KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Operasi Indah part 2


__ADS_3

Satu jam terasa seperti lebih dari satu tahun bagi orang-orang yang menunggu antara hidup dan mati.


Yah, sudah satu jam lebih Indah berada di dalam sana, berada di dalam ruang operasi, berjuang antara hidup dan mati, jika ada yang bertanya seperti apa perasaanku?? Maka akan ku jawab, perasaan Indah adalah perasaanku, hati Indah adalah hatiku, dan rasa sakit Indah adalah sakitku. Jadi, posisi Indah yang sedang berjuang di dalam sana juga posisiku.


Aku terduduk lesu dikursi tunggu, Anwar dengan setia menemaniku, sambil sesekali menyeka air mataku. Rasa sakit ini terus menyelusup didalam dada, kulihat Ibu dan Ayah baruku tengah saling menguatkan, di seberangnya kulihat juga Ayah yang sedang menutup wajahnya sambil berkomat-kamit, terus beristighfar, tak lupa Andre dan Ibu mertua Indah 'pun duduk paling dekat dengan pintu ruang operasi.


Satu setengah jam berlalu, akhirnya pintu ruang operasi dibuka oleh salah satu perawat, sontak kami berdiri, dan langsung menghampiri perawat tersebut.


“Dok, gimana keadaan istri saya??” Andre bertanya sambil berlinang air mata, masih kuingat perkataannya tempo hari kepadaku waktu di kaffe, jadi, selama ini Andre tidak pernah mencintai Indah?? Kini aku tahu hati Indah yang sesungguhnya, sakit itulah rasanya, menikah dengan orang yang tidak sungguh-sungguh mencintai kita, rasanya sungguh tidak enak.


“Keadaan Ibu Indah baik-baik saja, beliau sudah melewati masa kritisnya, keluarga harap tenang dan terus bantu do'a, sebentar lagi, Ibu Indah akan dipindahkan keruang perawatan“ jelas perawat dengan tegas.


“Alhamdulillah ... “ ucapan syukur seketika menggema dari bibir seluruh keluarga.


Tubuh Andre seketika melorot kelantai, sejuta penyesalan terlihat dari raut wajahnya.


Tak lama kemudian, perawat mendorong kereta dorong yang di tumpangi Indah, kami semua berdiri, dan mengikuti kemana tubuh Indah di bawa pergi. Dengan perasaan campur aduk aku terus menangis,


“Udah Jan, kamu jangan nangis terus, kan Indah udah baik-baik aja sekarang“ Anwar menenangkanku.


“Hmht, aku takut An, aku takut kehilangan Indah“ Aku terisak dalam dekapan Anwar.


“Dua jam lagi Ibu Indah akan segera sadar, hingga pengaruh obat biusnya habis“ jelas Dokter,


“kalau begitu saya permisi dulu, nanti kalau Ibu Indah sudah sadar harap panggil saya“ Dokter puspita undur diri.


“Baik Dok, terimakasih“ jawab kami kompak.


“Ibu, sebaiknya Ibu pulang saja, istirahat dan bersih-bersih dulu, disini biar sekarang aku yang jaga Indah malam ini“ Aku menatap mata lelah Ibu dan yang lainnya.


“Tidak Jan, Ibu ingin disini menemani Indah,“ tolak Ibu.


“Bu, Ibu sudah lelah, lebih baik Ibu dan Ayah pulang saja, Ibu juga pulang dulu aja yah“ aku mengusap bahu Ibu mertua Indah, yang dari tadi hanya diam dan menunduk.


“Andre juga kalau mau pulang, pulang aja, kalian istirahat dulu aja“ Aku menemui Andre yang tengah merana.


“Gak Kak Jani, aku mau nungguin Indah disini“ jawab Andre.


“Ya udah kalau gitu,“ Aku kembali duduk dikursi dekat ranjang Indah.

__ADS_1


“Aku bakalan nemenin kamu disini Jan“ Anwar mendekatiku, dan mengelus bahuku.


Sedetikpun aku tidak ingin berjauhan dari Indah, aku ingin sebagai seorang Kakak aku bisa menemaninya di masa masa tersulitnya.


“Makasih An,“ Aku menatap haru suamiku.


“Iya sayang, aku ke kantin dulu ya, aku mau beliin makanan buat kamu, kamu mau apa?” tanya Anwar.


“Aku gak mau apa-apa An“ jawabku yang terasa begitu malas untuk makan apapun, padahal dari pagi, aku belum makan apapun, sementara para orangtua sudah pulang dari tadi.


Seperginya Anwar ke kantin, Andre yang dari tadi betah berdiam diri dipojokan, menghampiriku.


“Jan, tolong maafin aku, maafin semua kata-kata aku tempo hari“ Kata Andre, menunjukkan wajah yang dipenuhi oleh rasa bersalahnya.


“Gak apa-apa, aku udah maafin kamu Andre“ jawabku, dengan tatapan masih tertuju pada Indah, yang masih terbaring tak berdaya.


“Jan,“ tiba-tiba Andre mencengkram tanganku.


“Jangan begini Andre,“ Aku melepaskan tangan Andre perlahan.


“Kakak,“ tiba-tiba Indah terbangun, aku segera menghampirinya.


“Iya Kakak,“


“Sebentar, Kakak panggilin Dokter ya“ Aku segera bangkit dan berlari keluar, mencari Dokter Puspita.


“Dokter, adik saya sudah sadar!!“ teriakku pada Dokter yang melintas dihadapanku.


“Oh, Ibu Indah sudah sadar??” tanya Dokter Puspita.


“Iya Dok, ayo cepetan periksa adik saya“ dengan terengah-engah aku segera menuntun Dokter Puspita ke dalam ruangan Indah.


Dokter Puspita mengikuti langkahku.


“Hay bu Indah, gimana sekarang keadaannya?” tanya Dokter Puspita dengan lembut.


“Baik Dok,“ Indah tersenyum.


“Baik, saya periksa dulu sebentar ya“ Dokter kemudian mengecek kondisi Indah.

__ADS_1


“Baik, semuanya baik, Ibu Indah hanya perlu beristirahat yang cukup ya“ Dokter Puspita menjelaskan.


“Baik Dok,“ jawab Indah sambil tersenyum.


“Baik, kalau begitu saya permisi dulu, nanti kalau ada apa-apa, panggil saya saja ya“ pamit Dokter Puspita.


“Baik Dok,“ Dokter Puspita melangkahkan kakinya keluar ruangan.


“Dek, kamu gak apa-apakan?” tanyaku sambil menggenggam tangan Indah.


“Aku gak apa-apa Kak,“ jawab Indah sambil tersenyum.


“Kakak,“ Indah memanggilku dengan suara serak.


“Aku ngantuk, Kakak sama ka Andre bisa keluar dulu?? Aku ingin sendiri“ Pintah Indah dengan tatapan sendunya, aku tau, ada yang Indah sembunyikan, tapi kali ini aku juga harus memberi Indah waktu.


“Baik, Kakak akan tunggu diluar, nanti kalau Indah mau apa-apa, Indah bilang sama Kakak ya“ Aku memundurkan langkah, kemudian keluar dari ruangan Indah, di ikuti Andre.


“Jan,“ lagi Andre memanggilku.


“Andre, aku harap kamu bisa memahami semua kondisi ini,“ Aku sungguh sudah tidak ingin lagi mendengar apapun dari Andre.


“Jan, kenapa diluar??” tiba-tiba Anwar menyapaku, membuat aku dan Andre tersentak kaget.


“Ah, iya, tadi Indah ingin istirahat sendirian katanya“ jawabku.


“Emh gituh, ya udah duduk sini, aku bawain susu hangat buat kamu, kamu minum dulu susunya ya, kamu belum makan dari pagi“ Anwar menyodorkan padaku satu gelas susu yang masih hangat.


“Iya,“ jawabku sambil duduk di bangku di ikuti Anwar, Anwar membuka jas yang digunakannya, dan menyelimutkannya di bahuku.


“Pakai ini ya, kamu kedinginan, ini udah malam“


“Iya, makasih ya An“ Jawabku sambil tersenyum menatapnya.


Sementara itu, ku lihat Andre tengah menatap kami dengan tatapan yang sulit di artikan.


Bersambung...................


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,

__ADS_1


__ADS_2