
SERAKAH!!! itulah salah satu watak manusia, tidak akan merasa cukup, tidak akan merasa puas hanya dengan satu hal, tampa mereka sadar, bahwa keserakahan itulah yang akan membuat mereka celaka.
“Gimana adikku tersayang?? Sudahkah kamu membuat keputusan?? Bagaimana dengan penawaranku tempo hari??” Kak Irfan dengan congaknya bertanya padaku, yang sedang mengerjakan beberapa file penting, aku tak menggubrisnya, dan memilih untuk tetap fokus pada pekerjaan.
“Apa kamu ingin istrimu menjadi korbannya?” tanyanya menyeringai.
Aku menghentikan aktifitasku, ku tatap pria yang mengaku sebagai Kakakku itu.
“Kenapa Kakak begitu kejam padaku??” tanyaku sambil menatapnya dalam.
“Karena kau anak kesayangan Mamah dan Papah, bagimu kasih sayang mereka sudah cukup bukan?? Dan bagiku kasih sayang mereka tidaklah penting, yang kubutuhkan adalah uang, dan kedudukan, agar adil kita bertukar posisi saja bagaimana?? Bukankah kau sudah mendapatkan kasih sayang mamah dan papah?? Kenapa kau juga ingin semua harta ini?? Kau sungguh serakah Anwar“ lantang, suaranya begitu tegas dan menggebu, jujurnya aku masih merasa gentar, tapi aku tidak boleh memperlihatkan lagi sisi lemahku.
“Bukankah kak Irfan yang serakah??? Kakak sudah mendapatkan hak Kakak, kenapa Kakak juga ingin hakku??” tanyaku, sambil tak berhenti menatapnya.
“Kenapa?? Karena kau juga telah mengambil seluruh kasih sayang Mamah, bukankah itu tidak adil bagiku?? Tidak bisakah itu disebut serakah ??? Ya kau begitu serakah Anwar!!” teriaknya, semakin menggebu, nyaliku semakin menciut, kembali kuingat percakapanku dengan istriku setelah aku kembali sadar dari pingsanku, akibat obat yang di suntikkan Dokter.
“Jan, apa kau mencintaiku??” tanyaku sambil menatapnya.
“Tentu saja,“ jawabnya sambil tersenyum.
“Jika aku jatuh miskin, apa kamu masih akan mendampingiku?? Masih akan setia bersamaku??” tanyaku, mengutarakan isi hatiku, dan kecemasanku.
“Tentu saja, aku menerima lamaranmu bukan karena hartamu, tapi karena kamu orang paling tulus yang pernah ada dihidupku“ jawabnya antusias, dan penuh keyakinan.
“Kamu yakin??” tanyaku lagi.
“Tentu saja, memangnya kenapa?? Ada masalah??” tanyanya, terlihat gurat kecemasan menghiasi wajah cantiknya.
“Tidak, hanya saja aku takut, kamu pergi dari hidupku“ Ku ungkapkan rasa khawatirku.
“Itu tidak akan terjadi An, harta, tahta, tidak akan menjadi ujian berarti bagi rumah tangga kita, in sya Allah kita bisa melewati semuanya An“ jawabnya tersenyum lembut, jawabannya selalu membuat hatiku damai.
“Jadi, bagaimana Anwar??” pertanyaan kak Irfan membuyarkan lamunanku.
“Baiklah, ambil apapun yang kakak inginkan,“ jawabku menyerah, kutukar Anjaniku dengan harta, tahta yang diinginkan Kak Irfan.
__ADS_1
“Hahaha, kenapa tidak dari dulu kau melakukannya???” terdengar tawa membahana memenuhi ruangan.
“Jika harta ini, di haruskan menjadi milikku, maka semua akan kembali padaku“ jawabku sambil beranjak dari kursi, dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan kak Irfan sendirian.
Belum aku menggenggam handle pintu, tiba-tiba seseorang membuka pintunya dari luar.
“Permisi pak Anwar,“ ternyata ada dua orang polisi di luar tengah mau masuk kedalam ruanganku.
“Iya, betul pak, dengan saya sendiri, ada yang bisa dibantu??” tanyaku bingung, karena untuk pertama kalinya ada polisi yang menyambangi kantorku.
“Maaf pak, sebelumnya saya mendapat laporan, bahwa pak Irfan ada diruangan bapak“ Polisi yang memiliki perut gendut menjelaskan maksudnya.
“Pak Irfan??” tanyaku bingung.
“Iya, kebetulan kami sudah lama mencari keberadaan pak Irfan,“ jelasnya lagi.
“Kalau boleh tau ada apa ya pak??” tanyaku.
“Pak Irfan adalah buronan yang lolos dari kejaran kami pak, saat kami berusaha menangkapnya beberapa minggu yang lalu“ Polisi terus menjelaskan menjawab setiap pertanyaanku.
“Pak Irfan tertangkap, atas kasus perjudian pak“ jelas polisi yang satunya lagi.
“Perjudian??” tanyaku kaget, tak kusangka, selama ini Kakakku tersandung kasus yang cukup serius.
“Iya pak, saya harap pak Irfan sekarang bisa kooperatif dengan pihak kepolisian“.
“Ba baik pak, silahkan Kakak saya ada di dalam“ Aku menunjuk ruanganku.
“Baik pak, permisi“ Mereka undur diri, dan masuk kedalam ruanganku.
Aku hanya berdiam diri di balik pintu, menerka apa yang akan terjadi dimenit berikutnya.
Tak lama kemudian, aku melihat Kak Irfan di geret dua polisi, sambil berteriak berusaha menjelaskan, seketika tubuhku melemah, dadaku kian bergetar, aku ambruk dilantai.
Betapa Allah sangat menyayangiku, betapa Allah selalu melindungiku. Apa yang harusnya menjadi milikku, ternyata sudah kembali padaku.
__ADS_1
Aku kembali berdiri, seleraku sudah hilang untuk kembali kedalam ruanganku, aku kembali berjalan menuju loby, kemudian terus berjalan menuju parkiran. Anjani, hanya satu nama itu yang mampu membuatku tenang.
Kulajukan mobilku perlahan, kulihat jam tangan yang melilit dilengan kiriku pukul delapan malam, aku sudah telat pulang, aku tau dia akan menungguku dengan setia.
Setibanya di depan rumah, aku segera memarkir mobilku, perlahan kubuka pintu, lalu berjalan menuju kamar, kubuka pintu kamar perlahan, hingga tak menimbulkan suara, kulihat dengan berbalut mukena, diamenengadahkan kedua tangannya, kudengar lirih dia berdo'a.
“Ya Allah, lindungilah suamiku, lindungilah rumah tanggaku, berikan kami yang terbaik, aamiin“ Dia menelungkupkan tangannya.
Aku sadar, keutuhan rumah tanggaku, juga berkat do'a istriku, Allah akan mengujikan banyak ujian bagi rumah tanggaku, tapi aku harus bisa bersatu untuk bisa melewatinya.
“An, kamu udah lama?? Kenapa berdiri disitu?” tiba-tiba suara lembutnya membuyarkan lamunanku.
“Sayang,“ Aku menghampirinya, memeluknya dengan erat.
“Kamu kenapa??” tanyanya lembut.
“Aku lelah, makasih karena masih disampingku“ Aku menangis sejadi-jadinya dipelukan istriku, aku tak kuasa membendung rasa takutku semenjak kedatangan kak Irfan, tubuhku bergetar hebat.
“Kamu kenapa hum??” tanyanya menyeka air mataku.
“Aku gak apa-apa, aku hanya ingin memelukmu“ jawabku berbohong.
“Baiklah, kamu boleh memelukku sebisamu“ jawabnya sambil tersenyum, mengusap lembut kepalaku, dia sungguh anugrah bagi hidupku.
“Aku sangat mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku" lagi, pintaku mengiba.
“Tidak An, tenang ya, sekarang kamu bersih-bersih dulu, kemudian shalat isya, biar kamu tenang, ya“ pintanya, yang langsung ku angguki.
‘Jan, jika kamu tau, kesalahan yang pernah kubuat padamu, apa kamu juga akan mengatakan hal yang sama???’ lirihku dalam hati.
Aku mengambil handuk yang diberikan istriku, kemudian memasuki kamar mandi, kemudian mandi, setelah selesai ku tunaikan shalat wajib empat rakaat, sesuai dengan perintahnya, memohon ampunan, atas semua yang telah kulakukan, berterimakasih atas semua yang telah Allah berikan, dan bersyukur untuk semua yang telah aku dapatkan. Sungguh Allah maha baik, Allah maha segalanya.
Bersambung................
Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaaa....like, koment, dan kasih rating bintang lima, jika berkenan berikan votenya juga yaaaaaa....agar author tambah semangat crazzy up nya.....makasiiihhhh....
__ADS_1