KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Karyawan baru part 2


__ADS_3

Ibu Dewi seketika membelalakan matanya, dan tertawa terbahak bahak, begitupun dengan karyawan yang lain, mereka tertawa hingga terpingkal pingkal, ada ada saja Anwar ini, aku berfikir, entah dari mana asal tempat tinggal Anwar, di mana dia sekolah dulu, masa kertas A4 saja tidak tau.


Semenjak Anwar masuk di kantor, selalu ada saja tingkah lucunya, seperti hari ini, aku di buat keki plus dongkol plus sakit perut karena tertawa oleh tingkahnya.


kkkrrrrrriiiiinnnngggg....


Bunyi telpon kantor yang posisinya lebih dekat dengan bu Dewi terus berdering, tapi karena bu Dewi seperti biasa sedang menelpon dengan telpon pribadinya, maka aku menyuruh Anwar yang kebetulan lewat untuk mengangkat telpon.


"War, tolong angkatin telpon yang di sebelah sana dong," aku menunjuk telpon di samping bu Dewi.


"Ba baik bu Jani," Anwar mengangguk lalu mendekati meja.


Tanpa rasa khawatir sedikitpun, aku langsung mengerjakan kembali tugasku dengan khusyuk.


"I ini bu, udah di angkat, terus saya apain??"


Gubraaaaakkkk ...


Aku ternganga tak percaya, Anwar memang mengangkat telponnya, iya dia mengangkat telponnya di atas kepalanya, sambil terus di acung acungkan padaku.


"Anwar!!!!?? kamu sebenernya di kirim dari planet mana sih??" seketika bu Dewi membentak Anwar.


"A anu bu" Anwar tampak bergetar dan ketakutan.


"Lagian kamu itu referensi siapa sih, bisa masuk ke perusahaan ini??" tanya bu Dewi


"Ma maaf bu, sa saya tidak mengerti, sebelumnya saya tidak pernah keluar dari rumah, Abah dan Ambu melarang saya untuk bergaul, jadi saya tidak mengerti apa apa" jelas Anwar

__ADS_1


"Di zaman secanggih ini? di zaman semoderen ini?? masih ada orang yang tidak bisa mengangkat telpon??? sungguh terlalu kamu Anwar!!!" bu Dewi terus mengomel


"Eeeehhhh sudah bu, malu di liatin yang lain, nanti ibu cantiknya ilang lho kalo marah marah" aku mencoba melerai mereka, dengan sedikit menggoda bu Dewi, sekedar info bu Dewi ini senangnya di rayu, di sanjung, dan di puji, hhhiii.


"Anwar, ikut saya ke belakang yuk" aku mengajak Anwar pergi, agar tidak jadi pusat perhatian dan bahan ejekan karyawan lain.


Aku menggiring Anwar, setelah tiba di pantry, aku memberinya segelas teh manis, lalu duduk di hadapannya.


"Anwar kenapa?? ko gugup??" aku mencoba bertanya pada Anwar yang sedang gemetaran karena takut, akupun akan mengomelinya.


"Gak papa bu Jani, maafin Anwar ya bu, Anwar nyusahin bu Jani dan yang lainnya," suaranya masih terdengar kaku.


"Gak ko, gak nyusahin, semua orang kan bisa belajar, lagian karyawan baru wajar kok kaya gitu, aku aja dulu lebih kaku dari kamu lho he ..." aku mencoba sedikit menghibur Anwar.


"Bb bu Jani baik banget," Anwar menenggelamkan wajahnya di meja malu malu.


"Bbb bu Jani, usia saya sudah 25 tahun lho" tiba tiba Anwar mengangkat kepalanya.


Aku sedikit kaget, ternyata usia Anwar lebih tua tiga tahun dariku.


"O yah?? kalo gitu Anwar lebih tua dari aku dong, hhee ..." aku tersenyum padanya.


"I iya, sebenernya saya kabur dari rumah, Abah sama Ambu gak ngizinin saya kerja," Anwar mulai menjelaskan ke adaannya.


"O ya? terus gimana? kok Anwar bisa di sini sekarang??" Tanyaku penuh kebingungan.


"I iya, perusahaan inikan punya Abah saya, saya minta anak buah Abah buat masukin saya kerja di sini diam diam"

__ADS_1


Deg,


Aku membulatkan mataku, kayaknya Anwar lagi ngelantur kali ya, kalau dia beneran anak yang punya perusahaan haduh, matilah kita.


Dari semenjak Anwar datang, kita semua memperlakukan Anwar dengan sangat tidak baik. Kalau bu Dewi tau Anwar anak pemilik perusahaan, dia pasti bakalan sujud sujud di bawah kaki Anwar, haha ... maklum ya, di dunia kerja selalu ada penjilat.


"I ibu Jani tidak percaya ya??" kata Anwar sambil menatapku lekat.


"Ah iya, percaya kok, terus kenapa kamu di tempatkan di posisi ob??" tanyaku kemudian.


"A aku dari kecil sering sakit sakitan, di tambah aku dan orang tuaku trauma , karena waktu kecil aku pernah di culik oleh rekan bisnis Abah, makanya Ambu jadi sangat over protektif padaku," Anwar menghela nafas sambil menerawang.


"Aku tidak di perbolehkan sekolah, bergaul dengan teman teman, atau menggunakan handphone," lanjutnya


"Aku hanya di kurung di kamar, dan Abah juga Ambu memenuhi kebutuhanku hanya lewat pelayan kepercayaannya, aku seperti di asingkan, aku tidak pernah berjalan jalan atau melakukan apapun" Anwar merunduk , matanya memerah , mungkin dia ingin menangis.


"Eeeehhhh ya udah, sekarang gimana kalo Anwar, tenangin diri dulu yah, terus nanti Anwar mendingan pulang aja, kasiankan orang tua kamu pasti nyariin" aku mencoba bernegosiasi dengan Anwar.


Belum Anwar menjawabku tiba tiba ada karyawan yang mencariku.


"Jani, di panggil sama Bapak direktur, di tunggu di ruangannya, secepatnya katanya."


Deg ...


Bersambung......


jangan lupa vote, like, komen dan bintang kima nya ya readers.........

__ADS_1


__ADS_2