
Saat Malika kembali pada Bu Arum, dia sangat terkejut melihat sang ibu tidak sadarkan diri.
"Astaga ibu, ibu kenapa?"
Malika coba membangunkan Bu Arum, namun tidak kunjung sadar, dengan perasaan cemas, Malika pun memanggil suster.
"Cepat sus, tolong ibu saya tidak sadarkan diri?"
Suster pun segera membawa Bu Arum ke UGD.
"Mba tunggu dulu di luar ya"
Air mata Malika tak henti menetes melihat sang ibu tidak sadarkan diri masuk ke dalam ruangan untuk mendapat tindakan.
"Ibu..."
Malika tidak bisa berpikir jernih saat itu, akhirnya Malika coba menghubungi ka Suci dan memberitahu keadaan sang ibu.
Mendengar suara tangis Malika dari sebrang telpon, Suci pun ikut panik dan cemas, apa yang terjadi.
"Ibu masuk UGD ka, tolong aku, aku sangat takut, ibu tidak sadarkan diri"
Kata Malika singkat dengan nada suara yang terputus karena air mata yang membasahi pipinya.
Mendengar kabar tersebut, Suci pun langsung bergegas kembali ke rumah sakit dan menitipkan Alana pada sang guru.
***
Di tempat lain, Malika yang gelisah berjalan kesana kemari menghawatirkan sang ibu, dia merasa bingung, mengapa ibunya tidak sadarkan diri, apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya, padahal Malika merasa ibunya baik-baik saja.
Suci pun datang dan bertanya pada Malika apa yang sebenarnya terjadi pada Bu Arum.
Malika pun menceritakan semuanya, Malika mengatakan jika Bu Arum sudah tidak sadarkan diri saat dirinya kembali dari penandatanganan surat pasien, itupun tidak lama, hanya 2-3 menit saja.
Suci pun ikut gelisah melihat kekhawatiran Malika.
"Badan ibu sangat dingin sekali ka, matanya pun terpejam, tapi tangannya seolah menunjuk sesuatu, tapi aku tidak tahu ?"
Ujar Malika sedikit menjelaskan.
Suster keluar dengan terburu-buru, sehingga saat Malika memanggilnya dia tidak menjawab atau menoleh ke arah Malika.
"suster ...
suster ..."
mika terus memanggil nama nico
"Sus bagaimana keadaan ibu saya, sus suster"
__ADS_1
Panggilan Malika di abaikan suster yang sedang terburu-buru.
Malika pun semakin cemas.
"Tenang Malika, Bu Arum pasti baik-baik saja"
"Tapi aku sangat takut sekali ka, perasaanku sangat tidak enak"
Malika tidak bisa membohongi diri jika dirinya memang sangat ketakutan dan khawatir.
Sedangkan di balik dinding tembok sebrang ruang Malika menunggu Bu Arum, Nico tersenyum bahagia melihat pemandangan yang menggelisahkan itu.
"Selamat jalan Bu Arum, kamu tidak akan pernah bisa memisahkan aku dengan Malika, dengan terpaksa aku harus memisahkan mu dengan anakmu untuk selamanya"
Pria bermasker yang menyuntikan cairan di lengan Bu Arum tak lain ialah Nico.
Nico yang memang sudah berniat menghabisi Bu Arum, sengaja menyuntikan racun agar Bu Arum tiada.
Nico pun merasa yakin jika Bu Arum tidak akan selamat, karena dia menggunakan racun dengan dosis tinggi pada Bu Arum.
Nico pun berjalan menuju Malika dan Suci.
"Nico, kenapa kamu ada disini?"
Malika heran melihat Nico ada di rumah sakit, karena dia tahu jika suaminya itu pergi bekerja seperti biasa.
Nico pun mengatakan jika dirinya teringat akan Bu Arum, itu sebabnya dia datang ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya Malika.
"Aku sangat takut sekali co"
Ungkapan hati Malika pa Nico.
Dengan tutur bahasa dan pelukannya, Nico pun coba menenangkan istrinya itu.
"Semua akan baik-baik saja, ibumu pasti akan segera sembuh"
Tak lama setelah itu, dokter pun keluar dari ruang UGD,
Dengan segera Malika menghampiri sang dokter dan menanyakan kabar ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu saya dok?"
Tanya Malika cemas.
Wajah sang dokter terlihat sangat sedih dan tertekan, dokter sangat berat untuk mengatakan keadaan Bu Arum.
"Maafkan aku nak, tapi..."
"Tapi apa dok? Ibu baik-baik saja kan?"
__ADS_1
Perasaan Malika semakin tidak menentu melihat dokter yang ragu akan mengatakan keadaan ibunya.
"Bu Arum sudah tiada"
Dunia Malika seakan gelap gulita kala mendengar kabar sang ibu tiada, langit pun seakan runtuh, jiwanya kosong dan tak menentu.
Malika terkulai lemas mendengar sang dokter mengatakan kepergian ibunya.
Air matanya mulai berderai tak hentinya,
Malika mundur secara perlahan dengan menutup mulut menahan teriakan tangisnya.
"Tidak...tidak mungkin, pasti dokter salah, tidak mungkin ibu tiada? Tidak mungkin"
Teriak Malika yang tidak percaya jika ibunya sudah tiada.
"Ah tidak ibu..."
Teriak Malika histeris.
Suci terpukul dengan kabar duka Bu Arum, dia pun seakan tidak percaya jika Bu Arum sudah tiada.
Suci memeluk Malika erat dan menahan tangis Malika dengan pelukannya.
"Yang sabar Malika sabar"
Ucap Suci, coba Menenangkan Malika meski hatinya juga sangat terpukul dengan kabar kepergian Bu Arum.
Kabar duka yang di harapkan Nico akhirnya terjadi, Nico memang berharap Bu Arum tiada, namun melihat kesedihan di mata Malika akan kehilangan ibunya membuat dia merasa bersalah karena telah meracuni Bu Arum.
Nico tidak tahan melihat istrinya menangis histeris seperti itu, hingga Nico pun pergi meninggalkan Malika dan suci,
Nico pergi ke kamar mandi, dia menampar kedua pipinya berulang kali, Nico menyiksa dirinya karena merasa bersalah dan membuat Malika sedih.
"Bodoh Bodoh bodoh kamu Nico, apa yang sudah kamu lakukan, kamu pembunuh Nico pembunuh"
Kata yang terucap dari mulut Nico dengan sendirinya.
Air matanya tak terasa mengalir saat mengucapkan setiap kata itu.
"Apa yang sudah aku lakukan Malika, aku tidak ingin kehilangan kamu, itu sebabnya aku melenyapkan ibumu karena dia ingin sekali memisahkan kita, tapi aku tidak tahan melihatmu menangis sedih seperti itu"
Ucap Nico dalam tangis penyesalannya.
***
Suasana duka kini sedang menyelimuti kediaman Malika, bendera kuning sudah berkibar di depan rumah Malika, para pelayan pun datang silih bergantinya melepas kepergian terakhir Bu Arum, semua tetangga karib dan saudara malika turut hadir dalam acara pemakamannya.
Sesuai adat disana, Malika yang saat itu sedang mengandung, tidak di perbolehkan mengantar jenazah sang ibu ke tempat terkahir nya, namun Malika tidak percaya akan hal takhayul seperti itu, dia pun memaksa untuk ikut menghadiri pemakaman ibunya.
__ADS_1
Lantunan ayat dan doa yang sedang di bacakan semua membuat jiwa Bu Arum tenang, untuk terakhir kalinya, Malika melihat ibunya yang sudah terbujur kaku tidak bernyawa di hadapannya, Malika membuka penutup kain yang menutupi wajah Bu Arum.