
Bu Ratna merasa iba melihat Malika sedih, karena bagaimanapun Nico lah yang telah menyebabkan Bu Arum meninggal, dan dia harus bertanggung jawab untuk semua yang telah dia lakukan.
Meski Bu Ratna membenci Bu arum karena kesombongannya, tapi tidak ada satu niat pun untuk melukai atau mencelakai Bu Arum.
"Kasihan sekali kamu nak, maafkan anak ibu Malika?"
Ucap hati Bu Ratna pada Malika.
Nico pun meminta maaf pada Malika karena datang terlambat, Bu Ratna menjelaskan jika Nico terlambat karena menjemputnya terlebih dahulu.
Malika pun memaafkan keterlambatan Nico datang ke pemakaman terakhir ibunya.
Nico sangat terkejut kala Malika berbisik padanya.
"Tadi polisi datang menginterogasi ku co, katanya dari hasil pemeriksaan dokter di temukan racun dalam tubuh ibu, dan kemungkinan besar, racun itu yang menyebabkan ibu meninggal?"
Penjelasan Malika tentang ibunya membuat Nico sangat terkejut dan takut, wajahnya tidak bisa di bohongi jika dia merasa cemas akan ketahuan Malika ataupun polisi.
Nico pun menarik napasnya dan meminta Malika untuk tenang, karena tidak mungkin ada orang yang ingin meracuni ibunya.
"Tapi apakah sebelum ibumu berangkat, dia sempat memakan sesuatu atau minum apa gitu, bisa jadi makanan itu yang mengandung racun?"
Nico berusaha membalikan fakta yang sebenarnya dengan bertanya seperti itu.
Malika pun dibuat berpikir mengingat kejadian sebelum mereka berangkat ke rumah sakit setelah Nico bicara seperti itu.
Malika pun mengingat jika dirinya hanya mengantar ibunya, dia tidak tahu ibunya makan atau minum apa sebelum pergi ke rumah sakit, karena saat itu Suci lah yang ada bersama ibunya.
"Nanti aku tanyakan pada ka Suci ?"
__ADS_1
Pak ustad pun mengakhiri doa dan talkin untuk Bu Arum.
Semua orang yang mengantar pun perlahan membubarkan diri, semua mengucapkan bela sungkawa pada Malika akan kepergian sang ibu.
"Yang sabar ya nak Malika, semoga ibumu di terima di sisi Allah"
Ucap Bu Airin salah satu tetangga rumah mereka.
Malika pun berterima kasih untuk semua doa yang sudah semua panjatkan untuk ibunya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke rumah "
Malika mengajak Nico untuk pulang ke rumah ibunya, tapi Nico menolak, dia tidak mau tinggal di rumah Bu Arum,
"Kita pulang ke rumahku saja"
"Mengertilah co, saat ini aku ingin sekali ada di rumah ibuku"
Malika memohon pada Nico untuk mengerti keadaannya.
Dari belakang, Bu Ratna pun membantu Malika untuk menuruti permintaannya.
Bu Ratna menyuruh Nico untuk menuruti permintaan Malika pulang ke rumah ibunya.
"Biarkan Malika pulang ke rumah ibunya nak, karena bagaimana pun saat ini hanya rumahnya yang akan menjadi pemenang hatinya"
Ucap Bu Ratna pada Nico.
Nico pun tidak bisa menolak lagi, dengan terpaksa dia pun menuruti permintaan Malika untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
***
Mereka pun tiba di rumah Bu Arum,
"Maafkan ibu ya Malika, ibu tidak bisa menemani kamu saat ini, kamu yang sabar dan tabah ya"
Bu Ratna meminta maaf pada Malika karena tidak bisa menemaninya di rumah Bu Arum, karena dia harus mengurus kedua adik Nico yang masih sekolah.
Malika pun tidak keberatan, karena dia mengerti dengan keadaan mertuanya itu.
"Co, jaga istri kamu ya, jangan sampai dia kelelahan dan banyak berpikir, karena itu akan berpengaruh pada janinnya"
Pesan Bu Ratna sebelum pulang.
Malika dan Nico pun masuk kedalam rumah, ,
Saat membuka pintu air mata Malika kembali menetes, dia melihat bayangan ibunya yang sedang tersenyum menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita.
Terlihat juga bayangan Bu Arum yang selalu membangunkan dirinya.
"Malika ayo cepat bangun, nanti terlambat, ini sudah siang"
Teriak Bu Arum dari dapur sambil menyiapkan sarapan untuknya.
Nico yang melihat Malika menangis akhirnya meminta Malika untuk tidak sedih dan mengingat ibunya lagi.
"Sudah lah Malika, kamu jangan nangis dan sedih terus, ibu kamu sudah tenang disana, jadi kamu jangan mengingatnya terus"
Ucapan Nico begitu menyayat hati Malika.
__ADS_1