
Hari pernikahan pun tinggal menghitung hari,Malika sangat tidak sabar menunggu hari bahagianya itu tiba,begitupun dengan Keenan.
Hingga akhirnya hari itupun tiba,Bu Arum menangis haru bahagia karena akan segera melepaskan anak gadis satu-satunya itu untuk menata hidupnya yang baru.
Dengan gaun putih berhiaskan emas permata Malika terlihat sangat cantik dan anggun,hiasan bunga melati di kepalanya membuat rona wajahnya semakin terpancar indah bak bidadari.
"Kau sangat cantik sekali nak"
Ucap Bu Arum memuji kecantikan Malika,
"Andai ayahmu masih ada,dia pasti akan sangat bahagia melihat anaknya akan menikah"
Lanjut Bu Arum.
Malika pun memeluk Bu Arum dan mengucapkan terimakasih untuk semua kasih sayang yang telah Bu Arum limpahkan selama ini untuknya,kasih sayang yang mungkin tidak akan pernah Malika balas dengan apapun itu.
"Ibu hanya bisa mendoakan kamu supaya kamu bisa hidup bahagia dengan suamimu nanti,bisa menjadi istri yang baik dan Solehah untuk anak-anakmu nanti"
Doa Bu Arum sangat tulus dirasa Malika hingga dia tak kuasa menahan air mata karena sebentar lagi dia akan meninggalkan ibunya dan ikut bersama suaminya.
Keenan pun sudah menunggu Malika di pelaminan,Bu Arum berdiri di samping Malika mengantarkannya pada Keenan untuk ijab Qabul.
Suasana begitu Hidmat dan terlihat rona bahagia di setiap pasang wajah yang datang pada acara pernikahan mereka.
Keenan pun terlihat sangat gagah dan semakin tampan dengan jas putih hitam yang dia pakai,suci dan Alana mendampingi Keenan di sampingnya,hingga Malika pun tiba di pelaminan.
Keenan sangat terpukau melihat kecantikan calon istrinya itu,dia tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Malika.
Senyum Keenan begitu manis dan terlihat sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan menikahi Malika dan menjadi suaminya.
Malika pun membalas senyuman Keenan,mereka kini duduk bersebelahan menghadap penghulu.
Suasana pun semakin terasa sakral kala penghulu menanyakan wali untuk Malika.
"Siapa wali untuk perempuan yang akan mewakilkan?"
Tanya penghulu pada Bu Arum,Malika pun teringat akan sosok ayahnya,dalam hatinya dia berandai jika saja ayahnya masih ada,mungkin saat ini dia akan merasa bahagia karena akan menikahkan anaknya dan manjadi walinya.
Bu Arum pun membayangkan hal yang sama dengan Malika,
"Pak ustad yang akan menjadi wali Malika pak penghulu"
Bu Arum menunjuk salah satu ustad yang ada di sebelah Keenan.
"Baiklah kalau begitu,bisa kita mulai pernikahannya ya"
Ucap pak penghulu yang akan segera memulai ijab Qabul mereka.
Dengan mengucap kata bissmillah,penghulu pun memulai ijab Qabul Malika dan Keenan,
Suasana mulai terasa hangat,semua terbuai masuk dalam akad yang akan segera berlangsung.
"Bismillahirrahmanirrahim saya nikahkan ananda Keenan bin putra Mahardika dengan Malika bin Suherman dengan maskawin..."
__ADS_1
"Berhenti ...dor "
Satu tembakan melayang ke udara dengan bersamanya teriakan seorang pria menghentikan ijab Qabul yang akan segera berlangsung,semua pun melihat ke arah teriakan.
"Nico"
Semua menyebut nama pria itu,pria yang terlihat sangat marah akan pernikahan Malika dan Keenan,Nico berdiri dengan tatapan penuh amarah dengan pistol di tangannya.
Nico berjalan menuju Malika dan Keenan,semua merasa takut akan pistol yang dibawa Nico akan menjatuhkan korban jiwa.
Nico semakin dekat.
"Hentikan semua ini,"
Ucap Nico mengancam pak penghulu,semuanya berteriak ketakutan,semua tamu berlarian keluar acara untuk menyelamatkan diri dari amarah Nico.
Keenan dan Malika sangat terkejut dengan kedatangan Nico yang sangat marah akan pernikahan mereka.
Keenan coba menghadang Nico untuk tidak mencelakai peak penghulu.
"Lepaskan pistol itu Nico,lepaskan"
Ucap Keenan.
"Diam kau Keenan,kau sendiri yang telah merebut Malika dariku,aku tidak akan pernah mengampuni kamu"
Nico mendorong Keenan hingga terjatuh,Nico pun mengarahkan pistolnya pada Keenan,hingga disaat pelatuk di pistolnya itu mendarat dan
"Dor..."
Tembakan Nico berhasil mendarat di jantung dada Malika saat dia hendak melindungi Keenan dan amukan pelatuk pistol Nico.
Malika berhasil melindungi Keenan meski nyawanya tidak bisa tertolong.semua berteriak histeris melihat malika jatuh bersimbah darah karena kerasnya peluru menghujam jantungnya.
Sekejap Malika menatap kosong ke arah Nico tanpa sepatah kata pun.nico pun terkejut karena peluru nya mendarat di dada Malika.
"Tidak..."
Teriak Nico kala tersadar dari mimpi di siang bolong nya.
"Apa apaan ini,mengapa aku bisa mimpi buruk seperti itu"
Napas Nico terasa sangat berat,keringatnya pun bercucuran.
Perasaannya sangat tidak baik,dia teringat akan Malika,dengan segera dia coba menghubunginya dan ternyata Malika tidak bisa dia hubungi.
"Ada apa ini mengapa dari kemarin dia tidak bisa aku hubungi "
Nico bertanya-tanya mengapa Malika sangat sulit untuk dia hubungi.
Nafasnya masih belum bisa dia atur,hingga Clara pun datang.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
Tanya Clara yang terlihat cemas dengan keadaan Nico yang tidak baik-baik saja.
Nico pun menceritakan jika dirinya hanya mimpi buruk,Nico menyuruh Clara untuk tidak mengkhawatirkan nya.
"Kalau begitu,kau turunlah,bos besar memanggil kita untuk berkumpul di bawah"
Ucap Clara menyuruh Nico untuk segera turun ke bawah dan berkumpul bersama yang lainnya untuk menyambut kedatangan bos besar mereka.
"Ya sebentar lagi aku ke bawah"
Entahlah setiap Nico hendak menghubungi Malika,selalu saja ada halangan.
"Biar nanti aku coba lagi untuk menghubunginya"
Pikir Nico menyimpan ponselnya dan langsung turun berkumpul dengan yang lainnya.
***
"Malika masih harus mendapatkan perawatan yang serius,karena luka di kepalanya begitu parah,jadi dia masih belum bisa pulang "
Ucap dokter pada Bu Arum.
Keenan pun meminta dokter untuk merawat Malika di rumah,Keenan meminta suster untuk selalu merawatnya setiap waktu,karena Keenan menghawatirkan kondisi Bu Arum jika setiap hari dia selalu berada di rumah sakit,Malika pun juga memang sudah ingin pulang ke rumahnya.
Dokter pun menyetujui permintaan Keenan,dokter menyarankan seorang suster yang ahli untuk merawat Malika selama pemulihan di rumahnya.
"Terimakasih dokter".
Ucap Keenan berterimakasih pada dokter.
"Terimakasih nak Keenan,jika tidak ada nak Keenan entahlah,mungkin ibu sendirian disini"
Bu Arum pun berterimakasih pada Keenan untuk semua perhatiannya pada dirinya dan Malika.
Dan semua itu membuat Bu Arum semakin yakin jika Keenan adalah pria yang tepat untuk anaknya.
"Kalau begitu ibu pergi dulu ke bagian adminstrasi untuk menyelesaikan administrasi malika "
Bu Arum hendak pergi ke administrasi.
"Tidak usah Bu,sekretaris saya sudah mengurus semuanya,Malika itu asisten saya ,jadi sudah seharusnya semua biaya Malika di tanggung,Bu Arum jangan banyak berpikir ya,nanti ibu sakit,kasihan Malika,"
Jawab Keenan.
**hai reader semua..
spesial di efisode 61,maheer qirani mau kasih bocoran nih...
maheer qirani mau bagi-bagi hadiah bagi reader yang paling banyak like dan koment di setiap bab,
Di akhir efisode nanti akan di umumkan siapa pemenangnya..
yuk simak terus ceritanya.
__ADS_1
jangan lupa bagi like komentar vote dan gift sebanyak-banyaknya ya..
happy reading**