
Di dalam kamar, Malika sedikit merasa bersalah karena dia belum bisa melayani Nico,
"Apa aku bersalah? Tapi kondisiku masih seperti ini? Maafkan aku co?"
Dalam hati Malika berkata.
Nico pun kembali masuk kedalam kamar dan tidur di samping Zidan, Malika berpikir mungkin Nico marah kepadanya karena dia menolak untuk berhubungan dengannya.
Malika coba memanggil Nico, namun matanya sudah tertutup.
"Nico sudah tertidur, besok saja akan bicara padanya"
Malika pun juga ikut terlelap bersama Nico san Zidan.
...
Baru saja Nico terpejam, suara tangis Zidan membangunkan Nico dari mimpi indahnya.
Nico pun terbangun dan melihat Malika yang sedang berusaha untuk membuat bayinya diam.
"Ayolah buat dia diam, berisik tahu"
"Co tolong buatkan susu nya dong, mungkin air nya sudah mendidih, aku kerepotan"
Jawab Malika meminta Nico untuk membantunya membuatkan susu untuk Zidan.
"Euh ..."
Dengan perasaan kesal, Nico pun pergi menuju dapur dengan mata yang masih mengantuk,
Nico sendiri pun tidak tahu bagaimana cara menyeduh susu untuk bayi.
Nico menuangkan semua air panas kedalam botol dan langsung mengocoknya.
"Nih"
Nico memberikan sebotol susu untuk Zidan pada
Malika,
"Ah panas"
"Gimana sih co, ini terlalu panas kamu mau lidah anak kita melepuh"
Ujar Malika memarahi Nico yang tidak tahu cara membuat susu bayi.
Nico pun tersinggung karena Malika memarahinya, dengan nada tinggi, Nico kembali menegur Malika.
"Kamu sendiri tahu jika aku tidak bisa membuat susu, kenapa tidak kamu kasih ASI saja"
Pertengkaran pun kini mulai terjadi diantar mereka hanya karena perkara tentang Zidan, Nico selalu menyalahkan Malika karena ASI nya tidak melimpah untuk Zidan, sehingga dia harus repot membuat susu setiap waktu untuknya, dan itu juga memakan biaya yang cukup besar menurut Nico.
Malika merasa sedih dengan semua yang Nico ucapkan mengenai dirinya, jika bisa memilih, Malika juga ingin memberi Zidan ASI ekslusif, namun apa daya, tuhan tidak melimpahkan Rizki ASI nya pada Malika untuk Zidan.
__ADS_1
"Sabar Malika sabar, aku yakin, semua sudah ada garis takdirnya"
Dengan sabar dan telaten, setiap malam Malika berusaha membuat Zidan diam tanpa harus membangunkan Nico untuk membantunya.
Dan terkadang, Nico suka tidur diluar daripada harus terbangun karena tangisan Zidan.
Suatu pagi, disaat Nico hendak berangkat kerja, dia dikejutkan dengan meja makan yang masih kosong, tidak ada air hangat ataupun nasi.
"Apa Apaan ini, kenapa belum ada makanan samasekali? Kemana Malika?"
Nico pun coba melihat Malika kedalam kamar, dan dilihatnya Malika masih terlelap tidur bersama Zidan.
Nico pun marah dan kecewa dia menutup pintu kamar dengan sangat keras hingga membuat Malika dan Zidan terbangun menangis.
Bruk..
"Astaga ada apa ini, Nico"
Malika yang terkejut langsung memanggil Nico dan coba menyusulnya, namun Zidan terbangun dan menangis.
"Sebentar ya nak, ibu susul papamu sebentar".
Ucap Malika pada sang bayi yang masih belum mengerti bahasanya.
Malika coba mengejar Nico keluar kamar, Nico pun menuju dapur dan menggebrak meja makan.
Malika pun menyadari kesalahannya, dia merasa sangat bersalah karena dia bangun terlambat hingga tidak sempat menyiapkan makanan untuk sarapan Nico berangkat kerja.
"Maafkan aku co, semalaman aku tidak bisa tidur, Zidan terus menangis tidak berhenti"
Dalam pikirannya, Nico berpikir mempunyai anak ternyata tidak seindah yang dia bayangkan.
Mempunyai anak itu merepotkan dan membuatnya pusing.
Tanpa menjawab sepatah kata pun Nico akhirnya berangkat menuju bengkel dalam keadaan perut kosong.
"Co, Nico"
Panggil Malika coba menghentikan Nico yang marah padanya, tapi Nico tidak mendengar panggilannya dan terus berlalu meninggalkan Malika.
Sementara Zidan masih terus menangis, Malika pun segera memberikan susu untuknya.
Malika menangis saat menggendong Zidan, mengapa Zidan terus menangis dan membuat Nico sangat terganggu.
"Kenapa kamu nak? Apa salah ibu? Mengapa kamu nangis terus, jangan begitu ya sayang, kasihan ayah kamu".
Ucap Malika sambil menggendong Zidan coba mencurahkan semua isi hatinya.
Zidan hanya merespon diam mendengar semua keluh kesah sang ibu kepadanya.
...
Setiba di bengkel, Nico hendak pergi ke warung untuk sekedar membeli kopi dan sarapan untuknya, namun ternyata Clara yang sudah lebih dulu datang sudah menyiapkan sarapan untuk Nico.
__ADS_1
Clara memanggil Nico ke ruangannya,
"Ada apa Clara memanggilku sepagi ini?"
Pikir Nico akan Clara, Nico pun segera menuju ruangannya, dan disana Clara sudah menyiapkan semua yang Nico butuhkan pagi ini.
Clara yang sudah tampil cantik dengan dress berwarna Nevi terlihat sangat menawan dan seksi, ditambah aksen jepit rambut kecil menempel di rambutnya membuat Clara semakin terlihat menggemaskan.
"Ada apa kamu memanggilku Clara?"
Tanya Nico saat masuk kedalam ruangannya,
Clara pun mengatakan jika dirinya sudah membawakan apa yang Nico butuhkan.
Nico pun mendekat dan melihat makanan sudah tersaji di mejanya.
"Itu untukku?"
Tanya Nico.
Dalam hati Nico bertanya mengapa Clara mengetahui semua yang dia inginkan pagi ini?
"Aku tahu, saat ini kamu pasti sedang kesal, tapi mengertilah, Malika mungkin sedang lelah, itu sebabnya dia tidak bisa melayani mu"
Ujar Clara membisikan semua di telinga Nico, dan itu membuatnya kembali terdiam.
Clara memang ada benarnya, tapi tidak seharusnya Malika juga melupakan tugasnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya.
Sungguh semuanya membuat Nico merasa pusing.
Akhirnya Nico dan Clara makan pagi bersama dengan lahap, Nico sudah merasa tidak canggung lagi jika di suapi Clara, keduanya kini bersikap seperti sepasang kekasih.
Bahkan tak segan Nico pun membalas dengan menyuapi Clara balik.
Mungkin karena keduanya sudah pernah menyatu, jadi diantara mereka kini seakan tidak ada jarak.
Clara coba menanyakan keadaan Malika dan anaknya, respon Nico pun hanya diam dan terlihat sedikit kekecewaannya pada Malika saat ini.
"Kenapa kamu diam? Istri dan anakmu sehat kan?"
Tanya Clara.
"Ya mereka baik-baik saja, oh ya Clara, aku ingin mengembalikan ini sama kamu?"
Ucap Nico sambil memberikan sebuah cek yang pernah Clara berikan padanya.
Clara sangat terkejut dan tidak mengerti mengapa Nico mengembalikan cek darinya.
"Aku tidak sempat memakai sepeserpun, itu sebabnya aku kembalikan padamu, dan sekarang aku sudah tidak mempunyai hutang padamu lagi?"
Ujar Nico dengan ekskresi wajahnya yang tenang.
Clara tidak bisa menerima semua ini, karena ini bukan kesepakatan mereka sebelumnya.
__ADS_1
Clara menolak dan memasukan kembali cek itu kedalam saku kemeja Nico, Clara pun kini bersikap sedikit kasar pada Nico dengan menarik kerah bajunya coba mengancam Nico jika sampai dia memaksa mengembalikan cek darinya, maka jangan salahkan dia jika Clara akan menyebar luaskan Vidio mereka hingga sampai ke tangan Clara.
Mendengar ancaman tersebut, Nico pun sangat terkejut, dia tidak menyangka jika Clara ternyata lebih licik dari yang dia kira, Clara berhasil membuat Nico tidak berdaya.