
Sebagai pengantin baru, tentunya mereka memang masih belum mempersiapkan segalanya seperti barang rumah tangga, lantaran mereka memang tidak terpikir sebelumnya untuk hidup mandiri.
"Kamu tenang saja co, aku masih ada tabungan untuk membeli kasur dan peralatan dapur, tapi kita harus segera membelinya sekarang? Sebelum hari semakin sore, jika tidak nanti kita tidur pakai apa? Hihi"
Ucap Malika memberitahu Nico jika dirinya masih mempunyai uang untuk membeli barang keperluan mereka.
Nico sempat terdiam, dia tidak mau memakai uang Malika untuk kebutuhan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Nico tidak mau harga dirinya sebagai kepala keluarga jatuh hanya karena Malika yang membelikan semua keperluannya.
"Tapi aku tidak bisa menerima dan memakai uangmu"
Malika pun memeluk Nico dan tersenyum padanya, Malika mengatakan jika semua yang dia miliki adalah miliknya juga, karena mereka sekarang sudah hidup bersama.
"Jadi kamu tidak usah sungkan co, kita kan sekarang sudah hidup bersama, kita juga harus bekerjasama demi masa depan keluarga kita yang bahagia, aku tidak keberatan ko, ayolah kita pergi keluar untuk membeli keperluan kita dulu."
Pinta Malika pada Nico yang membuatnya tidak bisa menolak.
Nico pun membalas pelukan Malika dengan mencium bibir dan keningnya.
"Kamu memang cintaku "
Ucap Nico pada Malika dengan mengecup bibir mungil Malika dengan hangat dan mesra.
__ADS_1
Malika pun hanya tersenyum tanpa membalas kecupannya,
Sebelum membereskan rumah, akhirnya mereka pun menuju tempat perbelanjaan furnitur rumah dan membeli semua kebutuhan mereka.
"Kamu tidak salah sayang, kenapa kamu membeli ini semua? Bukankah yang kita butuhkan hanya kasur dan kompor gas saja?"
Tanya Nico yang terkejut melihat Malika ternyata banyak membeli barang keperluannya.
Malika memilih kulkas, mesin cuci, rice cooker dan keperluan rumah tangga lainnya dengan uangnya sehingga Nico sedikit sinis padanya, Nico merasa dirinya tidak dihargai sebagai suaminya.
"Gak apa-apa sayang, ini semua kan untuk kebutuhan kita,"
Nico yang tidak bisa marah pada Malika hanya diam dengan raut wajah yang tidak suka, Malika menyadari jika Nico saat ini sedang kesal padanya karena berlebihan dalam membeli kebutuhannya, tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi.
Merekapun akhirnya kembali bersama ke rumah baru mereka bersama barang yang mereka beli, semua perabotan rumah sudah tertata rapi di tempat yang seharusnya.
Rasa lelah pun kini mendera keduanya.
Malika yang mulai merasa lapar bicara pada Nico berharap Nico hendak memasakkan makanan kecil untuknya.
"Aku sangat lelah sayang, kamu masak saja sendiri"
__ADS_1
Penolakan Nico membuat Malika sedikit sedih, karena disaat dirinya sedang mengandung, ingin sekali dia mendapat perhatian dari Nico dari hal sekecil itu.
Dengan terpaksa Malika pun pergi ke dapur untuk memasak.
Tangan Malika gemetar karena menahan lapar dari siang tadi, diapun mulai merasa pusing dan akhirnya Malika jatuh pingsan di dapur.
Nico tidak menyadari jika Malika jatuh pingsan,
Namun untunglah Nico akhirnya merasa jika tidak ada yang beres dengan Malika, karena tidak terdengar suara langkah kakinya memasak di dapur,
Nico langsung mengecek keadaan Malika dan betapa terkejutnya dia saat melihat Malika tergeletak di lantai dengan air rebusan mie di wajan yang hampir tumpah mengenai wajahnya.
"Astaga Malika?"
Dengan terburu-buru Nico coba menyelamatkan Malika dengan mengangkatnya menuju kamar,
Wajah Malika sangat putih pucat, Nico pun sangat mencemaskan nya.
Nico tidak tahu harus berbuat apa saat ini,?
dia sangat khawatir,
__ADS_1