
Malika memohon dan bersujud di kaki Bu Arum untuk semua kesalahannya bersama Nico.
Dirinya terus membela diri jika semua pasti salah, dia tidak mungkin hamil, Malika meminta sang ibu untuk percaya padanya dengan semua yang dia katakan.
"Malika mohon Bu, percaya pada Malika, laporan itu pasti salah, Malika tidak mungkin hamil Bu, maafkan Malika"
Air mata Malika tak henti mengalir deras karena penyesalannya.
Namun Bu Arum yang terlanjur kecewa dan sakit hati untuk semua perbuatan anaknya, rasanya pintu maaf untuk Malika seakan tertutup, terlebih lagi penghianatan malika.kini membekas dengan tumbuhnya janin di rahim Malika.
"Pergi kamu dari sini, pergi"
Bu Arum mengusir Malika dengan paksa dan nada keras,
Suci berusaha untuk menghentikan Bu Arum yang mengusir Malika, namun semua sia-sia saja.
Hingga pada puncaknya, Malika yang di tarik Bu Arum ke bawah terus meminta maaf mohon ampun pada sang ibu untuk tidak mengusirnya dan mau memaafkannya.
"Bu tenang Bu, Bu Arum"
Suci terus berusaha meski hasilnya tetap sama.
Malika menangis sedih dengan perlakuan sang ibu yang begitu kasar kepadanya.
"Ampuni Malika Bu, Malika menyesal, Malika.minta maaf Bu, jangan usir Malika, Malika mohon"
Tanpa henti semua kata itu terucap dari bibir Malika, berharap Bu Arum akan sedikit melunak.
Setiba di bawah, Bu Arum langsung melepaskan genggaman tangan Malika tepat di depan pintu dengan sangat kasar, hingga tubuh Malika terbanting sedikit ke ujung pintu.
Malika kembali bersujud, memohon ampun pada sang ibu untuk tidak mengusirnya.
"Jangan usir Malika Bu, saya mohon, kasian dia "
Ujar Suci pada Bu Arum.
"Saya tidak bisa memaafkan Malika lagi, dia sudah beberapa kali menghianati kepercayaan ibu, dan sekarang dia sudah tega melempar kotoran di wajah ibu, kenapa kamu tidak bunuh saja ibu nak, kenapa?
Ibu lebih baik tiada daripada harus menyaksikan hidup kamu seperti ini bersama pria tidak baik itu"
Bu Arum masih diliputi rasa amarah yang mendalam pada Puspa.
Hingga akhirnya saat Malika terlempar tepat di depan pintu rumah.
__ADS_1
Nico yang sedari tadi mendengar semua pertikaian ibu dan anak itu langsung datang dan meraih Malika yang terjatuh.
Nico tahu jika Malika sedang hamil anaknya, dan dia juga baru tahu saat tak sengaja dia menguping pertengkaran Malika dan Bu Arum di kamarnya.
Malika sangat terkejut dengan kedatangan Nico padanya.
Nico menatap wajah Malika yang basah dengan air matanya yang tiada henti, kelopak mata yang sudah sembab dan bibir nya yang mulai merah pucat.
Nico berusaha membangkitkan Malika dengan menggenggam tangannya, Nico kini berdiri tepat di depan dirinya coba menjadi pahlawan baginya.
"Saya akan bertanggung jawab untuk semuanya Bu"
Ucap Nico pada Bu Arum yang sangat membenci dirinya.
Bu Arum kembali tak kuasa menahan air mata dan kekecewaannya kala melihat sang anak kini berada di genggaman pria yang dia benci.
"Aku akan bertanggung jawab untuk semuanya Malika, aku berjanji, kamu percaya kan padaku?"
Ucap Nico meyakinkan Malika agar dia percaya jika apapun yang terjadi padanya, dia akan selalu ada untuknya.
Dia akan bertanggung jawab untuk semuanya.
Tatapan mata Malika pun berbinar kala mendengar semua ucapan Nico yang meyakinkan dirinya jika Nico akan bertanggung jawab atas kehamilan dirinya.
Cinta buta Malika membuatnya yakin jika Nico akan bisa membahagiakan dirinya.
"Terserah apa kata kalian, ibu sudah tidak perduli lagi denganmu, kau sudah bukan anakku lagi Malika"
Kata Bu Arum kembali mengusir Malika.
Suasana pun semakin panas kala Bu Arum yang terus menangis mengusir Malika, namun Malika masih tetap memohon ampun dan bersujud padanya berharap ibunya mau menerima hubungan mereka.
"Maafkan Malika Bu, Malika mohon, merestui hubungan kami, Malika sangat mencintai Nico Bu, Malika mohon"
Dalam hati Bu Arum terus menggerutu pada Malika
"Andai kamu tahu siapa Nico sebenarnya nak, ibu yakin kamu pasti tidak akan pernah menemuinya lagi, tapi sekarang semua sudah terlambat, janin yang ada di dalam perut mu tumbuh, dia tidak tahu apa-apa dengan semua dosa yang kalian perbuat"
Dan disaat itu, dada Bu Arum terasa sangat sesak, dia menarik nafasnya dalam dan memegang dada kirinya hingga akhirnya jatuh pingsan.
Semua terkejut melihat Bu Arum tak sadarkan diri, Malika langsung membawa Bu Arum ke kamarnya dengan di bantu Nico, sedangkan Suci berusaha menghubungi dokter untuk segera memeriksa Bu Arum.
Malika sangat tidak tenang melihat ibunya tak sadarkan diri.
__ADS_1
Dia terus mengusap lengan ibunya berharap Bu Arum cepat sadar.
"Bangunlah Bu, bangun"
Ucapnya sangat terlihat sangat khawatir.
Sedangkan Nico berdiri di belakang Malika dengan penuh rasa kecemasan yang sama dengan Malika,
Meski Nico tidak menyukai Bu rum karena tidak merestui hubungan mereka, tapi dia tidak tega jika harus melihat ibu kekasihnya itu terkapar tak sadarkan diri.
Suci pun menghampiri keduanya.
"Maafkan aku Malika, bukannya aku sok tahu atau ikut campur masalah kalian, tapi sebaiknya Nico pergi dulu sebelum ibumu kembali sadar, karena bagaimana pun ini adalah sebuah kesalahan yang sangat besar, ibumu sangat kecewa dengan semua yang kalian perbuat, dan ini memang salah"
Kata Suci dengan mata yang berkaca-kaca, dia juga tidak menyangka jika Malika bisa melakukan hal rendah seperti itu dengan Nico.
Karena dia tahu jika Malika adalah gadis yang sangat baik, dan pandai menjaga diri dan kehormatannya.
Tapi apa yang terjadi sekarang, membuat keyakinan Suci kepadanya sedikit berkurang.
Malika langsung memeluk Suci, disaat ibunya sangat memarahi dirinya, Malika bersujud karena masih ada yang peduli dengannya.
"Terimakasih ka Suci, jujur aku sangat takut sekali ka, ibu kenapa?"
Malika terus memeluk Suci hingga berkurang sedikit kecemasannya.
Nico pun menuruti permintaan Suci dan Malika untuk pergi keluar agar Bu Arum tidak melihatnya.
Nico pun pergi dari kamar Bu Arum
Entah apa yang dirasakan Nico sekarang, dia tidak menyangka jika Malika bisa langsung hamil meski mereka baru melakukan ritual itu sekali,
Nico merasa bangga karena kini dia akan siap menjadi seorang ayah dari wanita yang dicintainya.
Meski sedikit sedih akan keadaan Bu Arum, namun Nico merasa jika sekarang dia tidak akan pernah kehilangan Malika lagi meski apapun yang terjadi.
Nico menunggu Malika di luar, dokter pun datang dan langsung memeriksa Bu Arum.
Malika meras khawatir
Dia terus berdoa semoga ibunya tidak kenapa-kenapa.
Sang dokter yang memeriksa Bu Arum pun memanggil Malika dan Suci.
__ADS_1