
Drrrrrttttt ... dddrrrrrtttttt ...
Suara getaran ponselku membuyarkan lamunanku. Aku meraih ponsel yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatku duduk. Aku menautkan kedua alisku. Nomor baru, kira kira siapa ya??? Alih-alih mengangkatnya, aku malah asyik memandang ponselku. Tidak lama kemudian panggilan berahir dengan sendirinya. Aku mengecek nomornya, sama sekali tidak aku kenal. Ah, ya sudahlah, biarkan saja, aku kembali menaruh ponselku, dan melanjutkan lamunanku, di temani secangkir coklat panas di sore ini, sambil menatap sendu pada langit sore yang mulai mendung.
Dddrrrrtttt ... dddrrrtttt ...
Suara panggilan dari nomor yang sama kembali terdengar, ah, siapa yang menelponku?? Aku mencoba mengangkatnya dan mendekatkan telpon genggam itu ke telingaku.
“Hallo?? Assalamu’alaikum?” sapaku.
“Wa’alaikumsalam“ jawab seorang perempuan di seberang sana, suaranya terdengar sangat lembut namun tegas.
“Iya, dengan siapa?” tanyaku ragu.
“Ini Anjani kan?” yang di tanya malah balik nanya.
“Iya, betul“ jawabku bingung.
“Anjani, ini Anita, Ibunya Anwar“ Aku perempuan yang membuatku sedikit kaget, Ibunya Anwar?? Kenapa dia menelponku?? Darimana dia tau nomor ponselku??.
“Oh, iya ibu?? Kenapa Ibu nelpon Jani?? Ada yang bisa dibantu bu??” tanyaku sopan.
__ADS_1
“Iya, saya nelpon kamu ingin meminta bantuan kamu Jan, bisa kita bertemu??” tanya bu Anita, dengan suara yang masih sangat lembut, namun tak mengurangi ketegasannya.
“Oh, iya boleh Ibu, mau ketemu dimana?? Dan kapan??” tanyaku, jujurnya aku masih ragu. Kira-kira kenapa Ibunya Anwar mengajakku bertemu?.
“Besok siang, di caffe Rindu, nanti saya kirimkan lokasinya“ tegasnya.
“Baik Ibu, besok Jani akan datang“ jawabku pasrah.
“Saya tunggu ya Jan, Assalamu’alaikum“ pamitnya kemudian.
“Baik Ibu, wa’alaikumsalam“ Aku menutup telpon, ku tarik napasku panjang, ah, ada apalagi ini?? Kenapa hatiku jadi tidak enak?.
“Anjani kan??” tanya seorang perempuan setengah baya, aku yakin usianya tidak akan jauh dari Ibu, saat pertama kali aku menatapnya satu kata yang terlintas di benakku, ‘cantik’, penampilannya pun sangat modis, dengan pakaian dan tas branded khas orang kaya.
“Iya, betul, ini ibu Anita kan??” tanyaku ragu.
“Iya betul, akhirnya kita bisa bertemu Anjani“ Ibu Anita tiba-tiba merangkulku, seolah aku adalah anaknya yang lama hilang.
“Eh, iya Ibu“ jawabku gelagapan, tidak menyangka dengan reaksi Ibunya Anwar.
“Maafin saya, saya terlambat karena ada sesuatu yang harus saya urus dan tidak bisa saya tinggalkan“ Ibu Anita kemudian mendudukan dirinya dikursi dihadapanku.
__ADS_1
“Iya, tidak apa-apa Ibu, Silahkan minum dulu“ tawarku.
“Ah iya“ jawab Bu Anita sambil meminum minumannya yang sebelumnya telah aku pesan.
“Anjani, boleh saya bicara sekarang??” tanya bu Anita setelah sedikit berbasa basi, beliau memulai serius pada topik utama.
“Bo boleh Ibu, silahkan, ada apa ya bu??” Tanyaku agak gelagapan.
“Pertama-tama, saya ucapkan banyak terimakasih ya Jan“ Bu Anita memulai pembahasannya.
“Terimakasih untuk apa bu?” tanyaku heran.
“Terimakasih karena dulu kamu sudah memotifasi Anwar, hingga dia berusaha untuk bisa sembuh“ kata bu Anita yang membuatku heran tentang penyakit Anwar, kenapa mereka selalu mengatakan tentang kesembuhan?.
“Anwar sakit apa bu?” akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“......................”
Bersambung................
Readers, maafkan author updatenya sedikit yaaaa.....tapi vote dan dukungan kalian harus tetap banyak yaaaa....he...agar author terus semangat merangkai katanya....
__ADS_1