KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Semuanya Milik Kak Jani


__ADS_3

“Itu, di depan, pria yang tadi datang kerumah, yang katanya calon suami ibu!!“ teriakku sambil menunjuk-nunjuk pria yang tak jauh dari tempat kami.


“Ah, masa sih?? Tapi kok???” suara Anwar tercekat, kala melihat pemandangan yang agak menusuk mata.


“Kok, dia di kelilingi cewek-cewek seksi gitu sih??” Aku mengerutkan dahi.


“Tuh kan bener, dia bukan orang baik, pantesan hati aku gak setuju dia mau menikahi Ibu“ jawabku sambil memonyongkan bibir.


“Hus! kamu tuh ya, jangan suudzan, kita kan belum tau kebenaran yang sesungguhnya“ Anwar menepiskan tangannya di hadapan wajahku, kemudian kembali melajukan mobilnya, meninggalkan pemandangan yang sulit dipercaya ini.


“Aku yakin, dia pasti bukan orang bener“ Aku masih bersikukuh dengan pendapatku.


“Sayang, aku harap kamu bisa bijaksana dalam menilai orang, kan kamu baru melihatnya sekilas, kita belum tahu juga, sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?? bisa saja dia tidak sengajakan??” Anwar terus menasihatiku, ah ... dia memang pria dewasa, ailopeyu Anwar.


“Iya sih, aku bisa bijaksana dalam menilai siapapun, tapi rasanya aku tidak bisa menerima kenyataan yang baru saja aku lihat An, bayangkan mana ada pria baik-baik yang mau di colek-colek beberapa perempuan seksi, ah, Ibu harus tahu ini“ dengan sigap aku segera mengambil ponselku, bersiap menelpon Ibu, tapi segera di tepis Anwar.


“Jan, aku harap kamu tidak gegabah, aku harap kamu bisa berfikir jernih sebelum bertindak“ lagi, Anwar mengingatkanku.


“Huuhhh ...” Aku menarik napas panjang, dan kembali meletakkan ponselku.


“Anwar, batinku tidak tenang“ Aku bergumam.


“Istighfar sayang, nanti kita shalat tahajud berjamaah ya, kita minta petunjuk dan ketenangan dari Allah,“ Anwar kembali mengusap kepalaku.


Aku mengangguk “Hmmhhtt, iya“ jawabku pelan.


Setibanya di rumah, aku membuka pintu mobil, lalu langsung menuju rumah tanpa menunggu Anwar, aku langsung masuk kedalam kamar, menyimpan tas, membuka hijab, dan langsung menuju kamar mandi, kusiram seluruh tubuhku dengan air hangat yang keluar dari shower, berharap semua masalah yang merongrongi kepalaku bisa musnah.


“Jan, kamu masih lama di kamar mandi??!!“ tiba-tiba teriakan Anwar, membuatku membuka mata.


“Iya, sebentar lagi!!“ setengah berteriak, aku menyahuti pertanyaan Anwar.


“Cepetan ya, aku mau mandi juga!!“ lagi dia berteriak.


“Iya!!“ sahutku lagi.


“Kalau masih lama, aku masuk sekarang aja ya!!“ teriaknya yang membuatku bergidik, dan langsung mematikan shower, secepat kilat meraih handuk kimonoku, dan memakainya, setelah selesai, aku langsung keluar dari kamar mandi.


“Kamu, kalau udah di ancam aja, langsung keluar ,hheee“ Dia terkekeh melihat tingkahku.


“Hish ...” Aku mendelik, lalu menuju lemari pakaianku, sementara Anwar, langsung masuk kedalam kamar mandi.


Triittt ... triiiittt ...


Suara ponselku berbunyi, tanda ada notifikasi pesan masuk, belum menggunakan bajuku, aku langsung menyambar ponselku, lalu duduk di tepi ranjang, dan membuka pesan yang ternyata dari Indah.


“Assalam, Kakak lagi apa??” satu buah pesan yang membuatku langsung menyimpulkan, pasti ni anak mau curhat,

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam, baru selesai mandi dek, kenapa??” Aku membalas pesan Indah.


“Jam segini baru mandi kak?” emote ketawa ngakak mencurigakan.


“Iya, Kakak baru pulang dari rumah Ibu”


“Ibu apa kabar Kak?”


“Ibu, baik“ balasku lagi, sambil menimbang-nimbang, kira-kira aku harus menyampaikan berita Ibu mau menikah sekarang gak ya pada Indah.


“Aku kangen sama Ibu, kangen Kakak juga“


“Ya udah, kamu maen aja kesini, nginep disini, Kakak mau cerita“


“Emang bole Kak aku nginep di rumah Kakak?”


“Bolehlah, Kak Anwar juga pasti seneng kalau kamu mau nginep disini“


“Ya kak, kebetulan aja, Kak Andre lagi keluar kota, lagi ada pekerjaan, jadi aku sendirian dirumah“


“Ya udah, cuss kamu kesini aja“


“Siap meluncur, otw“


“Astagfirullah, Jan, kamu belum pakai baju???!” terdengar teriakan manja dari kesayangan.


“Chatingan sama siapa?” lihat deh ekspresinya, duh ...


“Sama Indah An, nih lihat“ Aku menunjukkan ponselku.


“Indah mau nginep disini?” tanyanya sambil menautkan kedua alisnya.


“Iya, bolehkan??” tanyaku sambil memegang tangannya, bergelayut manja, modus biar bisa di izinin, Indah nginep disini.


“Boleh" jawabnya singkat.


“Jangan marah dong“ Aku menempelkan wajahku pada wajahnya.


“Gak akan marah sayang, tapi kamu tidurnya sama aku 'kan??” tuh kan dia tersenyum,


“Iya lah,“ jawabku sambil meraih daster dari lemari.


“Ntar kayak yang udah-udah, kamu tidur sama Indah, dan aku tidur sendirian,“ Dia merajuk.


“Ya gak lah An,“ Aku berusaha meyakinkannya.


“Bener lho ya“ Ampun deh, masih.

__ADS_1


“Iya An,“ jawabku mulai jengkel.


“Ya udah, kamu siapin makanan kecil ya buat Indah, kalian suka ngemil kan??” tuh kan dia mah emang suami terbaik.


“Iya, makasih ya“ Aku mengelus wajahnya dengan lembut.


“Sama-sama sayang“ Dia manggut-manggut.


Aku kemudian beranjak ke dapur, menyiapkan beberapa cemilan untuk menemani kita ngobrol-ngobrol nanti.


Hingga terdengar suara bel berbunyi, terdengar Anwar membukakan pintu dan menyapa Indah.


“Assalamu’alaikum Kak Anwar“ sapa Indah.


“Wa’alaikumsalam Indah, ayo masuk, Kakak kamu ada didapur, ini pakai sandalnya, sandal Anjani“ kata Anwar sambil menyodorkan sandal rumahan milikku.


“Iya maksih Kak,“ sahut Indah sambil meletakkan kresek makanan di atas meja.


“Eh, hati-hati, nanti kena vas bunga, punya Anjani, vas kesayangannya ini“ Anwar menggeser letak kresek yang dibawa Indah, agar menjauhi vas bunga, aku yang mendengarnya dari dapur hanya tersenyum. Sementara Indah, aku yakin dia pasti sedang memutar kedua bola matanya jengah.


“Iya Kak, aku langsung kedapur aja ya Kak!“ seru Indah, dan langsung beranjak, ketika melewati ruang tengah terdengar Indah berteriak.


“Kakak, ada lukisan baru, baru beli yah??!”


“Iyaaaa!!“ jawabku dari dapur.


“Iya, awas jangan dipegang, itu lukisan Anjani“ lagi Anwar usil pada Indah.


“Ampun dah“ terdengar Indah mendengus.


“Kakak, Kak Anwar kok gitu amat sih??” Indah bertanya padaku setibanya dia didapur.


“Hhee ... dia memang selalu protektif padaku, dan pada barang-barangku juga“ jawabku sambil terkekeh geli.


“Ampuuunnn“ Indah menepuk jidatnya sambil berlalu keruang tv.


“Kak, punya minyak angin gak? Kayaknya Indah masuk angin nih!“ terdengar lagi teriakan Indah.


“Ada, ambil aja di laci di bawah tv!!“ teriakku yang belum selesai menuangkan minuman.


“Ini, ambil minyak angin punya Anjani“ Anwar menyodorkan minyak angin milikku pada Indah.


“Iya, sandal, vas bunga, lukisan, minyak angin, dan seisi rumah ini adalah milik Kak Jani, termasuk Kak Anwar juga milik Kak Jani!!“ terlihat Indah cemberut, sambil mendengus kesal, sementara aku hanya terkekeh sambil menyajikan makanan untuk kita nikmati bersama, dan Anwar duduk di sampingku sambil tersenyum manja.


Bersambung....................


Readers, jangan lupa dong, ayo tinggalkan jejaknya......

__ADS_1


__ADS_2