
Malika tiba di cafe,dia sangat sedih karena berani melawan larangan ibunya untuk tidak keluar rumah,namun cintanya yang buta telah membuat Malika tidak bisa menahan kerinduannya untuk bertemu dengan Nico.
"Maafkan aku,kamu sudah lama menunggu ya?"
Malika meminta maaf pada Nico karen telah membuatnya menunggu lama.
"Tidak apa-apa,aku belum terlalu lama tiba disini,kamu mau pesan makan apa? Biar aku pesankan"
Malika pun meminta Nico untuk memesan nasi bakar kesukaannya
"Baiklah,sebentar ya"
Nico memanggil pelayan dan memesankan makanan dan minuman untuk Malika.
Malika meminta maaf pada Nico atas semua yang dilakukan oleh ibunya tadi.dia tidak menyangka jika ibunya bisa Setega itu padanya.
"Aku menangis dari tadi co,aku memikirkan kamu,aku tidak tega melihat kamu diperlakukan seperti itu oleh ibu"
Raut wajah malika.memang terlihat sedih,kantung matanya pun berat.terlihat sekali jika pikirannya sedang tidak baik-baik saja.
Nico menggenggam tangan Malika dan memandangnya dengan dalam,
"Apa kamu memang benar-benar mencintaiku Malika?"
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu lagi,kamu tahu jawabannya sendiri,jika aku sudah tidak mencintai kamu,untuk apa aku ada disini sekarang,mungkin aku akan menuruti ibuku untuk tidak menemui mu lagi "
Malika tersinggung atas pertanyaan Nico padanya.
Nico pun meminta maaf karena telah menyinggung perasaannya.
"Maafkan aku sayang,aku tidak bermaksud seperti itu,aku hanya ingin kamu membuktikan cinta kamu kepadaku"
"Bukti...bukti apa?"
Malika bingung dengan maksud Nico padanya.
"Ya bukti,bukti kamu mencintaiku"
Jawab Nico dengan serius.
"Memangnya kamu mau bukti apa dariku"
Dengan tersenyum Malika menjawab dan menggoda Nico.
"Jika ibumu tetap tidak merestui hubungan kita,kamu mau jika aku ajak kamu kawin lari"
Malika terkejut dengan ucapan Nico,dia tidak menyangka jika pikirannya sangat pendek,hingga mengajaknya kawin lari,
Namun meskipun begitu,Malika tetap tersenyum dan mengira jika Nico hanya bercanda.
"Hihihi apa sih kamu, masa ia kita kawin lari,ngaco kamu "
"Aku serius Malika"
Malika tidak percaya jika Nico dengan seriusnya mengajak dia untuk kawin lari.
"Ah sudah ah jangan bahas itu,ayo kita makan dulu,dari tadi aku belum makan"
Malika memalingkan pembicaraannya tentang bukti cinta dia pada Nico.
Nico mencari kesempatan untuk mencampurkan obat tidur di minuman Malika dengan tidak sengaja menumpahkan airnya hingga mengenai celana jeans Malika.
"Astaga,Nico gimana nih,celana ku jadi basah"
"Maafkan aku sayang,bersihkan saja dulu nanti kita beli jeans baru di depan"
Malika pun pergi ke toilet untuk mencuci tangannya dan membersihkan jeans nya yang terkena lemon tea,
__ADS_1
Dan disaat yang bersamaan Nico pun mencampurkan obat bius itu di minuman Malika.
"Maafkan aku Malika,aku terpaksa melakukan ini,aku tidak ingin kehilangan kamu sayang"
Ucap Nico dalam hatinya.
Malika pun kembali dari kamar mandi,dia melanjutkan makan nya.
Makan pun selesai,Malika pun meminum minumannya dengan pelan hingga habis.
Nico sesekali melihat Malika yang sedang meminum air yang sudah dicampur obat itu
"Sekarang kita mau kemana co?rasanya aku malas pulang malam ini,tapi aku takut ibuku mencari ku"
Mendengar ucapan Malika yang malas untuk pulang membuat ide buruknya muncul,Nico meminta Malika untuk menelpon Tiara dan mengatakan jika dirinya hendak menginap di rumah Tiara.
Sedikit ragu dirasa Malika untuk membohongi ibunya,karena dia bukan tpe anak yang suka membohongi ibunya,tapi kali ini Malika merasa Nico benar,
Tidak apa-apa berbohong sekali saja,pikir Malika saat itu.
Malika pun bertanya lalu dia akan tidur dimana malam ini jika tidak pulang ke rumahnya ataupun rumah Tiara.
"Gitu saja ko repot,banyak hotel disini,kamu bisa bermalam disana malam ini"
Malika pun kembali bertanya sekarang mereka mau kemana,
Nico pun meminta Malika untuk bersiap,karena dia akan membawa Malika ke tempat yang akan membuat kesedihannya hilang.
Dan ternyata Nico mengajak Malika pergi ke sebuah bar malam di daerah sana.
Nico mengajak Malika masuk bersamanya,walaupun Malika menolak,namun Nico memaksanya.
"Ayolah sekali saja,aku yakin pasti kesedihan kamu akan hilang"
Malika yang tidak bisa menolak ajakan Nico akhirnya masuk bersamanya ke dalam bar tersebut,
Alunan musik yang kencang serta lampu disko yang membuat suasana semakin khas,membuat hati Malika tidak tenang,
Dia meminta Nico untuk kembali keluar,namun ternyata Nico sudah asik dengan alunan lagu yang berirama.
Dia tidak memikirkan Malika yang mengajaknya keluar,dan saat Malika duduk melihat sekitar,tiba-tiba saja kepalanya sangat pusing,matanya terasa berat,
"Kepalaku pusing co,kita pulang yuk"
"Sebentar lagi sayang,kita nikmati saja dulu alunan musiknya ya"
Sepertinya obat bius yang dicampur Nico dalam minuman Malika kini mulai bereaksi,
Malika terlihat sangat pusing dan sesekali memegang kepalanya,
Jantungnya berdebar dan tubuhnya terasa gerah,
"Aku kenapa,apa yang terjadi padaku,aduh "
Malika merintih,
Tangan Malika menggenggam tangan Nico dengan sangat erat,sehingga membuat Nico terkejut.
Nico pun melihat Malika dan tersenyum,dia sudah bisa menebak jika saat ini obatnya sudah bereaksi.
Nico menghampiri dan mendekap Malika yang sedang pusing.
"Kamu kenapa sayang"
"Kepalaku sangat sakit co,"
"Yasudah kamu istirahat ya,"
__ADS_1
Nico membawa Malika ke sebuah kamar hotel yang memang sudah dia persiapkan untuknya.
Malika tidak menyadari jika dirinya kini sudah sampai di kamar hotel.
"ini dimana co?"
"Sudah kamu jangan banyak berpikir,sekarang lebih baik kamu istirahat ya"
Nico sengaja bersikap biasa saja pada Malika agar Malika terpancing untuk Nico dekat dengannya.
"Tapi kamu mau kemana,jangan tinggalkan aku sendiri,aku takut"
Nico pun memeluk Malika dalam keadaan setengah sadarnya.
"Aku mencintai kamu Malika"
Bisik Nico di sisi telinga Malika dan mengecupnya dengan lembut.
"Ah"
Desah Malika tidak kuasa menahan rasa yang bergetar kala Nico mengecup telinganya dengan pelan.
Nico pun memandang wajah Malika yang terlihat sangat lemas,
Nico bertanya pada Malika apa dia mencintainya,
Malika pun menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu mau melakukannya untukku?"
Malika yang tidak mengerti sedikit membuka matanya,seakan bertanya apa yang akan dia lakukan maksud Nico.
Malika yang lemah karena pengaruh obat itu di buat pasrah,
Sambil memandang wajah Malika yang cantik,
Tangan Nico mulai membuka kancing kemeja yang dipakai malika.
Dalam hati kecilnya,Malika sadar jika Nico saat ini sedang coba membuka bajunya,dia ingin sekali memberontak dan menghentikan Nico,
Namun hasrat yang bergelora tidak bisa menghentikan semuanya.
"Apa yang kami lakukan co?"
ucap Malika dengan lemah sembari coba melepaskan pelukan tangan Nico.
"Sudahlah Malika,kamu jangan banyak bicara,aku sudah tidak tahan lagi"
Nico menjatuhkan Malika di atas bantal, dengan keadaan kemeja yang sudah terlepas,
Dengan penuh hawa napsu,Nico pun langsung menyergap bibir Malika dan menahan tangannya agar tidak bisa melawan napsunya.
Dengan semua hasrat Nico, malika pun mulai terangsang,dia tidak bisa menahan hasratnya untuk membalas ciuman Nico yang begitu napsu padanya.
Dan kini kedua bibir mereka beradu menyatu dalam satu keindahan yang membuat semuanya basah,
Nico seakan tidak memberi ruang untuk Malika bernapas dan sesekali tangannya mulai meraba dua gundukan indah yang masih tertutup bra merah yang sangat indah berpadu padan dengan keindahan kulitnya yang putih mulus.
***
Prak
Pas foto Malika di rumah Bu Arum pun jatuh dan pecah,
Bu Arum terkejut dan langsung meraih foto Malika.
"Ada apa ini,semoga Malika baik-baik saja"
__ADS_1