Kesetiaanku Kebodohanku

Kesetiaanku Kebodohanku
Terputuslah semua kekerabatan


__ADS_3

Malika terdiam, dia berpikir apakah dirinya bisa menghadapi dunia diluar sana dengan pernikahannya yang tanpa restu sang ibunda.


Malika ragu akan hal itu, namun dia berusaha untuk bisa melewati semua dengan baik.


Malika pun menjawab jika dirinya akan pergi bekerja, karena tida ada yang tahu dengan pernikahannya, jadi dia tidak ambil cuti walau hanya satu hari.


Nico pun mengijinkan Malika untuk pergi bekerja hari ini,


"Baiklah kalau begitu, aku hantar kamu sampai depan kantor ya? Nanti di jam istirahat kita makan bersama"


Ujar Nico pada Malika.


Malika pun setuju, akhirnya merekapun pergi bekerja.


Nico sangat bersemangat sekali untuk hari ini, semangatnya lebih tinggi dari hari biasanya, mungkin karena semangatnya kini sudah ada di sampingnya setiap waktu.


Di tengah perjalanan, Nico menanyakan keadaan perut Malika yang sedang hamil, Nico menanyakan apa Malika merasakan pusing atau mual.


"Mual ada sih sedikit tapi tidak terlalu, nanti pulang dari kantor kita periksa lagi ya, kamu mau temenin aku co?"


Tanya Malika pada Nico untuk mengantarnya pada dokter kandungan.


Tentunya sebagai calon ayah muda, Nico sangat bersemangat dan antusias sekali ingin menemani sang istri memeriksakan kandungannya.


Malika pun kini tiba di depan kantor, namun eantah apa yang dia rasakan saat melihat pintu kantor tempatnya bekerja, hatinya terasa gelisah.


"Mungkin ini bawaan bayi, ayo semangat Malika"a


Malika coba menyemangati dirinya sendiri. dan berusaha membuang rasa gelisah yang dia rasakan.


Malika pun pamit dan mencium tangan Nico yang sekarang berstatus suaminya.


Malika tersenyum cantik pada Nico, dan itu membuat Nico merasa bahagia dan bersyukur memiliki Malika seutuhnya.


Nico pun berlalu meninggalkan Malika di depan gerbang kantornya, Malika pun mulai memasuki area kantor, suasana masih sangat sepi, karena dia datang terlalu pagi.

__ADS_1


"Tidak biasanya pagi ini terasa sangat sepi sekali dari biasanya? Kemana orang-orang pergi?"


Tanya hati Malika.


Malika pun masuk, dan ternyata semua staf dan karyawan sudah masuk dan mulai kerja, Malika pun bingung, apa yang terjadi, mengapa tidak ada pemberitahuan padanya.


Malika coba bertanya pada salah seorang karyawan yang posisi mejanya dekat dengan pintu, dia bertanya apa yang terjadi, mengapa semua mulai bekerja di waktu yang sangat pagi.


Tapi saat karyawan yang bernama Vidia itu menjawab semua pertanyaannya, Malika justru dibuat terkejut dengan semua ucapan nya.


"Loh Malika, kenapa kamu masih datang kesini?"


Tanya Vidia membuat Malika bingung, mengapa dia tega bertanya seperti itu, dan apa maksudnya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu Vidia?"


Sherli pun datang diantara mereka.


"Malika, bukannya kamu sudah tidak bekerja lagi disini? Lalu kenapa kamu datang kemari? Ada urusan apa kamu kesini?"


Pertanyaan Herli semakin membuat hatinya gelisah dan tidak tenang.


Sherli tetap diam, dia tidak mau menjawab semua pertanyaan kawannya itu.


Hingga akhirnya.


"Semua barang di meja kerjamu sudah pegawai saya rapikan, kau datang kesini mau membawa barang mu kan Malika?"


Suara khas pak Mahardika yang mengatakan semua itu membuat hati Malika sedih, apa sebenarnya yang terjadi pada semua orang, mengapa mereka mengucilkan dirinya dan sejak kapan Malika berhenti bekerja di kantor pak Mahardika.


"Maksud bapak apa?"


Tanya Malika coba bertanya pelan secara sopan, karena dia tahu bagaimana cara bicara dengan orangtua.


"Saat kau memutuskan untuk pergi dan meninggalkan ibumu sendirian apalagi dalam keadaan sakit, disaat itu pula kamu juga sudah meninggalkan pekerjaaan kamu disini, dan itu membuktikan jika kamu bukanlah anak yang baik dan karyawan yang bisa di percaya".

__ADS_1


Jawab pak Mahardika.


Malika dibuat sedih dengan semua yang dikatakan pak mahardika padanya, dia sangat menyesali atas sikapnya pada sang ibu yang menyakiti hatinya.


Karena merasa bersalah, Malika pun tidak banyak bertanya kembali, karena dia tahu, prinsip di perusahaan Mahardika grup semua ikatan keluarga karyawan nya harus tenang dan damai, karena mereka meyakini jika salah satu doa keluarga mereka akan terhubung pada kemajuan perusahaannya.


Itu sebabnya, pak Mahardika memecat Malika, yang notabene salah satu karyawannya yang cerdas dan pintar, namun meskipun begitu, pak Mahardika tidak mau ambil resiko dengan semua doa yang akan di panjatkan Bu Arum untuk anaknya.


Ditambah berita kehamilan di luar nikah Malika, membuat pak Mahardika dan semua staf karyawan sangat kecewa padanya.


Malika pun menundukkan kepalanya dan coba melangkah menuju tempat barang-barangnya di simpan.


Dia bawa semua barang-barangnya dengan air mata yang berurai, Malika sangat sedih, dia tidak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini.


Untuk semua perbuatannya di masa lalu, Malika mengakui jika dirinya memang bersalah, namun dia tidak berpikir akan sampai seperti ini akibatnya.


Semua hubungan seakan putus begitu saja, semua sahabat, keluarga dan bahkan pak Mahardika yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri pun kini balik membenci dirinya.


"Kamu itu wanita pintar dan cerdas Malika, kamu berhak mendapatkan pria yang lebih dari dirinya, tidak seharunya juga kamu buta akan cinta hingga semua ini terjadi, kami sangat kecewa sama kamu Malika"


Ucap Sherli pada Malika sebelum dirinya pergi.


Ingin sekali Malika membela dirinya, jika semua yang dikatakan Sherli tidaklah benar, bukan cinta yang membutakan dirinya, namun Nico lah yang telah menjebaknya.


Namun Malika tidak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi, Malika harus menanggung semua yang sudah dia lakukan bersama Nico.


Kehamilan di luar nikah, memanglah sebuah aib yang besar, tidak salah jika Bu Arum dan yang lainnya sangat kecewa akan perbuatan Malika.


Dalam hati, Malika terus menangis sedih, karena tidak ada seorang pun yang mau menemaninya.


Malika yang malang, bak pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula, Malika yang terlanjur malu lantaran hamil diluar nikah, sekarang harus menanggung derita di keluarkan dari pekerjaan dan dikucilkan oleh semua rekannya.


Malika coba melangkahkan kakinya, semua kenangan akan suasana kantor ini tentu akan dia rindukan, semua hubungan kekerabatan diantara semua staf karyawan tidak akan pernah Malika rasakan lagi meskipun di tempat lain.


Karena di tempat inilah Malika menemukan semuanya, sahabat yang baik seperti Sherli, pemilik yang bersahaja seperti pak Mahardika dan rekan-rekan lainnya yang sudah seperti keluarga, saling peduli dan saling menolong satu sama lain.

__ADS_1


"Tunggu dulu Malika"


Pak Mahardika coba menghentikan Malika sebelum benar-benar keluar dari kantornya.


__ADS_2