak akan lama kok, Malika hanya mengantarkan makanan ini saja untuk mas Nico"


Pamit Malika pada Bu Marni.


Dengan segera Malika pun berangkat menuju tempat kerja Nico, namun tak kunjung ada satu taksi pun yang lewat.

__ADS_1


Malika terus melihat jam di tangannya, dia takut akan terlambat mengantarkan makanan untuk suami tercintanya itu.


Akhirnya Malika pun pesan ojek online dan akhirnya dia bisa berangkat, di pertengahan jalan ternyata motor yang dia tumpangi mengalami pecah ban hingga Malika dan si pengendara terjatuh.


"Astaga maaf mbak? Mbak tidak apa-apa kan?"


Tanya si tukang ojek yang melihat Malika terjatuh dengan wadah makanan yang berantakan.


" Yah mas gimana ini, makanan saya jadi berantakan?"


Malika menggerutu tapi dia juga tidak bisa menyalahkan tukang ojek, karena ini memang musibah.


Malika pun bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang, sementara untuk ongkos saja hanya tinggal 50 ribu.


"Maafkan saya mbak, saya tidak check dulu keadaan motor saya, sekali lagi saya minta maaf?"


Malika pun tidak memperpanjang masalah ini, karena semua sudah terjadi,


"Lain kali jangan sampai terulang lagi ya pak, kasihan nanti penumpangnya, ini ongkos saya sampai disini?"


"Tidak usah mbak, ini kesalahan saya, mbak tidak usah membayar saya,"


Si tukang ojek pun menolak uang dari Malika,


Malika terdiam, dia ingin sekali membayar bapak tukang ojek, tapi melihat keadaannya sekarang, dia juga sangat membutuhkan uang terakhirnya itu.


Dan akhirnya Malika pun membawa kembali uangnya,


"Untunglah jarak dari sini ke tempat kerja mas Nico sudah tidak terlalu jauh, biar aku jalan kaki saja lah".


Dengan membawa wadah makanan yang sedikit berantakan Malika berjalan menuju tempat kerja Nico.


Cuaca Jakarta yang terik di siang hari membuat Malika berkeringat, dia nampak sangat lusuh karena keringatnya itu.


Namun meskipun begitu, Malika tetap berusaha berjalan kaki menuju Nico.


Hingga akhirnya Malika pun sampai di bengkel,


Saat masuk kedalam, keadaan sangat sepi, Malika pun sejenak duduk sambil mencari keberadaan Nico di setiap sudut. Keringat yang bercucuran dan rasa pegal di kaki yang menjadi bukti pengorbanannya seketika hilang jika teringat akan senyum suaminya yang bahagia jika dia sampai tahu istrinya datang mengantarkan makanan untuknya.


"Tapi Mas Nico dimana ya?"


Dia coba menghubungi Nico, namun tidak ada jawaban.


Malika pun semakin masuk kedalam, tepat di ruangan administrasi, Malika mendengar ada seseorang yang sedang asyik bicara didalam, Malika berniat hendak menanyakan keberadaan Nico pada mereka.


Melihat pintu ruangan sedikit terbuka, Malika pun coba membuka pintu dan hendak menanyakan keberadaan suaminya itu pada sang administrator,


Namun betapa terkejutnya dia saat membuka pintu ruangan itu.


Air mata Malika seketika mengalir deras melihat pemandangan yang ada dihadapannya, suara Malika seakan tertahan untuk berteriak memanggil orang yang dia cintai sedang bercumbu dengan wanita lain di depan matanya.



Malika menyaksikan sendiri Nico sedang mencium bibir Clara dengan pelukannya yang romantis.


Seketika Hatinya hancur berkeping keping melihat pria yang sangat dia cintai, ayah dari anaknya yang baru dia lahir kan sedang bermain cinta dengan perempuan lain di depan matanya sendiri.


Wadah makanan yang jatuh pun membuat keduanya tersadar dari permainan apinya.


Nico sangat terkejut melihat Malika ada di depan pintu dan menyaksikan permainan gilanya bersama Clara.


BERSAMBUNG...


MAU TAU KESERUAN LANJUTAN CERITANYA SIMAK TERUS KESETIAANKU KEBODOHANKU SEASON 2 SEGERA HADIR HANYA DI NOVELTOON


Terima kasih untuk semua reader yang selalu stay menunggu up dan memberi like komentarnya, semoga menjadi kebaikan yang berlipat ganda 🤲


Mohon maaf masih banyak kekurangan dalam penulisannya.🙏🏻


Dan semoga tulisan saya menghibur semuanya🤲


Untuk menunggu season 2 ayo simak cerita MAHERR QIRANI yang lain ya jangan lupa tunggu kelanjutan ceritanya.



- Akhir sujud Maryam


- Dendam sang anak mafia


- Air mata cinta Dara


- Madina bukan anak haram


- Tergoda cinta dunia Maya


- Jingga untuk Pelangi

__ADS_1


happy reading 🥰🥰


__ADS_2