
Nico membuka ponsel nya,dia menerima kiriman foto dari ibunya,
Saat melihat foto itu Nico sangat marah,tangannya mengepal seakan ingin menghajar siapa saja yang ada di dekatnya,
Clara yang melihat ada yang janggal dari Nico coba bertanya mengapa Nico diam tanpa kata,
Nico pun menunjukan foto Malika di hp nya,
"Astaga bukannya ini Malika,kekasihmu"
Tanya Clara coba memanasi suasana hati Nico agar semakin membenci Malika,
Teringat akan pesan dari Tiara,Nico coba berpikir jernih,dan meredam semua amarahnya,agar dia tidak bertindak gegabah seperti kemarin,
"Ia itu Malika"
Jawab Nico singkat,
Clara pun heran mengapa Nico langsung biasa saja saat dirinya coba menyalakan api di kemarahannya,
Clara pun kesal,dalam hatinya dia terus mengumpat,
Nico dan Clara akhirnya sampai di depan rumah Nico,
Rumah sederhana yang tidak terlalu besar,rumah sederhana yang masih beralaskan keramik hitam nuansa rumah zaman dulu,jendelanya pun sebagian masih berbahan kayu,
Di depan rumah rindang dengan pohon jambu air dan pohon mangga,sungguh sangat teduh dan sejuk jika angin bertiup,
Clara menyukai suasana sejuk di rumah Nico,
Suasana yang jauh dari hiruk pikuk kota Jakarta yang sangat panas,
Merekapun turun dari mobil,
"Masuklah Clara,maaf rumah ku kecil,"
Ucap Nico mempersilahkan Clara masuk kedalam rumah,
Saat membuka pintu,adiknya yang besar menyambut kedatangannya,
"Ka Nico"
Ucap Andini salah satu adik Nico,
"Din,kamu sehat,dimana ibu?
Nico menanyakan kabar adiknya dan keberadaan ibunya,
Andini pun mengatakan jika ibunya pergi keluar, mungkin sebentar lagi akan kembali,
Dan benar saja,tak selang beberapa lama saat Nico menyuruh Clara untuk duduk ,
Bu Ratna pun datang,
Bu Ratna sangat senang melihat anaknya pulang,
"Co,anakku"
Bu Ratna langsung memeluk Nico mencurahkan kerinduannya,
Karena Bu Ratna tidak menyadari kedatangan Clara yang duduk di kursi ruang tamu,
Bu Ratna langsung mengumpat tentang Malika dan biaya rumah sakit si bungsu pada Nico,
"Ibu bingung co, adikmu masih belum bisa pulang,dia harus masih di rawat di rumah sakit,kita cari uang darimana untuk biaya nya co,ibu sangat bingung sekali,di tambah Malika lagi,ibu kesal dengan Malika,sepertinya dia memang sudah mengkhianatimu co"
__ADS_1
Ucap Bu Ratna yang sedang kesal pada Malika,
Nico menyuruh ibunya untuk tidak bicara terlalu keras,karena ada Clara di rumah,Bu Ratna pun meminta maaf karena tidak tahu ada Clara,
Diapun langsung menemui Clara yang sedang duduk di kursi ruang tamu,
Clara mendengar semua yang Bu Ratna katakan kepada Nico,dia pun menyusun rencana dalam pikirannya,
***
Malika sangat bahagia bertemu dengan Nico,
Malika memeluk erat Nico mencurahkan kerinduannya yang teramat dalam,
"Nico aku sangat merindukanmu ,aku sangat mencintaimu"
Malika tidak melepaskan sedikitpun pelukannya meski Nico tidak memeluknya balik,
Nico hanya terdiam,dia menghela nafasnya dalam-dalam,
Seakan sedang menahan luapan amarah,Nico coba melepaskan pelukan Malika perlahan,
"Kamu kenapa co,apa kamu tidak merindukanku?"
Tanya Malika dengan tatapannya yang dalam pada Nico,
Nico terdiam sejenak,seakan sedang menyiapkan sebuah kata yang ingin dia ucapkan kepada Malika,Nico pun memegang bahu Malika,
"Apa kau mencintaiku?"
Tanya Nico,
Malika heran,mengapa Nico bertanya seperti itu,apa maksud nya,
"Bukankah selama ini kau tahu betapa aku mencintaimu co?mengapa kau bertanya seperti itu padaku,?"
Nico memaksa Malika untuk menjawab pertanyaannya dengan jujur,
"Jawab saja pertanyaan ku,apa kau mencintaiku?"
Tanya Nico kembali dengan nada yang tinggi,
Membuat Malika terkejut,
"Ya aku mencintaimu co"
Jawab Malika,
"Kalau kau memang mencintaiku,ikutlah denganku,tinggalkan ibumu"
Jawab singkat Nico pada Malika membuat Malika begitu terpukul,
Mengapa Nico sampai hati memberikan pilihan yang sangat berat kepadanya,
Tidak mungkin Malika meninggalkan ibunya di sisa usianya yang mulai senja,dan tidak mungkin juga Malika harus meninggalkan ibunya dalam hal apapun,
"Kau diam kan,itu artinya cintamu hanya sebatas di mulut saja,kau tidak bisa memilih cinta sejati mu untuk hidupmu sendiri,aku kecewa sekali padamu Malika"
Ucap Nico melepas genggaman tangan Malika kepadanya dengan sangat kasar,
"Tapi co,"
Malika tidak bisa meneruskan semua ucapannya,karena dia merasa tidak bisa memilih salah satu diantara dirinya dan ibunya,
Malika menangis memohon pada Nico untuk tidak meninggalkannya,
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku co"
Ucap Malika bersedih,
Namun Nico bersikap acuh pada Malika,Nico hanya ingin kepastian dari Malika,
Apakah Malika memilihnya atau memilih ibunya,
"Jika kau memilih ibumu,maka lepaskan aku lupakan aku untuk selamanya,anggap aku tidak pernah ada didalam hidupmu "
Ucap Nico tegas membuat Malika semakin bersedih,
Tiba-tiba saja Bu Arum datang membangunkan Malika yang berlutut sedih seakan memohon cinta Nico untuknya,
"Malika anakku, beraninya kau"
Bu Arum langsung menampar Nico dengan sangat keras di hadapan Malika,
Melihat pipi Nico memerah karena tamparan ibunya,Malika menegur ibunya,
"Ibu mengapa kau menampar Nico,apa salahnya?"
Malika bertanya seakan membela Nico,
Bu Arum terkejut,karena anak yang dicintainya berani menegurnya hanya untuk pria yang tidak tau sopan santun seperti Nico,
"Kau masih bertanya mengapa ibu menampar pria ini,?dan Kau berani menegur ibumu,ibu sangat kecewa sama kamu"
Jawab Bu Arum
"Pria ini telah membuat anak ibu menangis dan berlutut seperti pengemis,ibu tidak bisa menerima itu nak"
Lanjut Bu Arum kecewa pada Malika karena telah membela Nico dihadapannya,
Malika begitu sangat bingung dan sedih,Nico terus memaksanya untuk memilih antara dirinya dan ibunya,
Air mata Malika tidak mampu meluluhkan perasaan Nico yang sakit hati kepada Bu Arum karena telah memaksanya untuk berpisah dari Malika,
Nico sengaja memaksa Malika untuk membuat pilihan karena dia ingin membalaskan sakit hatinya kepada Bu Arum,
"Cepatlah Malika,kau pilih aku atau ibumu"
Tegur Nico memaksa Malika untuk cepat mengambil keputusan,namun Malika hanya bisa terus menangis dan diam,
"Kau anakku nak,kau tidak mungkin akan meninggalkanku"
Ucap Bu Arum pada Malika berharap Malika tidak akan salah memilih keputusan,
Bu Arum yang sedih karena dilema anaknya jatuh tersungkur,ke tanah,air matanya terus mengalir karena takut Malika akan pergi darinya,
Namun seketika Keenan datang membangunkan Bu Arum dan mengajaknya berdiri,
Keenan tersenyum pada Bu Arum
Seraya berkata,
"Malika sudah dewasa,dia sudah bisa memilih keputusan dalam hidupnya,kau jangan khawatir,berikan Malika kebebasan untuk memilih"
Ucap Keenan pada Bu Arum yang tak kunjung berhenti menangis,Keenan berusaha membuat Bu Arum tegar untuk jawaban keputusan Malika,
"Aku tidak tahu harus memilih siapa,aku tidak ingin memilih satu diantara kalian,aku begitu mencintai Nico dan aku sangat menyayangi ibuku,kalian sama-sama orang yang sangat aku sayangi "
Isak tangis Malika pecah kala dia tidak bisa memilih satu diantara dua,
"Berarti aku anggap jawabanmu adalah kau lebih memilih ibumu dari pada aku,baiklah,mulai hari ini kau jangan pernah lagi hubungi aku,anggap saja aku sudah tiada bagimu,karena aku memang tidak berarti apa-apa untukmu"
__ADS_1
Jawab Nico dengan nada lantang pada Malika,
Dia kecewa karena Malika tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan,