KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Olahraga


__ADS_3

Sebagian belahan dunia menyambut malam, tanpa bisa menolaknya, denting jarum jam menemani kesunyian yang tengah kurasakan. Aku masih membuka mata kala setiap detik terlewatkan, aku masih memikirkan setiap masalah yang terjadi pada keluargaku, setelah kulewatkan malam yang panjang bersama suamiku. Kutunaikan kewajibanku sebagai seorang istri, kuberikan hak pada suami atas diriku.


Rasa hangat dan nyaman menempel saat memeluk tubuh idealnya. Kutatap wajah tampannya, suamiku yang sobar, pengertian, baik, juga berwajah tampan, berkali-kali aku bersyukur karena Allah menganugrahkan dirinya untukku.


Cup ...


Tiba-tiba dia mengecup keningku, ternyata diapun belum sepenuhnya tertidur, kemudian dia menyunggingkan bibirnya, sambil tetap terpejam.


“Jangan terus menatap wajahku, nanti kamu makin cinta“ katanya sambil mendekapku.


“Sudah,“ jawabku sambil menelusup didada bidangnya.


“Gak bisa tidur hmmh??” tanyanya sambil mengusap kepalaku lembut.


“Hmmhhtt ...” jawabku.


“Kenapa lagi?? Masalah Ibu??” tanyanya.


“Bukan” jawabku.


“Lalu??” dalam dekapnya aku merasakan ketulusan yang selalu menyertai setiap ucapannya.


“Indah“ jawabku lagi.


“Kenapa dia??” tanyanya lagi.


“Kurasa dia sedang ada masalah dengan Andre“ jawabku jujur, aku sungguh tidak bisa lagi menyembunyikan hal sekecil apapun dari Suamiku.


“Masalah apa?” Dia masih mengelus kepalaku.


“Entahlah, akupun tidak tahu jelas, aku hanya khawatir An, khawatir terjadi sesuatu pada Indah dan Andre” Ku utarakan rasa cemasku.


“Gak apa-apa, kamu yakin adanya Allah bukan??” tanyanya yang kini tengah menatapku.


“Tentu saja, jangan tanyakan itu An, karena kamu tau pasti jawabannya, tak akan ada tandingannya rasa percayaku pada Rabbku“ jawabku lantang.


“Jika seperti itu, setelah kamu berusaha menjaga dan melindungi keluargamu, maka serahkan semuanya pada Allah, kita manusia biasa Jan, kita memiliki keterbatasan, sementara Allah?? Kemampuan Allah tak ada batasannya, jadi mintalah semuanya pada Allah, adukan setiap keluh kesahmu pada Allah“ melted?? Pastinya, aku tahu suamiku memiliki akhlak yang baik.


“Iya An, makasih ya“ jawabku sambil mengeratkan pelukanku, hingga kami tertidur kembali, berkelana dalam mimpi kami masing-masing.


***


Sinar matahari, sudah tak sungkan lagi menyapa, setelah mandi dan shalat subuh, aku kembali melakukan tugasku sebagai seorang Ibu rumah tangga. Suara gemericik air terdengar nyaring di dapur tempatku berada, cucian piring kotor agak banyak, setelah beberapa hari terakhir, aku malas melakukan aktifitas apapun. Segala hal yang kotor-kotor sebisa mungkin aku bersihkan sampai kinclong. Kemudian aku memasak makanan kesukaan Anwar, kali ini dengan penuh semangat, kulupakan rasa khawatirku terhadap keluargaku, seperti yang suamiku bilang, pasrahkan semuanya pada Allah, ya ... telah kulakukan itu, dan sekarang aku menjadi sedikit lebih tenang.

__ADS_1


“Selamat pagi ...” tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.


“Pagi ...” Aku menolehkan wajahku pada pria yang tengah memelukku.


“Aku bantu pekerjaan kamu ya, biar cepat selesai“ tawarnya, yang jelas langsung aku tolak.


“Eh, jangan, nanti kamu ...” terlambat, dia sudah memegang piring kotor, yang barusan kugunakan.


Akhirnya, aku melakukan aktifitasku dengan dibantu oleh suamiku, meski terkadang aku merasa ngeri dengan bantuannya, karena berkali-kali dia hampir memecahkan piring yang sedang dipegangnya.


Setelah semuanya selesai dan makanan telah selesai dimasak, kemudian kami langsung sarapan bersama.


“Setelah ini, kita keluar yuk“ ajaknya, yang membuatku mengerutkan dahi.


“Kita mau kemana??” tanyaku, jujurnya hari minggu yang cerah ini, aku agak malas keluar rumah.


“Adalah .... “ jawabnya sambil menaik turunkan alisnya.


“kamu siap-siap aja, jangan lupa gunakan pakain olahraga yang nyaman digunakan ketika bergerak,“ perintahnya lagi.


“Iya, kita memangnya mau olahraga kemana??” tanyaku masih penasaran.


“Ya, kita berangkat aja dulu, nanti juga kamu tahu“ lagi, jawabannya membuatku makin penasaran.


“Aku sudah siap, ayo kita berangkat” ajakku.


“Yuk,“ Anwar menggandeng tanganku melewati pagar rumah.


“An, kita gak pake kendaraan?” Aku menahan tangan Anwar menunjukkan mobil yang terparkir digarasi rumah.


“Enggak Jan, kita jalan kaki aja ya“ ajaknya sambil menuntun tanganku mulai berlari.


“An,tunggu, aku capek“ Aku terengah-engah mengejar Anwar yang terus berlari.


“Sayang, mungkin kita sudah beranjak tua, kenapa baru lari sebentar rasanya capek sekali??” keluhnya.


“An, kamu jangan lari lagi ya?? Aku udah gak kuat!!“ teriakku pada Anwar yang semakin menjauh.


“Ayo sini, cepetan kejar aku!!“ teriaknya lagi sambil terus mengibaskan tangannya menyambutku.


“An, aku udah pegel“ lagi aku mengeluh.


“Ayolah, kamu pasti bisa Jan!“ teriaknya, yang tidak mempedulikan lagi tatapan orang yang berlalu lalang.

__ADS_1


“Ok, kamu tunggu ya, aku bisa ngejar kamu!!“ secepat kilat aku berlari, tapi Anwar juga kembali melanjutkan larinya, hingga terjadilah kejar-kejaran.


“Huh ... huh ... An, udah dong, aku udah gak kuat lari lagi“ dengan napas ngos-ngosan aku mengibas-ngibaskan jilbabku, panas, gerah, lengket bercampur jadi satu.


“Ok, sini naik kepunggungku“ Anwar duduk, dan menepuk punggungnya.


“Apaan sih?? Malu An,“ rajukku.


“Malu apa?? Kita udah sah ini, kamu udah gak kuatkan?? Ayo sini naik kepunggungku“ lagi dia memerintah.


“Iya deh, tapi kamu kuat gak??” tanyaku sambil tersenyum.


“Jangan ngeremehin aku gitu deh“ Anwar memanyunkan bibirnya.


Aku terkekeh, kemudian naik keatas punggungnya, Anwar mulai berdiri, dan mulai berjalan pelan, aku menikmati hangat dan nyamannya punggung suamiku, ku tempelkan wajahku, di punggung suamiku yang mulai memanas dan berkeringat.


“An, jika sudah tua nanti, akankah kita masih seperti ini??” tanyaku tiba-tiba.


“Tentu saja“ jawabnya yang mulai terengah-engah, mungkin karena sudah mulai merasakan berat menopang berat tubuhku.


“An, jika aku suatu hari nanti melakukan kesalahan fatal, apa kamu akan memaafkanku?” lagi, aku bertanya.


“Tentu saja, sebaliknya, jika aku melakukan kesalahan besar padamu, apa kamu akan memaafkanku??” tanyanya.


“Tergantung“ jawabku.


“Tergantung apa??” Dia mulai ngos-ngosan.


“Tergantung seberapa besar kesalahanmu,“ jawabku.


“Ah, ini tidak adil, aku akan memaafkan semua kesalahanmu, tapi kamu tidak berjanji akan memaafkan setiap kesalahanku“ rajuknya, mulai cemberut.


“Aku akan memaafkan setiap kesalahanmu An, akan kuusahakan mendampingimu, dalam suka maupun duka“ jawabku sambil tersenyum, menyembunyikan wajahku dipunggungnya, karena malu, kami jadi tontonan orang-orang yang berlalu lalang.


“Baiklah, berjanjilah akan tetap seperti ini Jan“ Kini napas Anwar sudah mulai tak beraturan.


“Nah, sampai“ katanya, sambil menurunkan badanku.


“Hah ... inikan??” Aku terlonjak kaget ketika tiba di tempat ini.


“Iya, ini tempat aku ngelamar kamu dulu“ Anwar tersenum lembut padaku, sambil mengusap pipiku dengan tangannya, aku merasa sangat terharu, kala ingatan ketika Anwar melamarku kembali terbayang.


Bersambung............

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers........


__ADS_2