Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Tangis bayi Malika


__ADS_3

Dalam hatinya, Malika terus berdoa dan memohon ampun pada sang pencipta akan semua kesalahan yang pernah dia perbuat, bayangan sang ibu pun kini muncul kembali di sampingnya, terlihat Bu Arum sedang memegang lengan Malika agar dirinya tidak merasa takut dan kesakitan.


"Ibu"


Ucap Malika tersenyum pada arah ibunya.


Sementara diluar ruangan, Nico sangat mencemaskan keadaan istrinya itu, dia berharap istri dan anaknya selamat.


Ponsel Nico pun berbunyi, Andre memberitahu jika bos besar sedang tidak ada di kantor, beliau sedang berada di luar kota dalam sebulan ini, tidak mungkin bagi Nico untuk meminjam uang pada atasannya.


Nico pun bertanya.


"Lalu pada siapa lagi aku harus meminjam uang sebanyak itu Dre?"


Tanya Nico.


Andre pun memberi saran


"Bagaimana jika kamu coba pinjam pada Clara, dia pasti akan membantumu"


Kata Andre pada Nico.


Nico pun terdiam, dia memikirkan apa yang Andre sarankan padanya,


Nico pun akhirnya memutuskan untuk meminjam pada Clara.


Meski hatinya menolak, namun dia tidak memiliki pilihan yang lain.


Nico coba membuka ponselnya dan mencari nomor Clara.


Jarinya terasa berat saat dia hendak memencet tombol panggil.

__ADS_1


Suara detak jantung Malika terdengar sampai ke luar ruangan, sehingga membuat Nico akhirnya tidak berpikir panjang untuk memencet tombol panggil pada Clara.


Panggilan pun terhubung, Clara menjawab panggilan dari Nico.


"Clara, aku ingin bicara sesuatu denganmu, apa kamu bisa bertemu denganku sekarang juga?"


Dari sebrang telpon Clara pun menjawab jika dirinya saat ini sedang sibuk, mungkin malam dia bisa bertemu dengannya.


"Baiklah kalau begitu, nanti malam bisa kan kita bertemu?"


Clara pun menyetujui permintaan Nico untuk bertemu dengannya malam ini.


Nico berharap Clara bisa membantunya meminjamkan uang untuk membayar persalinan Malika.


***


Ditengah semua harapan yang terbaik untuk istri dan anaknya, suara tangis bayi terdengar membuat semua harapan itu nyata.


Ua


Ua


Suara tangis bayi berhasil membangunkan lamunan Nico akan biaya persalinan Malika, air matanya menetes seakan tidak percaya jika suara tangis bayi itu adalah anaknya.


"Saudara pak Nico"


Suster pun memanggilnya untuk masuk melihat bayi tersebut sebentar.


Rasa tidak percaya jika kini dirinya sudah menjadi seorang ayah, sedang Nico rasakan.


Haru bercampur bahagia menyelimuti perasaannya.

__ADS_1


Nico masih belum percaya jika bayi merah mungil yang sedang suster gendong dihadapannya adalah buah cintanya dengan Malika.


Suster meminta Nico untuk segera mengadzani bayinya.


Dengan segera Nico pun menyeka air mata bahagianya dan langsung mengadzani bayinya itu.


Entah apa yang dia rasakan saat selesai mengadzani bayinya itu, bayangan Bu Arum sepintas melintas di hadapannya, dan itu membuatnya merasa takut dan cemas.


"Apa mungkin semua karena rasa bersalahku yang berlebihan pada Bu Arum?"


Pikir Nico saat selesai mengadzani anaknya.


"Bayi bapak akan kami pindahkan dulu ke ruang inkubator ya pak, sebab bayi bapak dan ibu Malika lahir prematur, sang bayi juga terlalu banyak meminum air ketuban yang pecah, jadi kami harus melakukan penanganan terlebih dahulu"


Pesan suster pada Nico membuatnya kembali cemas, Nico pun menanyakan keadaan Malika.


"Ibu Malika saat ini juga sedang dalam penanganan serius, sebab ibu Malika tidak sadarkan diri"


Pikiran Nico semakin kacau kala mendengar kabar anak dan istrinya tidak baik-baik saja.


Nico bingung apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Tolong berikan penanganan yang terbaik untuk anak dan istri saya sus, saya mohon"


Pinta Nico dengan memohon pada suster untuk kebaikan keduanya.


Rasa cemas yang kini menyelimuti perasaannya, membuat dia tidak bisa berpikir jernih,


Nico memikirkan


"Pasti biaya nya akan semakin bertambah untuk semua ini, astaga"

__ADS_1


__ADS_2