Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Menuju persalinan


__ADS_3

Clara pun merasa gagal dan berpikir untuk membuat rencana lain agar rumah tangga mereka bisa hancur.


***


Hari demi hari Malika dan Nico lewati dengan penuh kasih sayang dan perhatian satu sama lain, Nico yang sangat menyayangi Malika tidak membiarkan istrinya kerepotan walau hanya sesaat.


Nico selalu menjaga kesehatan Malika dan calon anaknya agar tetap sehat dan kuat.


Hubungan mereka semakin kuat ditengah badai yang selalu Clara ciptakan untuk memisahkan mereka.


Namun bukannya mereka semakin menjauh, justru keduanya semakin dekat dan hidup tentram, karena mereka sangat berpegang teguh akan cinta mereka masing-masing.


Mereka tidak akan percaya dengan kabar buruk yang menimpa keduanya tanpa ada bukti atau pengakuan sendiri akan setiap tuduhan yang tercipta.


Dan kini usia kandungan Malika sudah menginjak 8 bulan, tinggal menghitung Minggu calon anaknya akan segera lahir ke dunia.


"Jagoan papa, tendangan kaki mu di perut ibu semakin kuat ya"


Sambil mengusap perut Malika yang sudah semakin membesar, Nico mengajak bicara bayinya dengan sangat bahagia.


Dan disaat itu pula, Malika yang mulai mencemaskan bekal persalinannya bertanya pada Nico.


"Oh ya mas, bagaimana? Apa kamu sudah menyiapkan bekal persalinan kita, tinggal menghitung Minggu loh, kamu tahu sendiri, tabunganku sudah habis untuk bekal kita sehari-hari, ditambah ibu kamu terus meminta uang untuk biaya sekolah adikmu"


Mendengar semua pertanyaan Malika kepadanya tentang biaya persalinan membuat Nico terdiam, karena sebenarnya dia masih belum menyiapkan semuanya.


"Kamu jangan pikirkan itu, kamu fokus saja dengan


Bayi kita, jaga kesehatannya jangan sampai kamu stres nanti bayi kita juga ikut stres"


Pesan Nico pada Malika membuatnya merasa dia sangat dicintai oleh Nico, meskipun Malika tahu jika sebenarnya Nico pasti belum mempunyai bekal untuk persalinannya.


Nico pun berangkat kerja seperti biasanya,


"Aku berangkat kerja dulu ya, ingat kamu jangan melakukan hal yang berat, istirahat saja oke"


Nico mencium kening Malika sebelum berangkat kerja.


"Ya, mas hati-hati dijalan ya, semangat kerjanya "


Jawab Malika mengantar Nico berangkat kerja sampai depan pintu rumahnya.


...


Setelah Malika memastikan Nico sudah berangkat kerja, Malika berniat untuk menghubungi ka Suci tanpa sepengetahuan Nico.


Malika hendak meminjam uang untuk biaya persalinannya nanti, karena dia sangat cemas jika Nico tidak berhasil mendapatkan bekal persalinannya di waktu yang tepat.


Malika pun menghubungi ka Suci.

__ADS_1


Seperti biasa mereka saling menanyakan kabar masing-masing.


"Alhamdulillah kabar Malika baik ka? Bagaimana dengan ka Suci dan Alana?"


Ka Suci pun menjawab jika semuanya baik-baik saja, Malika pun sedikit terdiam, dan dengan nada yang rendah, Malika pun mengutarakan maksud hatinya untuk meminjam uang pada ka Suci.


Meski dia malu namun Malika tidak mempunyai jalan lain.


Ka Suci pun tersenyum mendengar Malika meminjam uang padanya.


"Kenapa Kaka tersenyum?"


Ka Suci pun berkata jika Malika tidak harus meminjam uang kepadanya, karena dia sendiri sedang menjalankan bisnis ibunya bersama mang Eman.


Jadi uang nya adalah uang Malika juga,


"Kamu tidak usah sungkan untuk meminta hak mu Malika, ini bisnis ibumu, Kaka hanya meneruskan saja sesuai permintaanmu"


Jawab ka Suci pada Malika.


Malika pun merasa tidak enak meminta sebab dia tidak membantu memodali usaha ka Suci meskipun dia meneruskan usaha ibunya.


"Kamu sudah Kaka anggap seperti adikku sendiri, maka apapun yang kamu perlukan, bicaralah jangan sungkan? Berapa yang harus Kaka siapkan untuk biaya persalinan kamu?"


Malika pun meminta pada ka Suci untuk tidak memberitahu Nico, karena dia pasti akan marah jika tahu dirinya mendapat uang dari orang lain, Malika sudah tahu betul pribadi Nico, dia tidak akan menerima pemberian orang lain selagi dia masih mampu untuk berusaha.


Suci pun paham dengan niat Malika,


"Baik ka, terimakasih, salam untuk mang Eman dan semuanya"


Kini Malika pun mulai merasa tenang karena dirinya akan mendapatkan uang dari ka Suci untuk biaya persalinannya nanti malam.


Malika pun kembali pada aktifitasnya seperti biasa, dia bersih bersih rumah dan halaman depan, karena Malika bosan jika harus tidur dan nonton tv sepanjang hari.


Malika pun membawa air dari kamar mandi untuk mengepel ruang tengah, namun kaki Malika tak sengaja tersandung dan jatuh hingga ember yang dia bawa pun ikut terjatuh menimpanya.


"Ah..."


Malika kesakitan, dia coba berdiri namun tidak bisa, Malika panik kala melihat darah keluar membasahi kakinya.


"Hah ... Darah "


Malika coba menarik napasnya dalam, tidak ada jalan terakhir selain berteriak minta tolong berharap ada tetangga atau orang lewat mendengar teriakan minta tolong ya.


"Tolong... Tolong "


Teriak Malika meminta tolong,


Dan ternyata Bu Marni tetangga samping Malika mendengar teriakan minta tolong Malika dan segera melihat apa yang terjadi.

__ADS_1


Pintu depan terbuka, Bu Marni pun segera masuk dan mencari Malika,


"Astaga nak Malika"


Bu Marni sangat terkejut melihat Malika yang tergeletak jatuh kebasahan dengan darah yang mengucur di sepanjang kakinya.


"Tolong saya Bu Marni, Perut saya sakit"


Ucap Malika meminta tolong pada Bu Marni.


Bu Marni pun segera membantu membangunkan Malika dengan sekuat tenaganya.


Namun tenaga wanita setengah tua itu terlalu lemah untuk membantu Malika bangun.


Bu Marni pun pergi keluar sebentar untuk meminta bantuan yang lainnya.


Untunglah satpam komplek disana sedang berjaga dan membantu Malika bangun,


Bu Marni pun segera menelpon ambulan.


"Kamu harus segera ke rumah sakit nak, jika tidak nanti terjadi sesuatu pada bayimu, kamu terus tarik napas yang dalam ya".


Ucap Bu Marni pada Malika yang sedang kesakitan.


"Ah...sakit Bu, perut Malika sangat sakit"


Darah terus mengalir tak berhenti, tenaga Malika pun seakan terkuras bersamaan dengan mengalirnya darah dari **** *************.


"Yang kuat nak, sebentar lagi ambulan datang sayang, yang kuat ya"


Bu Marni memang tetangga yang baik, usianya sama dengan usia ibunya Malika, maka Malika tak sungkan jika harus bercerita ini itu padanya.


Dan akhirnya ambulan pun datang, Malika pun segera di bawa ke rumah sakit.


"Pak satpam tolong jika ada suaminya beritahu dia jika Malika pergi bersama saya ke rumah sakit ya, ponsel Nico tidak aktif, sepertinya dia sedang bekerja"


Pesan Bu Marni pada pak satpam untuk memberitahu Nico semuanya.


***


Nico yang saat itu sedang bekerja, kembali teringat akan pertanyaan Malika tentang biaya persalinan anaknya.


"Waktunya hanya sebentar lagi, tapi uangku masih belum cukup untuk biaya persalinan Malika, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat?"


Semua pertanyaan itu kini terus berputar di pikirannya.


Andre pun bertanya apa yang terjadi padanya? Mengapa dia terlihat sangat murung, Nico menceritakan semua masalahnya pada Andre, dan ternyata Andre mempunyai jalan keluar.


"Kamu tinggal bicara saja dengan bos, kalau tidak pada Clara, mereka pasti akan membantu ko, kemarin saja si Joni pinjam pada bos untuk biaya operasi anaknya, tapi itu juga jika bos sedang ada disini, jika tidak akan sedikit lebih sulit, dia kan tidak setiap hari datang kemari"

__ADS_1


Jawab Andre dengan solusinya.


__ADS_2