Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
mengajak ke Jakarta


__ADS_3

Apa yang terjadi pada Nico, hingga dia tega memintanya untuk tidak memikirkan ibunya.


Malika pun dibuat semakin sedih dengan semua ucapan suaminya itu,


Harapan hati Malika, Nico bisa menjadi penguat dalam menghadapi kesedihannya ini, tapi justru dia semakin membuat hatinya sedih dan kesepian.


Tanpa bicara sepatah katapun, Malika pun pergi menuju kamarnya meninggalkan Nico yang masih berdiri di depan pintu.


"Ibu, "


Malika menangis sejadinya di dalam kamar, kerinduan hati pada sang ibu membuatnya sangat sedih, ditambah semua ucapan Nico padanya yang menyayat hati.


Malika memeluk foto dirinya bersama Bu Arum dan mengingat semua kenangan indah setiap hari bersamanya.


Nico pun masuk kedalam kamar Malika dan memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku sayang, bukan maksudku menyakiti hatimu, aku hanya tidak ingin kamu berlarut dalam kesedihan, karena ibumu juga pasti akan sedih jika melihat kamu terus seperti ini, dan ingatlah, ada janin yang tumbuh di rahim kamu yang sangat membutuhkan perhatianmu, jika kamu terlalu stres ah maka bayi kamu juga akan ikut sedih"


Nico meminta maaf pada Malika.


Malika pun merasa bersalah karena sudah mengira jika Nico tidak peduli dengan kesedihannya.


Padahal dia sangat memperhatikan dirinya dan janin yang sedang tumbuh di rahimnya.


Malika pun menuruti permintaan Nico.

__ADS_1


Nico meminta Malika untuk membersihkan diri agar dia bisa lebih segar.


***


Setelah selesai mandi, Malika duduk melihat cermin di kamarnya, bayangan ibunya kembali melintas saat dia sedang menyisir rambutnya yang basah.


"Sini biar ibu sisir rambut kamu, ingat ya kamu tidak boleh mewarnai rambut kamu, karena warna hitam lebih indah dan natural"


Ucap Bu Arum kala menyisir rambut Malika.


Kini bukan air mata yang keluar dari wajah Malika kala teringat Bu Arum, namun Malika hanya tersenyum simpul jika teringat kenangan bersamanya.


Nico pun menghampiri Malika yang sedang duduk di meja riasnya.


Nico memijat pundak Malika dengan halus, Nico pun bertanya bagaiman keadaannya sekarang? Apa lebih segar dari sebelumnya?


"Oh ya sayang, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu?"


"Apa?"


Nico pun terdiam, seakan dia sedang merancang sebuah kata untuk Malika agar bisa diterima hatinya.


"Tapi jika aku katakan ini padamu sekarang, apa kamu akan menerimanya?"


Tanya Nico serius pada Malika.

__ADS_1


Malika pun dibuat penasaran dengan apa yang ingin Nico katakan kepadanya.


"Memangnya hal penting apa yang ingin kamu katakan padaku co?"


Nico manarik napas panjangnya, dan akhirnya dia pun mengatakan sesuatu yang membuat Malika terkejut.


"Sebenarnya sudah dari kemarin ingin aku katakan hal penting ini? Tapi situasi tidak memungkinkan terus untuk menyampaikannya padamu?"


Malika pun menatap Nico dengan serius,


"Sebenarnya, aku..."


"Aku apa co, ayo katakanlah"


"Sebenarnya kemarin pak Broto meneleponku, dia meminta aku untuk pindah bekerja ke Jakarta lagi, aku sudah katakan jika aku sudah menikah, dan itu sebabnya pak Broto menyewakan sebuah kontrakan disana untuk kita"


"Jadi maksud kamu, kita akan pergi ke Jakarta?"


Tanya Malika pada Nico dengan raut wajah yang tidak bahagia.


Nico menganggukkan kepalanya.


" Kamu mau kan ikut aku ke Jakarta?"


Nico mengajak Malika pergi ke Jakarta bersamanya, sebagai istri harusnya dia akan menuruti permintaan suami, tapi entahlah dengan Malika, melihat raut wajahnya yang kecewa, Nico ragu jika Malika akan mau ikut dengannya.

__ADS_1


"Tapi co..."


__ADS_2