
Pagi pun tiba, Malika terbangun dan melihat Nico menggenggam tangan di sampingnya.
Malika melihat wajah Nico yang terlihat sangat lelah.
Pikirannya pun teringat akan Nico yang meninggalkannya tanpa sebab malam tadi, Malika ingin sekali membangunkan Nico, namun dia tidak tega,
Malika mencium tangan Nico dan mengucapkan banyak terimakasih karena dia kembali padanya.
"Terimakasih co, karena kamu sudah mau kembali padaku, meski aku tidak tahu mengapa semalam kamu pergi dariku, aku tahu mungkin ada alasan yang tidak bisa kamu katakan padaku mengapa kamu pergi"
Ucap hati Malika saat mencium tangan Nico.
Nico pun terbangun dan melihat Malika sedang termenung dengan menggenggam tangannya.
" Sayang kamu sudah bangun? Mengapa kamu tidak membangunkan aku?"
Sapa Nico saat matanya terbuka.
Malika pun mengatakan jika dirinya tidak tega membangunkan Nico yang sedang terlelap dan terlihat sangat letih.
Nico pun meminta maaf untuk semua itu.
Malika tidak berani menanyakan alasan mengapa semalam Nico pergi darinya, dia tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka di awal pagi yang cerah ini.
Nico pun menanyakan keadaan Malika? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa sudah lebih baik?
"Untuk saat ini, masih ada rasa sakit di perutku jika aku banyak bergerak co, tapi tidak apa, seiring berjalannya waktu, aku akan segera sembuh dan pulih kembali"
Jawab Malika berusaha kuat di hadapan Nico agar dia tidak mencemaskannya.
Nico merasa lega mendengar kabar jika Malika sudah merasa lebih baik, semoga saja Malika dan bayinya akan segera bisa pulang.
"Oh ya co, apa kamu tidak kerja?"
Nico mengatakan jika hari ini dia ambil cuti selama satu Minggu untuk menemani dan membantu Malika setelah melahirkan.
"Terimakasih ya co, kamu memang suami yang baik"
Malika berterimakasih pada Nico, untuk semua tanggung jawabnya.
...
"Andai kamu tahu Malika, aku bukanlah suami yang baik, akku justru suami yang jahat"
Kata hati Nico saat mendengar Malika memujinya.
Malika pun menanyakan keadaan bayinya pada Nico,
Dia meminta Nico untuk menanyakan pada suster atau dokter kapan dia bisa dipertemukan dengan bayinya.
"Baiklah kamu tunggu sebentar ya, biar aku tanyakan pada suster"
Nico pun berlalu mencari suster untuk menanyakan keadaan bayinya.
__ADS_1
Saat mencari suster, Nico pun tidak sengaja berpapasan dengan nek Rima dan Rishi.
"Nico, kau disini juga?"
Tanya Rishi dengan tatapannya yang sinis.
Nico pun sangat terkejut karena bertemu Rishi di rumah sakit.
"Kau, "
Tanpa menjawab pertanyaannya, Nico hanya meminta maaf karena dirinya sedang terburu-buru.
Nico pun berlalu dari hadapan nek Rima dan Rishi.
"Dia kenapa nak? Sepertinya dia gugup melihatmu?"
Tanya nek Rima pada Rishi tentang tingkah Nico yang salah tingkah.
"Entahlah nek, aku juga tidak tahu, sudahlah bukan urusan kita juga, lebih baik kita segera menemui dr Yadi"
Jawab Rishi coba menyembunyikan kecurigaannya pada Nico dari nek Rima, karena dia tidak mau nek Rima ikut memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu dia pikirkan.
Terlebih itu menyangkut Malika.
Keduanya pun kini menuju dr Yadi spesialis urologi untuk check perkembangan nek Rima.
***
"Untunglah aku bisa menghindar darinya, jika tidak aku tidak tahu harus menjawab apa jika Rishi menanyakan keberadaan ku disini"
Nico pun berpikir jangan sampai Rishi atau neneknya tahu jika Malika sudah melahirkan disini.
"Aku harus segera menemui dokter untuk menanyakan kapan Malika bisa diijinkan untuk pulang"
Dengan segera Nico pun menemui dokter yang menangani Malika.
Dokter mengatakan jika Malika masih belum bisa pulang, karena keadaannya masih belum pulih benar.
"Ibu Malika saat ini masih belum bisa pulang pak, karena keadaannya masih lemah, kita lihat saja dalam 3 hari kedepan, jika ibu Malika sudah mulai pulih, maka ibu Malika dan bayinya sudah bisa pulang"
Jawab dr Novi yang menangani persalinan Malika.
Nico merasa kecewa dengan jawaban sang dokter, karena dia memang sudah tidak betah berada di rumah sakit, rasanya sumpek dan membuat kepalanya pusing.
Tapi apa boleh buat, anak dan istrinya masih belum bisa pulang saat ini, Nico tidak bisa egois memaksakan diri untuk bisa segera pulang.
Di kamar, Malika kini duduk di tempat tidurnya sambil melihat pemandangan luar dari jendela, pemandangan riuhnya ibu kota Jakarta, tidak seindah pemandangan kota kembang Bandung tempat kelahirannya.
Rasa rindu akan rumahnya kini mulai tumbuh dihati Malika.
Malika pun bangun dan berdiri untuk sekedar melatih langkahnya agar dia bisa segera pulih dan bisa pulang, dengan selang infus yang dia pegang, Malika coba berlatih untuk berjalan.
Suster dari belakang coba membantu Malika dan memberinya dukungan, karena itu memang baik untuknya, asal jangan berlebihan.
__ADS_1
"Ayo Bu, ibu bisa berlatih perlahan, pelan-pelan saja, jangan terburu-buru"
Ucap suster yang menemaninya.
Dan ternyata saat Malika, sedang berlatih berjalan dia melihat Rishi sedang bicara dengan salah seorang dokter.
"Keadaan ibu Rima kini mulai membaik, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi, hanya anda harus terus memberinya perhatian dan selalu membuatnya bahagia, jangan sampai Bu Rima berpikir terlalu berat, itu saja pesan dariku"
Kata dr Yadi pada Rishi.
"Baiklah dokter, terimakasih"
Dari belakang, Malika menyapa Rishi dengan langkahnya yang masih lemah.
"Rishi kau juga disini?"
Tanya Malika membuatnya kaget, raut wajah Rishi pun terlihat sangat terkejut melihat Malika dengan infus di tangannya yang sedang berlatih berjalan pasca persalinan operasi Cesar.
"Malika? Kamu"
"Ya, aku sudah melahirkan anakku, oh ya bagaimana keadaan nek Rima? "
Malika maju selangkah menuju Rishi, namun sayang langkahnya melemah hingga dia hampir terjatuh dan Rishi pun berhasil menyelamatkannya lagi untuk yang ke sekian kali.
Rishi melihat jelas wajah cantik Malika meski baru melahirkan, pancaran wajah Malika begitu membuatnya merasa teduh dan damai.
"Kau tidak apa, hati-hati"
Ucap Rishi sedikit gugup kala tersadar akan tatapan mata Malika yang memandangnya.
Malika pun sedikit malu dan berterimakasih karena dia sudah menyelamatkannya.
Kini keduanya duduk di ruang tunggu,
Malika banyak bertanya tentang nek Rima, dia ingin sekali bertemu dengannya.
Namun Rishi justru bertanya pada Malika sejak kapan dia masuk ke rumah sakit? Dan kapan dia melahirkan. Malika pun menceritakan semua yang terjadi padanya sebelum dia akhirnya harus melakukan operasi Cesar.
"Jadi, itu artinya semalam Nico bukan dengan Malika di hotel itu, lalu dengan siapa? Ada yang tidak beres disini? "
Kecurigaan Rishi kini semakin yakin dengan semua cerita Malika padanya jika dirinya tidak pernah ada di hotel dengan Nico semalam, karena pada kenyataanya, Malika disini sedang berjuang melahirkan anaknya.
"Gila memang, jika Nico menghianati Malika disaat dia sedang berjuang melahirkan anaknya"
Pikir Rishi dalam hati memikirkan tentang Nico dan Malika.
"Tapi kenapa juga aku harus memikirkannya? Itu bukan urusanku juga"
Hati kecil Rishi kembali menolak untuk tidak memikirkan tentang Nico dan Malika.
...
"Rishi, sepertinya aku harus segera kembali ke kamarku, aku takut Nico mencari ku jika melihat aku tidak ada di dalam, titip salam untuk nek Rima ya"
__ADS_1
Pesan Malika pada Rishi menyadarkannya dari semua pikiran tentang Malika dan Nico.