
Keenan dan Bu Arum pun masuk ke ruangan Malika,disana Malika sedang duduk melamun,entah apa yang sedang dia pikirkan Malika hanya terdiam.
Bu Arum pun membangunkan lamunannya dengan mengusap bahu anaknya itu,dia menanyakan apa yang sedang dia pikirkan,da apa hal yang mengganggunya hingga anaknya terlihat seperti memikirkan sesuatu.
Malika pun tersadar,dia ingin pulang,dia sudah jenuh terus berada di rumah sakit,meski kondisinya masih belum pulih,namun Malika meminta dia untuk segera pulang.
"Kau tenanglah,hari ini kita akan pulang"
Ucap Keenan membuat Malika pun tersenyum,
Malika bahagia dan berterimakasih kepada Keenan karena dia selalu ada untuknya.
"Terimakasih,selama ini kau selalu ada untukku"
Ucap Malika pada Keenan yang sudah baik kepadanya.
Keenan pun merasa bahagia melihat senyum bahagia Malika.
***
Bayangan mimpi itu terus menganggu pikiran Nico,hatinya merasa gelisah,perasaannya sangat takut,dia terus memikirkan Malika.
"Ada yang tidak beres,mengapa Malika sangat sulit untuk dihubungi?"
Nico sudah mulai mencurigai ada yang tidak beres dengan Malika,dalam hati ingin rasanya dia kembali pulang ke Bandung untuk memastikan semuanya,tapi bagaimana caranya.disini Clara selalu mengawasinya setiap saat.
Nico mulai berpikir hingga saat pak Hartanto bertanya padanya mengenai rencana ke depan agar perusahaan bengkel yang sedang mereka kerjakan bisa lebih maju,Nico tidak bisa menjawab semua pertanyaan nya.
"Bagaimana Nico apa kamu siap?"
Tanya pak Hartanto.
Nico terlihat tidak fokus,dia hanya diam saat pak Hartanto bertanya padanya.
Andre pun menyenggol lengan Nico untuk menyadarkannya dari lamunan.
Nico berbalik ke arah Andre yang menyenggolnya,dia tidak mengerti mengapa Andre melakukan itu,hingga dia pun paham dengan kode yang diberikan Andre padanya.
Nico pun mulai sadar dari lamunannya dan meminta maaf pada pak Hartanto karena dia sedang tidak fokus hari ini.
"Maafkan saya pak,ya saya siap bekerja lebih giat lagi"
Jawab Nico coba mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Clara sangat malu dan tidak suka dengan sikap Nico tadi,Clara merasa Nico tidak bisa profesional dalam bekerja,hingga saat meeting berakhir Clara menarik tangan Nico dan bertanya kepadanya mengapa dia bisa tidak fokus seperti tadi.
Nico melepaskan tangan Clara dengan sangat kasar,dia sudah tidak peduli lagi dengan Clara yang terus mengejar cintanya,Nico juga tidak mau terus tunduk pada keinginannya.
"Sudah cukup,kali ini aku ingin sendiri,tolong beri aku waktu untuk sendiri hari ini,aku mohon"
__ADS_1
Jawab Nico pada Clara membuatnya semakin kesal pada Nico.
Clara pun pergi dengan penuh kemarahan pada Nico,dia tidak terima Nico bisa melepaskan tangannya dengan kasar,Clara pun berpikir apa yang terjadi padanya hingga dia berani berbuat kasar kepadanya.
Clara pun coba menghubungi Bu Ratna namun tidak bisa terhubung,dia terus berulang kali menghubunginya namun masih bisa terhubung,Clara pun semakin kesal.
"Ah "
Clara melempar semua barang yang ada dihadapannya karena marah.
Di tempat lain,Nico coba terus menghubungi Malika dan ibunya,namun keduanya masih belum bisa dia hubungi,perasaannya semakin cemas,saat Nico coba menghubungi semua temannya di Bandung,tidak ada satu kontak pun yang terhubung,Nico heran mengapa semua temannya memblokir dirinya.
"Kenapa semua temanku memblokir ku?"
Tanya hati Nico yang mulai semakin kesal berada dalam situasi ini.
"Tiara,ya dia pasti tahu keadaan Malika"
Dia pun langsung menghubunginya,meski Tiara berada di Surabaya tapi dia selalu tahu perkembangan sahabat karibnya itu.
Tiara menjawab panggilan Nico,diapun langsung menanyakan mengapa dia tidak bisa menghubungi Malika,apa yang terjadi padanya?
Tiara terdengar diam seakan sulit untuk bicara.
Hingga akhirnya diapun menjawab semua pertanyaan Nico padanya mengenai Malika.
Tiara pun langsung menutup telponnya sebelum Nico menjawab semua ucapannya.
"Tiara tidak pernah seperti ini,ini semakin mencurigakan?"
...
Di ruang administrasi sekretaris Keenan sudah selesai melaksanakan tugasnya.
Diapun segera menemuinya di kamar Malika di rawat.
"Selamat siang pak,semua administrasi sudah selesai,mba Malika sudah bisa pulang hari"
Ucap Rania sekretaris Keenan sekaligus rekan kerja Malika,
Dia coba menyapa Malika dengan senyumnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang Malika?"
Tanya Rania.
Malika pun nampak bingung,siapa yang sedang bertanya padanya,Keenan pun menjelaskan semua yang terjadi pada Malika.
Rania ikut prihatin dengan semua yang menimpa Malika.
__ADS_1
"Semoga kamu cepat pulih ya,semua rekan kerja kita sudah merindukanmu,di kantor sangat sepi tidak ada kamu"
Rania coba memberi semangat untuk Malika agar cepat sembuh.
"Terimakasih,secepatnya saya harus sembuh"
Jawab Malika dengan senyumnya yang selalu manis.
Dokter pun datang dan coba memeriksa Malika,dokter menyarankan agar perban di kepala Malika jangan dulu di lepas,sebab banyak luka yang belum kering
"Perbannya baru kita ganti ya,selepas 3 hari nanti kita lepas perbannya,sebisa mungkin jangan dulu terkena air,meskipun kamu mau sholat,kamu bisa tayamum untuk sementara"
Pesan dokter sebelum Malika pulang.
"Baik dokter"
Jawab Malika begitu bersemangat untuk pulang.
Suster pun membawa kursi roda untuk mengantarkan Malika ke depan pintu rumah sakit.
"Biar saya saja sus"
Ujar Keenan segera membawa kursi roda tersebut,Keenan pun mendekati Malika untuk memapahnya ke kursi roda.
Saat wajah Keenan berjarak 3 cm pada wajah Malika,perasaannya sangat tidak bisa dia atur,jantungnya berdebar kencang kala tatapannya beradu dengan tatapan mata Malika kepadanya.
Keduanya pun saling berpandangan dengan dalam.
Malika melihat ada cinta yang besar di mata Keenan untuknya,hingga Malik pun tersenyum pada Keenan dengan tulus hingga masuk di hati Keenan .
Keenan begitu merasakan senyum Malika begitu tulus untuknya,dalam hati,Keenan pun mulai yakin jika Malika bisa mencintainya seiring berjalannya waktu.
"Aku tahu,kali ini aku sedang membohongimu untuk semuanya Malika,tapi aku janji suatu hari akan ku ceritakan semua kebenaran kita di waktu yang tepat"
Ucap Keenan dalam hatinya saat menatap mata Malika.
Keduanya pun mulai tersadar dari tatapan cintanya.merekapun salah tingkah kala Rania menyadarkan mereka dengan tawa kecilnya saat melihat keduanya.
"Ehemm"
Suara batuk kecil Rania yang menyadarkan mereka,Keenan dan Malika pun ikut tersenyum dengan suara batuk Rania.
Malikapun duduk di kursi roda,Keenan mendorong Malika dari belakang.
Di rumah Bu Arum dan suci sudah membereskan rumah mereka,Bu Arum pun mengganti semua aksesoris di kamar Malika.
Bu Arum membuang semua kenangan indah Malika bersama Nico,foto kebersamaan mereka,barang-barang yang di berikan Nico,semua yang berhubungan dengan Nico Bu Arum buang.
Bu Arum juga menghubungi semua sahabat dan temannya Malika agar tidak memberitahu keadaan Malika pada Nico apapun itu alasannya.
__ADS_1