
Malika yang mengetahui ayahnya sudah tiada coba mengajak ibunya untuk ziarah ke makam ayahnya,dia ingin sekali pergi ke makam ayahnya.
"Tapi kamu baru saja pulang dari rumah sakit loh"
Tanya Bu Arum mencemaskan kondisi Malika yang masih terlihat lemah,namun Malika memaksa,Bu Arum pun tidak bisa menolaknya.
Suci dan Alana pun pamit pulang,mereka sangat bahagia karena malika sudah kembali pulang meski harus di dampingi suster untuk pengobatan jalannya.
"Suster,anak saya ingin pergi ke makam ayahnya,apa anak saya tidak akan kenapa-napa ?
Tanya bu Arum sebelum berangkat,
Suster pun mengijinkan asal Malika masih dalam pengawasannya dan tidak banyak dulu melakukan aktifitas yang berat.
"Baiklah kalau begitu,ibu bersiap sebentar nak"
Bu Arum pun segera bergegas.
Malika yang masih terdiam melihat seisi rumah dengan dalamnya,berharap ada sedikit ingatannya muncul akan rumah ini.
"Ya Allah mengapa semua terjadi padaku,apa salahku?"
Ujar hati Malika yang meratapi dirinya tidak bisa mengingat apapun tentang rumah,keluarga,dan semuanya.
Bu Arum pun sudah siap,mereka pun berangkat menuju makam sang ayah tercinta yang sudah tiada.
Di persimpangan lampu merah saat taksi mereka berhenti,
Lidya yang juga berada di jalur yang sama melihat Malika di dalam taksi.
"Itu kan Malika,mau kemana dia?"
Lidya penasaran,hingga dia mengikuti taksi Malika saat lampu hijau sudah menyala.
Dan disaat itu juga pikiran jahatnya kembali memikirkan untuk mencelakai Malika.
Lidya pun tersenyum jahat.
Malika dan Bu Arum pun tiba di sebuah pemakaman umum,dengan di dampingi suster Malika pun coba berjalan pelan.
"Sebentar ya nak,ibu beli bunga dulu sebentar"
Bu Arum pun pergi membeli bunga untuk dia taburkan di makam suaminya.
Malika pun duduk di kursi bawah pohon,sementara itu suster sedang menerima telpon dan sedikit menjauh dari Malika.
Malika sendiri terus melihat ke arah sekitar,dan dari belakang Lidya sudah siap dengan membekapnya untuk dia culik.
Namun seketika kala tangan Lidya hendak membekap Malika,dia berbalik arah melihat Lidya yang ada di belakangnya.
Lidya sangat terkejut karena aksinya hampir saja ketahuan.
Lidya gelagapan saat Malika memandangnya dengan tajam.
Lidya memikirkan apa yang akan dia katakan jika Malika sampai bertanya sedang apa dia disini.
__ADS_1
Malika pun tersenyum pada Lidya.
Lidya yang tidak menyadari akan hilangnya ingatan Malika di buat bingung,mengapa Malika memberinya senyuman pada dirinya.
"Mbak mau ziarah juga "
Tanya Malika pada Lidya membuatnya semakin bingung,mengapa Malika memanggilnya mba,dan mengapa dia terlihat tidak mengenalinya.
Dengan perasaan yang cemas,Lidya pun coba berjalan semakin dekat menuju Malika,dia membalas senyum Malika dan duduk disampingnya.
"Ya,aku hendak ziarah ke makam ayahku"
Jawab Lidya memandang Malika dengan perasaan yang masih bingung dan heran mengapa Malika tidak mengenalinya.
"Apa ini rencana Malika untuk membalas ku?"
Tanya hati Lidya yang tetap waspada pada Malika.
Kemudian suster pun datang dan bertanya pada Malika.
"Apa semua baik-baik saja mba?"
"Saya baik-baik saja sus,tenang saja,ibu lama sekali ya?"
Tanya Malika menjawab pertanyaan suster.
Kemudian Bu Arum pun datang dengan membawa bunga dan sebotol air bening.
"Maaf ibu lama ya nak,tadi disana penuh"
"Ibu tenang saja,Malika baik-baik saja,Malika ingin bertemu ayah,berharap ada ingatan Malika yang muncul tentang semuanya"
Mendengar itu semua,Lidya pun akhirnya mengerti dan paham mengapa Malika tidak mengenalinya.
Lidya pun tersenyum jahat menyadari hal itu,dia sangat senang dengan kondisi Malika,itu artinya dia tidak mengenali dia dan juga Keenan.
"Ternyata usaha ku tidak sia-sia,aku berharap ingatanmu tidak akan kembali Malika"
Harap Lidya dalam hati dengan senyum liciknya.
"Kami duluan ya nak"
Pamit Bu Arum pada Lidya yang duduk disampingnya Malika.
"Mh ia Bu silahkan"
Jawab Lidya pada Bu Arum.
Dan sesaat Lidya melihat wajah Bu Arum,dia merasa tidak asing dengan wajahnya.
"Mengapa aku merasa tidak asing melihat wajah ibu itu,aku merasa mengenalnya dan pernah bertemu dengannya,tapi dimana?"
Lidya terus berpikir mengingat wajah Bu Arum.
....
__ADS_1
Malika duduk tepat di samping pusara sang ayah,dia meneteskan air matanya melihat batu nisan bernama kan Suhendar bin Afandi yang sudah terlihat sangat usang dan lama sekali hingga batu nisannya sudah di tumbuhi lumut hijau.
"Ayah,Malika dan ibu datang menemui ayah"
Ucap Malika sedih,Bu Arum pun tak kuasa melihat anaknya menangis,dia pun memeluknya.
Bu Arum dan Malika membacakan beberapa ayat Alquran untuk mereka curahkan agar sampai kepada suaminya itu.
Dalam hati Bu Arum sangat sedih mengingat kenangan bersama suaminya saat masih hidup,suaminya sangat mencintai dirinya dan Malika,sosok suami yang penyayang dan bertanggung jawab di mata bu Arum.
"Setelah melihat makam ayah,Malika merasa cukup tenang Bu"
Ucap Malika setelah dari makam ayahnya Bu Arum pun merasa tenang.
Merekapun kembali ke rumahnya,Lidya yang masih mengintai Malika coba terus mengikuti sampai mereka tiba ke rumah.
Keenan dan Arkana yang kehilangan jejak keberadaan Lidya coba terus mencari keberadaannya.
"Kemana dia akan pergi?"
Tanya Keenan pada Arkana,
Arkana pun menyuruh semua intel nya untuk mencari keberadaan Lidya.
Dalam hati,Arkana ingin sekali memberitahu kebenaran tentang masa lalu Keenan dengan Kartika,
Namun dia merasa jika ini bukan waktu yang tepat untuknya memberitahu semua kebenaran tentang Kartika.
"Andai kamu tahu yang sebenarnya Keenan,kamu pasti tidak akan bisa menerima semua ini "
Ujarnya dalam hati.
Merekapun terus mencari Lidya dengan semua petunjuk yang ada.
***
Nico yang mulai tersadar meminta pulang pada Clara,
"Aku ingin pulang ke Bandung Clara,aku tidak bisa lagi bekerja disini"
Kali ini keputusan Nico seakan tidak bisa dia ubah lagi meski Clara menghalanginya.
"Tapi kenapa?"
Raut wajah Clara mulai tidak bersahabat mendengar keputusan Nico yang tidak bisa lagi bekerja padanya.
"Aku ingin istirahat sejenak,tubuhku rasanya sangat letih"
Sungguh alasan yang membuat Clara tidak bisa menolak semua pintanya.
Clara pun dibuat dilema dengan permintaan Nico padanya,dia tidak ingin Nico kembali ke Bandung,tapi Nico terlihat memaksa ingin pulang.
"Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu,tapi sekarang kamu harus sehat dulu,bagaimana kamu bisa pulang jika keadaanmu masih seperti ini?"
Jawab Clara mencoba untuk tenang.
__ADS_1
Nico tidak menyangka jika Clara dengan segampang itu mengijinkan dirinya untuk berhenti bekerja,perasaannya sangat senang karena sebentar lagi dia akan kembali pulang menemui Malika.