
Air mata yang seakan tumpah segera Malika tahan, karena tidak ingin menyakiti ibunya dengan tetesan air matanya yang tak kunjung berhenti.
Malika menatap wajah Bu Arum untuk yang terakhir kalinya, menatap wajah perempuan yang selama ini selalu ada untuknya, menjadi bayangannya.
"Maafkan Malika Bu, di saat terakhir ibu, Malika belum bisa membuat ibu bangga?"
Tatapan Malika akan harapan sang ibunda agar dirinya bisa berhasil menjadi seseorang yang sukses dan berguna.
Malika sangat ingat betapa ibunya sangat besar menyimpan harapan masa depan yang cerah kepadanya.
Bu Arum selalu berharap jika Malika bisa mengangkat derajat ibunya, namun yang terjadi Malika justru membuat ibunya kecewa dengan semua yang telah dia lakukan bersama Nico.
Nico pun nampak tidak ada di dalam menemani Malika yang sedih, kemana Nico?
Semua menanyakan keberadaan Nico,
Suci pun menanyakan keberadaan Nico pada Malika,
Malika sendiri baru menyadari jika Nico tidak ada bersamanya.
"Aku tidak tahu dimana Nico ka?"
Jawab Malika.
__ADS_1
Suci pun meminta Malika untuk bersabar dan jangan berlarut dalam kesedihan, ikhlas dan berusaha tegar.
"Jangan sedih lagi Malika, ikhlaskan ibumu, aku yakin ibumu saat ini sudah tenang di sisi Allah"
Mendengar semua ucapan Suci, Malika pun berusaha sabar dan ikhlas melepas kepergian sang ibu.
...
Di tempat lain, Nico ternyata sedang menyendiri di tempat sepi, dia sangat menyesali semua yang telah dia lakukan kepada Bu Arum.
"Bodoh bodoh bodoh"
Nico terus menampar pipinya sendiri dengan keras.
Nico marah pada dirinya sendiri, mengapa dia harus melenyapkan orang yang sangat Malika sayangi, tidak seharunya dia melakukan itu.
Saat membaca surat yang di tulis dari Bu Arum untuk Malika, saat itu juga niat buruk Nico untuk melenyapkan Bu Arum pun dimulai.
Setan merasuki jiwa Nico yang sedang panas.
Nico menyesali apa yang telah dia lakukan pada Bu Arum, dia berniat untuk jujur pada Malika, tapi
"Apa harus aku bicara yang sebenarnya pada istriku? Tapi aku tidak sanggup kehilangan dia, aku juga tidak bisa menahan beban dosa ini?"
__ADS_1
"Ah.."
Nico kembali berteriak berharap beban di hatinya sedikit berkurang.
Nico pun berencana untuk pindah ke Jakarta membawa Malika agar dia tidak terus dihantui rasa bersalah pada Bu Arum.
"Ya seperti nya aku memang harus pindah ke Jakarta membawa Malika, itulah jalan satu-satunya"
Ucap Nico pada dirinya sendiri.
***
Pemakaman Bu Arum pun berlangsung dengan lancar, banyak sekali yang mengantar dan membantu kelancaran pemakamannya, karena Bu Arum dikenal tetangga yang sangat baik dan dermawan, bukan hanya kepada karyawan konveksi nya saja, Bu Arum juga selalu berbagi pada tetangga atau orang yang tidak sengaja lewat depan rumahnya.
10 pegawainya sangat kehilangan Bu Arum, para pelanggannya rancangan dan kaitannya juga sangat terpukul akan kepergian Bu Arum.
"Innalilahi Bu Arum, ke apa secepat ini engkau pergi?"
Ucap Bu Irma salah satu pelanggan setianya.
Diapun Tutut bersedih.
Malika yang sedari tadi hanya ditemani Suci dan Alana, melihat kesana kemari mencari keberadaan Nico yang tidak kunjung datang ke acara pemakaman ibunya.
__ADS_1
"kemana Nico pergi, mengapa dia tidak mau menghadiri pemakaman ibuku?"
Apa salah ibuku hingga dia tidak ingin melihatnya untuk yang terakhir kali.