
Di rumah sakit Bu Arum dan Alana sedang menunggu jam besuk tiba,hingga akhirnya Alana berlari dengan semangat yang menggebu untuk bisa bertemu dengan ibunya.
"Alana sudah tidak sabar ingin bertemu ibu"
Ucap Alana yang sudah sangat merindukan ibunya,dan akhirnya Alana pun masuk ke dalam ruangan suci,didalam suci juga sudah tersadar dan sedang menanti kedatangan Alana.
"Ibu"
Panggil Alana membuat senyum suci kembali merekah,
"Alana anakku"
Suci memeluk Alana dengan pelan.
Keduanya pun saling berpelukan melepas rindu satu sama lain.
Suci sangat berterimakasih sekali pada Bu Arum karena telah menjaga Alana dan membantu dirinya dan Keenan selama ini.
"Entah harus dengan apa saya membalas kebaikan ibu dan Malika,semoga Allah senantiasa menjaga ibu dan Malika,"
Ucap suci pada Bu Arum,
Suci pun terlihat sangat sedih dan menangis.
"Andai ibuku masih ada,mungkin dia akan sama baik dan perhatiannya seperti Bu Arum"
Lanjut suci dengan menyeka air matanya.
Bu Arum pun menyuruh suci untuk tidak sedih karena dia bisa menganggap dirinya sebagai ibu kandungnya sendiri,Bu Arum akan senang jika suci bersedia menganggap dia ibunya,berbagi kesedihan dan kebahagiaan diantara mereka.
Suci pun memeluk Bu Arum mencurahkan segala kerinduan pada ibunya yang telah tiada.
Suci merasa nyaman saat memeluk Bu Arum,dia tidak menyangka bisa bertemu dengan tetangga sebaik Bu Arum.
Air mata suci pun kini mulai mengering,senyumnya pun terpancar begitu sangat tulus.
***
Nico dan Clara pun berangkat,tak lupa Nico berpamitan kepada ibunya,sebenarnya Nico masih betah dan belum mau berangkat ke Jakarta.
Tapi demi mencukupi segala kebutuhan keluarganya Nico pun terpaksa harus berangkat dan kembali bekerja.
Clara juga ikut pamit pada Bu Ratna,tak lupa Clara mengingatkan kesepakatan mereka tentang Nico.
"Jangan lupa dengan kesepakatan kita "
Bisik Clara di telinga Bu Ratna membuatnya sangat terkejut, Bu Ratna merasa bersalah karena dirinya sudah bersepakat tentang Nico.
Bu Ratna merasa menyesal,andai waktu bisa terulang kembali,ingin rasanya Bu Ratna menolak tawaran Clara padanya untuk membiayai semua kebutuhan rumah sakit anaknya kala itu,namun semua sudah terjadi,nasi sudah menjadi bubur,
Bu Ratna kini harus menelan pil pahit yang sudah dia dia ciptakan sendiri.
__ADS_1
.
Bu Ratna pun hanya menganggukkan kepalanya pada Clara,dia tidak mau sampai Nico tahu,meskipun pada kenyataannya Nico tahu jika ibunya sedang mempertaruhkan nya saat ini.
Dalam hati,Nico pun bertekad untuk menjadi anak yang sukses,agar dia bisa membahagiakan keluarganya dengan hasil yang dia dapatkan.
Merekapun berangkat,sepanjang jalan Nico hanya diam,Clara pun merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini,
Akhirnya Clara pun mulai bertanya pada Nico mengapa dia terus diam dan apakah dia melakukan kesalahan?
"Kenapa kau terus diam co,apa aku punya salah?"
Tanya Clara pada Nico.
Nico masih terdiam,sebenarnya dia hanya sedang memikirkan Malika dan ingin sekali bertemu dengannya.
"Maaf Clara,tidak ko kamu tidak ada salah,aku hanya sedang fokus jalan saja"
Jawab Nico menjelaskan alasannya mengapa dia diam,tentunya Clara tidak percaya begitu saja dengan semua alasan Nico kepadanya.
Clara pun kembali bertanya tentang Nico dan Malika.
"Bagaimana sekarang perasaanmu sama Malika?"
Sebuah pertanyaan yang membuat Nico terpaksa menghentikan laju mobilnya karena terpaksa.
Clara sangat terkejut karena Nico berhenti mendadak seperti ini,
Tanya Clara dengan nada tinggi karena takut celaka dan terkejut.
Di hadapan Clara,Nico berlaga membenci Malika,dia sedikit memarahi Clara karena telah menanyakan tentang Malika.
Nico tidak ingin mendengar nama Malika,dan dengan semua itu membuat Clara berpikir jika Nico sudah sangat membencinya.
Dibalik sikapnya yang acuh tentang Malika,ternyata Nico ingin meladeni Clara karena dia ingin membantu ibunya,
Sebelum berangkat,sebenarnya Bu Ratna jujur pada Nico tentang kesepakatannya,Bu Ratna tidak bisa menyembunyikan Maslah sebesar ini sendirian.
"Ibu sangat takut dan sangat mencemaskan mu nak,ibu tahu kau begitu sangat mencintai Malika,tali ibu juga tidak bisa memaksa kami untuk menerima Clara di hidupmu,kau berpikirlah"
Ucap Bu Ratna pada Nico sebelum berangkat.
Nico berniat ingin memanfaatkan Clara dan memeras semua uang yang dia miliki.
***
Lidya pun kini menghadap ke ruangan pak Keenan,disana Keenan sudah menunggu kehadiran Lidya untuk membawa surat pemecatan dan pesangonnya.
"Saya minta maaf pak,mohon jangan pecat saya"
Lidya memohon pada Keenan agar tidak jadi memecatnya.
__ADS_1
Namun pak Keenan sudah membulatkan tekadnya untuk memecat Lidya,karena dari dulu Lidya sering berbuat ulah,
Meski harus Keenan akui,kinerja Lidya memang sangat baik dan berpengaruh di kantornya,namun dia tetap harus memecat Lidya.
Keenan tidak banyak bicara,dia takut hatinya akan kembali meluluh dan tidak jadi memecat Lidya,
"Itu surat pemecatan dan pesangon kamu"
Ucap Keenan menyodorkan sebuah amplop kuning berisi beberapa dokumen dan uang cash sebagai pesangonnya selama dia bekerja di Mahardika grup.
Lidya terus memohon pada Keenan untuk tidak memecatnya dan mau memaafkannya,bahkan Lidya pun mengakui jika dirinya lah yang sudah memindahkan Malika ke area pemakaman umum.
Permintaan maaf Lidya tidak di terima oleh pak Keenan,hingga akhirnya Lidya pun tidak berkutik dan akhirnya membawa surat pemecatannya dan langsung pergi dari ruangan Keenan dengan penuh amarah.
"Malika...ini semua gara-gara Malika,awas kamu "
Ucap hati Lidya dalam kesedihannya .
Diapun berlalu dari ruangan Keenan dan mulai masuk kedalam mobilnya untuk pulang.
Malika yang melihat itu semua dibuat sedih,karena dia merasa dialah yang menyebabkan mbak Lidya di pecat,
"Apa harus aku minta alamat lengkap mba Lidya ya?aku ingin minta maaf dan berteman dengannya".
Ucap Malika .
***
Clara terus memaksa Nico untuk menjawab semua pertanyaannya,Clara terus mengungkapkan perasaan bahwa dirinya sangat mencintai Nico.
Clara pun terus memaksa Nico untuk menjawab iya .
"Ayolah co,berikan jawabanmu,aku ingin kita Pacaran"
Nada bicara Clara semakin memaksa.
Namum Nico masih terlihat sangat fokus pada laju mobilnya,dia tidak ingin menjadi bagian dari wanita licik seperti Clara.
Nico ingin coba mengerjai Clara dengan terus diam,dan disaat mobil terhenti,di tengah-tengah kemacetan ibu kota
Nico memberikan setangkai bunga untuk Clara,
Sungguh sesuai perkiraan Nico,
Clara pasti akan luluh meski hanya diberi setangkai bunga,
Nico pun menghentikan lajunya dan mulai keluar dari mobilnya tepat rest area berada.
Nico memegang tangan Clara dan menatapnya tajam.
Nico menanyakan suatu hal pada Clara.
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang akan sangat sulit untuk Clara jawab,