Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
kembali pada Bu Arum


__ADS_3

Pak Mahardika menghentikan langkah Malika kala akan melangkah menuju pintu keluar.


Malika pun menoleh, dan berpikir mengapa pak Mahardika menghentikannya.


"Ini uang pesangon untuk kamu, harus saya akui, kinerja kamu sangatlah baik disini, saya ucapkan terimakasih untuk itu, jaga diri kamu baik-baik, dan jagalah ibumu"


Malika tak mampu membendung air matanya, sedikit demi sedikit air mata nya pun tumpah, dia sangat sedih karena kehilangan pekerjaan dan orang-orang yang sangat dia sayangi.


Begitupun dengan pak Mahardika, meski dirinya benci akan kehamilan di luar nikah Malika, namun pak Mahardika tetap mengakui jika Malika adalah wanita yang baik dan bisa di andalkan.


"Boleh saya meminta sesuatu dari bapak untuk yang terakhir kalinya?"


Pinta Malika pada pak Mahardika dengan bibir yang bergetar karena menahan tangisnya.


Pak Mahardika pun mendengarkan apa yang ingin Malika katakan.


"Saya mohon peluklah saya untuk yang terakhir kalinya pak"


Tangisnya pun pecah, sebagai pria yang dia anggap sebagai ayahnya sendiri, pak Mahardika mengerti akan butuhnya energi untuk hidup Malika.


Malika meminta pak Mahardika memeluknya agar dia merasa kuat dan tidak sendiri, karena ada ayahnya disini yang akan selalu melindunginya.


Pak Mahardika pun mengabulkan permintaan Malika, dengan hati yang tulus layaknya kasih sayang seorang ayah pada sang anak, pak Mahardika memeluk Malika.


Malika menangis dalam pelukannya,


"Minta lah ampun pada ibumu, jangan lagi kamu sakiti hatinya, dia sudah membesarkan mu dengan semua kasih sayang dan perjuangan hidup yang luar biasa hanya untuk membesarkan mu."


Mendengar pesan pak Mahardika, Malika semakin tidak kuasa dan merasa bersalah pada ibunya.


Dan dari sejak itu, akhirnya Malika memutuskan untuk menemui ibunya dan berniat untuk kembali pada sang ibu.

__ADS_1


Pak Mahardika pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Malika berlalu dengan segala penyesalan dan kesedihannya.


***


Di ruang tamu, Bu Arum yang sedang duduk menatap luar jendela di atas kursi roda, selalu berharap jika Malika akan kembali kepadanya.


Menjalani hidup bahagia berdua bersama seperti dulu kala, sebelum cinta membutakan Malika.


"Kemana kamu nak?"


Meski Bu Arum telah mengusir Malika, namun dia tidak bisa membohongi hatinya, Bu Arum sangat merindukan anak satu-satunya itu, rindu perhatiannya, rindu tawa nya, rindu semua ocehannya dan rindu segalanya tentang Malika.


Dengan tenaga satu lengan yang masih bisa dia gerakkan, Bu Arum pun memutar kursi rodanya menuju dapur, dia hendak minum, saat itu Suci pun sedang mengantar Alana sekolah, jadi dia tidak bisa menjaga Bu Arum.


Dan saat Bu Arum hendak mengambil air di atas meja, tangan Bu Arum yang sedang meraih gelas di samping galon merasa kerepotan, hingga akhirnya gelas itu jatuh dan


"Hati-hati Bu, ibu bisa panggil Malika kan jika butuh sesuatu?"


Bu Arum sangat terkejut dengan kedatangan Malika yang menyelamatkannya tepat waktu.


Entah harus benci atau bahagia, dengan kedatangan sang anak yang di rindukannya itu.


Hati Bu Arum merasa jauh lebih tenang kala Malika datang padanya dan menolongnya,


Malika pun langsung memeluk Bu Arum melepaskan rindu.


"Malika sangat rindu ibu"


Ucap Malika pada Bu arum.


Bu Arum pun tak bisa membohongi dirinya, jika dia juga sangat rindu pada Malika, diapun menangis dan berusaha untuk bicara pada anaknya tentang siapa Nico sebenarnya.

__ADS_1


"A..nak ku.."


Suara Bu Arum Sangat terasa berat.


Mendengar sang ibu hendak bicara, Malika pun meminta agar ibunya tidak memaksakan diri untuk bicara terlebih dahulu karena sekarang Malika ada bersamanya.


"Lebih baik sekarang ibu istirahat ya"


Ucap Malika mengajak Bu Arum pergi ke kamarnya.


Bu Arum pun menuruti permintaan Malika.


Akhirnya merekapun menuju kamar Bu Arum,


Saat Bu Arum hendak pindah ke atas ranjang tidurnya, Bu Arum menunjuk pas foto dirinya bersama sang suami.


Malika pun mengira jika ibunya menyuruh dirinya untuk membawakan Poto tersebut, Malika pun mengambilkan foto itu dan memberikannya pada Bu Arum.


"Ibu pasti sedang rindu pada ayah? Andai Malika bisa mengingat kembali kenangan indah bersama ayah, mungkin akan ada cerita indah yang bisa Malika ceritakan nanti pada anak Malika, ya kan Bu?"


Ucapan Malika begitu masuk di hati Bu Arum.


Dia sangat sedih sekali dengan apa yang Malika tanyakan tentang sosok sang ayah.


Malika tidak mempunyai kenangan indah bersama sang ayah, karena dia terlalu kecil saat ayahnya tiada, Malika hanya mengingat wajahnya saja.


"Kasihan kamu nak, masa kecilmu harus kesepian karena ulah ayahnya Nico yang telah menghabisi ayahmu"


Malika pun menunduk dan sedikit bercerita pada Bu Arum jika sebenarnya dari sejak kecil hingga sekarang, dia ingin sekali merasakan bagaimana mempunyai dan mendapat perhatian dari sang ayah.


Namun saat Malika sedang asik berbicara semua keluh kesah dan curahan hatinya, Bu Arum akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya, Bu Arum menunjuk foto ayah Malika dan menyebut nama

__ADS_1


"Ni..co"


__ADS_2