Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Operasi persalinan Malika


__ADS_3

Ambulan pun tiba di rumah sakit, wajah Malika sudah mulai memucat, dan lemah, Bu Marni tetap berusaha untuk membuat Malika tersadar agar dia tidak pingsan.


"Yang sabar ya nak, semua pasti akan baik-baik saja, kamu jangan khawatir, bayimu pasti akan selamat, suamimu juga sudah ibu beritahu".


Ucap Bu Marni berharap Malika akan merasa sedikit lebih tenang menghadapi musibah yang dia alami saat ini.


Rasa mulas yang luar biasa kini sedang Malika rasakan di beberapa menit meski air ketubannya sudah pecah bersamaan dengan darah yang terus mengalir dari jalan lahirnya.


"Ah


sakit Bu, Malika tidak kuat"


Sepintas Malika melihat bayangan Bu Arum ada di sampingnya, Bu Arum nampak tersenyum ke arah Malika seakan memintanya untuk kuat menjalani perjuangan yang sedang dia hadapi sekarang.


"Ibu "


Bayangan itu pun menghilang kala dokter datang untuk segera memeriksa keadaan Malika,


Melihat darah yang terus mengalir dari jalan lahir Malika, sang dokter pun meminta Malika untuk segera melakukan operasi, jika tidak maka akan berbahaya bagi ibu dan bayinya.


Suster pun memanggil keluarga Malika untuk menyetujui dan menandatangani surat perjanjian untuk operasinya, Bu Marni bingung, dia tidak mempunyai hak untuk memutuskan, karena hanya Nico lah yang berhak


Bu Marni coba menghubungi Nico beberapa kali, namun masih tidak aktif, akhirnya dia pun segera menuju tempat kerja Nico agar dia tahu jika saat istrinya sedang berjuang.


...


Karena taksi tidak kunjung dia dapatkan, Bu Marni akhirnya mencari motor ojek agar bisa lebih cepat sampai ke tempat Nico bekerja.


Sesampainya di bengkel tempat Nico bekerja, Bu Marni berteriak memanggilnya.


"Nak Nico, Nico"


Teriak Bu Marni pada Nico membuat semua orang yang mendengar terkejut, termasuk Clara dan Nico sendiri.


Nico berpikir mengapa tetangganya itu datang kemari dan memanggilnya dengan sangat khawatir, Nico pun segera menemui Bu Marni dan bertanya apa yang terjadi? Mengapa dia datang kesini?.


"Ada apa Bu? mengapa ibu terlihat sangat cemas, duduklah, minum lah dulu, Bu Marni terlihat sangat lelah".


Nico menyodorkan segelas air putih pada Bu Marni.


"Istrimu Malika harus segera operasi nak, ibu sudah coba beberapa kali menghubungimu namun tidak bisa? Dokter sedang menunggu persetujuan mu untuk melakukan operasi ini, itu sebabnya ibu kemari untuk memberitahu kamu secepatnya agar Malika bisa segera di tindak"


Mendengar semua kabar dari Bu Marni mengenai Malika, Nico sangat terkejut, tanpa berpikir apapun, Nico segera menancap gas menuju rumah sakit bersama Bu Marni.

__ADS_1


Nico hanya meminta Andre untuk menyampaikan pada Clara jika dirinya tidak bisa full bekerja hari ini,


"Tolong ya bro sampaikan saja kalau aku ijin pulang, aku malas bertemu dengan Clara"


Pamit Nico pada Andre sebelum pergi ke rumah sakit.


...


Di rumah sakit, Malika yang saat ini sudah masuk kamar, masih belum dokter tindak, karena menunggu persetujuan dari Nico sebagai suaminya.


Malika masih merasakan kontraksi yang luar biasa di usia kandungannya yang masih 8 bulan.


"Sakit sekali dok "


Lirih Malika yang kesakitan menahan semua derita pendarahan dan pecah nya air ketuban dari dalam rahimnya.


Nico pun akhirnya datang dan terkejut melihat Malika kesakitan, keringat dingin membasahi wajah Malika,


"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu jika kamu akan segera melahirkan"


Ucap Nico meminta maaf pada Malika yang sedang menahan sakitnya.


"Bapak suaminya? Mohon kemari sebentar pak, dokter memanggil bapak"


Nico pun mengecup kening Malika


"Kamu pasti kuat, aku akan selalu ada bersamamu"


Nico pun pamit pada Malika dan menuju ruangan dokter, di dalam Nico di hadapkan dengan selembar kertas yang harus dia tandatangani yang menyatakan jika Nico menyetujui operasi Malika.


"Bagaimana pak, ini memang cukup beresiko, melihat keadaan istri bapak yang lemah, bisa menyebabkan segala kemungkinan buruk akan terjadi"


Nico pun bertanya berapa biaya operasi Malika?


Dokter mengatakan jika biayanya memang cukup mahal.


Tanpa banyak berpikir lagi, Nico pun menyetujui semua yang dokter sarankan padanya


untuk kelancaran persalinan Malika. Dokter pun meminta Nico ke ruang administrasi untuk Menyelesaikan pembayarannya terlebih dahulu.


"Baiklah dok,"


Nico pun keluar dari ruang dokter dan menuju administrasi,

__ADS_1


"Saya mau tahu rincian biaya atas nama pasien Malika Bu?".


Tanya Nico pada petugas administrasi.


Beberapa lembar kertas rincian biaya operasi Malika pun keluar, betapa terkejut Nico saat melihat total biaya operasi Malika yang sangat besar.


"Astaga, darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak ini"


"Ini gak salah Bu, semua total nya hampir 80juta?"


Tanya Nico dengan nada suara yang tidak percaya.


Petugas administrasi pun menjelaskan semua rincian tersebut.


jika semua sudah termasuk biaya rawat inap ibu dan bayinya.


Nico pun menghela napasnya panjang, tabungan persiapan persalinan Malika hanya ada 8 juta, itupun uang tabungan Malika dulu yang selalu dia simpan,


"Masih banyak kurangnya, kemana aku harus mencari?"


Nico pun kembali bertanya apakah semua bisa dibayar sebagian dahulu.


Dan ternyata bisa, Nico pun bisa sedikit bernapas saat mendengar jika biaya persalinan Malika bisa di cicil.


"Baiklah sus, saya bayar sebagian dulu ya"


Nico pun membayar sebagian tagihan untuk biaya operasi Malika.


Selepas itu, Malika yang kini sudah di bawa dokter ke ruang operasi untuk dilakukan tindakan operasi Cesar, karena usia kandungannya yang masih muda, dengan pendarahan yang terjadi di jalan rahimnya mengakibatkan Malika harus melakukan operasi Cesar.


***


Lampu operasi sudah menyala, Malika kini terbaring dengan hanya menggunakan selembar kain yang menutupi tubuhnya, beberapa jarum menyuntik punggung Malika membius sebagian tubuhnya agar saat operasi, Malika tidak merasakan sakit.


Kedua lengan Malika pun juga tak lepas dari suntikan infus dan pendeteksi nadi di tangannya, kontraksi di perut Malika yang sudah semakin terasa membuatnya terus merasa kesakitan.


Malika kini seakan pasrah pada takdir hidupnya, dia berdoa pada sang pencipta untuk kelancaran persalinannya.


Di ruang operasi, dokter ditemani 3 suster yang membantu operasi kelahiran Malika.


Saat setengah tubuhnya mulai mati rasa, Malika yang sedikit tersadar kini mulai tidak terlalu merasakan sakit kontraksi diperutnya.


Karena ternyata operasi mulai berjalan tanpa Malika bisa melihat akibat terhalang tirai kain diatas dadanya.

__ADS_1


__ADS_2