
Malika tidak mengerti apa sebenarnya yang ingin ibunya katakan tentang Nico, mengapa tangan Bu Arum terus menunjuk foto ayahnya dan mengucap nama Nico.
"Apa yang ingin ibu katakan?"
Tanya Malika, mulai penasaran, karena dia sudah membawakan pas foto ayahnya, namun Bu Arum masih bersikap tidak baik-baik saja.
"Ni...co di..a "
Dering ponsel Malika pun berbunyi kala Bu Arum hendak mengatakan jika Nico adalah anak dari pembunuh ayahnya.
Dan ternyata panggilan masuk dari Nico.
"Tunggu sebentar ya Bu, Malika angkat telpon dulu"
Betapa hancur hati Bu Arum saat sedikit lagi dia berhasil mengatakan kejujuran, namun Malika justru malah pergi untuk menerima telepon dari Nico.
Nico bertanya apakah Malika sudah makan siang, dia berniat ingin mengajak Malika untuk membeli keperluan ibu hamil, tapi saat Nico mendengar jika Malika sedang berada di rumah Bu Arum.
Seketika dirinya merasa terancam, Nico khawatir jika Bu Arum akan mengatakan tentang dirinya.
Bu Arum pun ternyata masih berusaha untuk mengungkapkan kebenaran tentang Nico.
Bu Arum sedang menulis surat untuk Malika baca nanti di rumahnya.
Di dalam surat tersebut, Bu Arum menceritakan semua yang terjadi pada ayahnya, siapa Nico dan siapa ayahnya.
Bu Arum berharap Malika bisa membaca surat yang di masukan kedalam tas nya dan akan kembali padanya lagi.
...
"Nico menanyakan kabar ibu? Dia juga titip salam untuk ibu semoga ibu cepat sembuh"
Ucap Malika membohongi ibunya, seakan Nico memperhatikan Bu Arum, padahal yang terjadi sebenarnya, Nico justru tidak senang dengan keberadaan dirinya berada di rumah lamanya, Nico bahkan memaksa Malika untuk segera pulang.
Bu Arum tentunya menyadari jika saat ini hati anaknya sedang tidak baik, dia tahu Malika sedang berada dalam tekanan, hanya saja Malika tidak mau sampai ibunya tahu.
"Setelah Suci kembali dari sekolah Alana, tidak apa-apa kan jika Malika kembali ke rumah Nico, tapi Malika janji, Malika akan sering datang kesini"
Jawab Malika pada sang ibu.
Bu Arum hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap bahu Malika coba untuk membuatnya tegar.
Dan benar saja, kekuatan Malika mulai kembali kala sang ibu mengusapnya.
Tak lama berselang, Suci dan Alana pun tiba dari sekolah, Suci terkejut melihat keberadaan Malika di rumah Bu Arum.
Dia tidak menyangka jika Malika datang kembali ke rumahnya, Suci merasa senang saat melihat kebersamaan mereka.
Suci pun berharap jika semua yang terjadi kemarin adalah sebuah mimpi buruk.
__ADS_1
"Ka Suci, Malika titip ibu dulu ya, terimakasih ka Suci sudah sangat baik pada ibu"
Ucap Malika pada Suci.
"Tidak kah kau tinggal disini lagi, kesehatan ibumu pasti akan cepat pulih jika kamu juga selalu ada disini menemaninya,"
Pertanyaan Suci membuat Malika bingung.
Malika terdiam memikirkan semua yang Suci katakan padanya.
Di sudut lain, Suci mengerti sekali dengan kode yang di berikan Bu Arum untuk tidak membebani pikiran Malika dengan semua pertanyaannya.
Suci pun meminta maaf pada Malika dan memintanya untuk tidak memikirkan apa yang barusan dia katakan.
"Baiklah jika kamu mau kembali pada Nico, pergilah biar ibumu bersamaku dan Alana"
Malika pun akhirnya pergi dari rumah Bu Arum dan kembali ke rumah Nico.
Disana Malika sendirian, suasana rumah yang sederhana dan asing di hidupnya membuat dirinya bingung harus berbuat apa.
Malika pun memutuskan untuk masak makanan untuk menyambut Nico pulang dari bekerja.
Malika membuat nasi goreng spesial untuk suami tercintanya itu.
Hingga akhirnya Nico pun pulang, dalam keadaan yang sangat lelah, Nico langsung duduk di kursi.
Malika membawakan secangkir teh manis dingin kesukaannya.ya
"Minumlah dulu, kamu pasti lelah hari ini, wajahmu mengatakan itu"
Nico menatap wajah cantik Malika yang rambutnya masih basah terurai setelah mandi.
"Ya hari ini memang sangat melelahkan, tapi setelah melihatmu, lelah itu seketika hilang"
Malika tertawa geli mendengar rayuan Nico padanya. Dia tidak terbiasa dengan gombalan Nico yang seperti itu.
Malika pun baru menyadari jika Nico bisa merayunya juga.
Nico bertanya mengapa Malika tertawa,
"tidak co, lebih baik sekarang kamu mandi dan langsung makan, aku sudah buatkan nasi goreng spesial untuk kamu"
"baiklah, tapi cium aku dulu"
jawab Nico membuat Malika semakin geli dengan tingkah Nico yang manja.
"Kita kan pengantin baru sayang, masa minta cium saja tidak boleh"
Dengan tawanya yang manja, akhirnya Malika mengalah, Malika mencium pipi Nico dan mendorongnya untuk segera pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Awal kehidupan pengantin baru mereka memang terlihat sangat bahagia.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, Nico yang pencemburu tidak akan membiarkan Malika dekat dengan pria lain selain dirinya, meski mereka sudah menikah.
Selesai mandi, Nico pun teringat akan Bu Arum,
Dia berpikir pasti Bu Arum berusaha untuk memberitahu Malika tentang siapa dirinya.
Dan benar saja, saat Nico membuka tas Malika, terselip selembar kertas yang dilipat berisikan tulisan Bu Arum yang mengatakan jika Nico adalah anak dari Gunawan, orang yang telah membunuh ayahnya.
Seketika mood Nico memanas setelah membaca surat dari Bu Arum untuk Malika.
Wajahnya memerah, tangannya mengepal seakan ingin menghajar seseorang.
"Kamu tidak akan pernah bisa mengungkapkan siapa aku pada Malika, seberapa keras apapun usahamu, Malika sudah menjadi milikku, dan akan selamanya menjadi milikku"
Ucap hati Nico yang marah.
Nico pun menyimpan surat dari Bu Arum di dompetnya.
Kemudian dia pun keluar kamar dan menemui Malika yang sedang menyiapkan makanan untuknya di dapur.
"Dari aromanya kelihatannya enak nih"
Ujar Nico pada Malika memuji aroma masukannya yang wangi.
Malika pun tersenyum dan menyuruh Nico untuk duduk terlebih dahulu.
Malika mengambil segelas air putih untuknya.
Nico pun sangat antusias ingin segera makan masakan sang istri.
Karena ini kali pertama Malika memasak untuk Nico, setelah berstatus istri.
Malika berharap Nico akan menyukai masakannya.
Nico pun duduk dan mulai menyantap nasi goreng spesial buatan Malika untuknya.
Satu suapan masuk di mulut Nico, 2 detik kemudian Nico pun langsung memuntahkan nasi yang sudah masuk di mulutnya.
"Cih... Nasi apa ini "
Sambil memuntahkan nasinya Nico terus menggerutu akan rasa nasi Malika yang aneh.
Melihat Nico tidak menyukai masakannya, Malika pun sangat sedih, dia tidak menyangka sikap Nico padanya akan seperti ini.
"Kamu bisa masak gak sih, kalau gak bisa jangan sok pintar deh, coba kamu rasa sendiri masakannya, emak atau tidak "
Kata Nico pada Malika dengan nada tinggi, dan itu membuatnya semakin sakit hati.
__ADS_1