
“Iiiihhh ... Ayah kemana ya???” Aku berjalan mondar-mandir di depan teras rumah, dari pagi Anwar sudah tida ada dirumah, padahal ini hari libur.
“Katanya mau jalan-jalan, tapi kok pergi sih?? Mana gak pamit lagi, ya ampuunn bikin keki aja dia“ Aku terus menggerutu, sambil mondar-mandir.
“Bu, makanannya sudah siap“ Bi Lastri datang dari dalam rumah memberi tahuku.
“Ah, iya bi, makasih ya“ jawabku sambil tersenyum pada bi Lastri, dari subuh bi Lastri sudah menyiapkan banyak makanan, untuk bekal piknik aku dan Anwar.
“Di Danau jam segini keburu panas banget, Anwar kemana sih??” dengan kesal aku terus menggerutu, entahlah, semenjak hamil aku jadi lebih senang mengomel, kadang aku menyadari kesalahanku, dan minta maaf pada korban pelampiasan kekesalanku, yang pastinya, itu adalah Anwar, suami terbaikku.
Ttttiiidddddiiiddd!!!!
Suara klakson mobil mengagetkan aku, terlihat Anwar membuka pintu mobil, lalu turun dengan menenteng kresek, khas mini market. Mungkin dia baru pulang belanja.
“Ayah, dari mana?? Aku nungguin kamu dari tadi, pergi kok gak bilang bilang sih?” Aku cemberut.
“Jangan marah-marah terus, nih aku baru pulang dari beli susu buat kamu, susu kamu udah habis kan??” tanyanya sambil mengacungkan kantong kresek, dengan wajah yang datar.
“O ya?” jawabku tersenyum, tapi Anwar tidak membalas senyumku, terlihat wajahnya begitu sendu, tapi entah kenapa.
“Kamu kenapa?” Aku mengelus wajahnya lembut, sambil menatapnya.
“Gak apa-apa“ jawabnya, sambil melepaskan tanganku dari wajahnya, lalu berlalu masuk kedalam rumah.
Aku mengikutinya dari belakang, dengan hati di penuhi rasa penasaran.
“An, kamu kenapa sih?” seketika ada rasa sakit di hatiku atas perlakuan Anwar, jiwa sensitif ini begitu menyebalkan.
“Aku gak apa-apa, Bi makanannya udah siap belum?!” Anwar berteriak pada Bi Lastri yang sedang berada di dapur. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya berteriak, terlihat begitu frustasi, sementara aku hanya terdiam. Tak berani bicara, ataupun bertanya lagi.
“I iya pak, sudah“ jawab Bi Lastri tergesa-gesa, mungkin dia juga kaget dengan teriakan Anwar.
“Masukin semuanya ke dalam mobil, saya mau berangkat sekarang!!“ tegas Anwar sambil berlalu keluar, menuju mobil, sementara aku mengikutinya lagi dari belakang.
Aku memasuki mobil, dengan perasaan tak karuan, Kenapa dengan perubahan sikap Anwar?? Hatiku terus berkecamuk.
“Udah semua belum Bi??!” Anwar kembali berteriak, membuat aku terhenyak.
“Su sudah pak“ Bi Lastri gugup.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Anwar langsung melajukan mobilnya, dengan wajah di penuhi amarah.
Hening, itu yang terjadi, dan akupun memilih untuk diam, bicara akan salah pada posisi kali ini.
Berkali-kali, kudengar Anwar mendesah, lalu mengacak rambutnya frustasi. Aku semakin bingung, tapi kubiarkan saja, Anwar memendam rasanya sendiri, nanti setelah tiba di danau, aku akan bertanya padanya.
Setibanya di Danau, Anwar menuntunku untuk duduk di sebuah kursi, yang di naungi pohon rindang, yang menghadap ke danau.
“An, itu tikarnya“ dengan polos dan tanpa fikiran apapun, aku menunjukkan bekal dan tikar yang kami bawa, tapi Anwar seolah tak mendengarku, terus menuntunku, dan mendudukkanku di kursi itu.
Dia pun ikut terduduk, dengan menutup wajahnya dengan tangan. Aku semakin bingung.
“An, kamu kenapa??” tanyaku lembut, berusaha mengusir rasa canggung itu.
“Aku barusan dari rumah sakit“ jawabnya, masih menutupi wajah dengan tangannya.
“Kamu sakit An?? Sakit apa?? Kenapa gak bilang sama aku??” tanyaku cemas, ku raba dahinya. Tapi Anwar seketika memegang tanganku erat, lalu menatapku dengan deraian air mata. Ya ... Anwar menangis.
“Kenapa kamu gak bilang sama aku dari awal Jan?” tanyanya sambil terisak.
Deg!!!
“Ma maksud kamu??” tanyaku terbata, aku tahu Anwar pasti sudah mengetahui rahasia tentang kehamilanku.
“Anwar, maafkan aku, tapi tak bisakah kamu hanya mendukungku saja?? Aku hanya ingin anakku lahir“ Akupun mulai terisak.
“Satu berbanding sembilan ribu Jan, itu tingkat keselamatannya, kamu jangan naif!“ suara Anwar terdengar bergetar.
“Maaf, tapi aku tidak ingin membunuh anakku“ tangisku pecah.
“Anak ini, bisa membunuhmu Jan, atau mungkin kalian berdua tidak akan selamat“ Anwarpun menangis, air matanya semakin luruh di pipi.
“Ti tidak, aku yakin, aku bisa, kami baik-baik saja“ jawabku terbata.
“Kamu, bisa berfikir secara logika Jan?? Bagaimana mungkin kamu baik-baik saja??” Anwar menatapku.
“Gugurkan dia, segera lakukan operasi!!” tegas Anwar.
“Ti tidak An, aku mohon, jangan lakukan itu pada kami“ Aku semakin histeris.
__ADS_1
“Kamu fikir, ini adalah pilihan yang mudah untukku?? Aku harus memilih antara kamu dan anak kita, ini sungguh tidak mudah, tapi percayalah Jan, kamu harus hidup, kamu masih bisa hamil lagi nanti“ Anwar membujukku.
“Aku sangat menyayangi anakku“ Aku semakin terisak, membayangkan, anak yang ku perjuangkan mati-matian, dengan terus menahan rasa sakit hampir tiap malam, harus hilang begitu saja. Ini tidak adil untukku.
“Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya” Anwar terlihat semakin frustasi.
“An, aku mohon, jangan lakukan itu, aku janji, kami akan baik-baik saja, aku mohon An“ Aku terus mengiba, berharap Anwar mau mengerti keinginanku.
“Tidak Jan, aku akan segera menjadwalkan operasi untukmu!!“ sentak Anwar.
“Anwar aku mohon, jangan bunuh anakku“ Aku berlutut, memohon padanya.
“Jan, mengertilah, aku sangat mencintaimu, aku akan gila jika kamu pergi lagi, selama ini, aku selalu mengerti kamu, tidak bisakah kali ini, kamu yang mengerti aku?” Anwar meraih pundakku, lalu mengangkatku untuk kembali duduk.
“An, jika kamu masih mau membunuh anak ini, maka akupun akan pergi dari hidupmu“ ancamku akhirnya.
“Tidak Jan, jangan begitu“ suara Anwar bergetar, enatah menahan amarah, enath menahan sakit di dadanya.
“Aku mohon, dukung aku, sekali lagi An, hanya sekali ini lagi“ Aku terus mengiba.
Anwar terdiam, terlihat dia berfikir keras, menimang keputusan terbaik yang harus di ambilnya.
“Baiklah, aku akan mendukungmu, berjanjilah, jika kalian akan tetap baik-baik saja“ Anwar memelukku dengan rasa haru.
“Terimakasih, untuk setiap pengorbananmu, perjuanganmu, kasih sayangmu, dan limpahan cintamu“ Anwar kembali terisak, sambil memelukku erat.
“Aku tidak tahu, kesalahan apa yang telah kulakukan di masa lalu, kenapa takdir buruk, selalu membayangiku“ Aku sungguh frustasi dengan keadaan ini.
“Sssshhh ... jangan bicara seperti itu, istighfar Jan, kita tidak bisa memilih takdir mana yang kita inginkan, semua takdir sudah di gariskan Allah jauh sebelum kita terlahir ke muka bumi ini“ Anwar mengelap air mataku dengan Ibu jarinya, menatapku kemudian menghujaniku dengan ciuman yang lembut, ciuman tanda terimakasih, dari seorang suami kepada seorang istri, ciuman lembut dari rasa haru seorang Ayah yang menantikan kehadiran anaknya.
“I love you“ Anwar berbisik di telingaku.
“I love you too“ Aku membalas bisikannya di iringi isakan. Tak sanggup jika kedamaian ini, akan segera berakhir, tak sanggup jika tiba-tiba aku harus kehilangan suami sebaik Anwar.
Tapi, Anwar milik Allah, aku tidak bisa mengusainya dengan cintaku, semua yang berasal dari Allah, akan kembali pada Allah.
Bersambung..............
Ya elah, author payah, author ikutan terisak ketika ngetik part ini,
__ADS_1
Detik detik menuju End, baiknya aku buat Anjani meninggal aja, atau aku buat Anjani selamat dan hidup bahagia ya??hhee....
Author bingung gaeeessss.....