
Aku terduduk di tepi ranjangku sambil terus menyeka air mataku, aku masih merasa sakit akan setiap ucapan ibu, Faisal pun hari ini tidak menghubungiku sama sekali. Padahal jujur aku butuh orang yang bisa mendengarkan segala kesedihanku kini, aku butuh sandaran agar aku tidak terjatuh.
"Kakak, jangan sedih terus, untuk sementara Kakak temui aja dulu pria pilihan ibu, mungkin dia yang terbaik buat Kakak" Indah terus mencoba menenangkanku.
"Iya Indah, Kakak gak apa-apa kok, besok kamu temenin Kakak ya ketemuan sama pria itu" Aku menatap Indah, aku tidak ingin menemui pria itu sendirian, takut banyak fitnah, mengingat tetangga yang mulutnya pada pedess.
"Emang gak apa-apa kak?? Nanti Indah ganggu ah," Indah mencoba menolakku,
"Ih enggak dek, justru kalau Kakak ketemunya sendirian Kakak bakalan canggung banget kayaknya"
"ya udah deh, besok Indah ikut kakak ya" jawab Indah sambil tersenyum,
Aku membalas senyuman Indah, setidaknya aku tau adik kecilku ini bisa menenangkan hatiku.
Ke esokan harinya, aku dan Indah berangkat ke salah satu *c*affe tempat yang sudah ibu dan dia janjikan.
Setibanya di kaffe tersebut aku celingukan mencari orang yang harusnya sudah menunggu kami, tapi ternyata kami datang terlalu awal, hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang dekat dengan jendela, dari kursi ini aku bisa melihat pemandangan luar, aku bisa melihat orang yang berlalu lalang.
__ADS_1
"Kakak, aku udah laper nih, aku boleh pesen duluan gak??" Tanya Indah sambil mengusap usap perutnya,
"Iya, boleh, kamu pesen aja" Jawabku sambil memberikan buku menu kepada Indah, dan Indah menerimanya,
Ditengah aktifitas kami, tiba-tiba ada seseorang yang menyapa kami,
"Anjani yah??" tanyanya, aku mendongakkan kepalaku kepada orang yang baru saja menyapaku,
"Iya, siapa ya??" Tanyaku,
"Ini aku Andre, yang anaknya temen mamah kamu" Jawabnya,
"Kakak, bener kata ibu, mas Andre memang jelas banget bibit, bebet, bobotnya, beda sama kak Faisal" Bisik Indah yang membuat aku langsung mengingat Faisal. Aku merasa sekarang aku sedang menghianati Faisal.
"Udah lama nunggu ya?? maaf ya lama, maklum macet" Kata Andre memecah keheningan di antara kami, yang dari tadi hanya saling tatap saja, sementara Indah hanya menikmati makanan nya di sampingku.
"Oh iya gak apa-apa mas, belum terlalu lama juga kok" Jawabku,
__ADS_1
"Oh iya, mas Andre, ini Indah adiknya Anjani" Lanjutku memperkenalkan Indah,
"Oh iya, hay ... aku Andre" Andre mengulurkan tangannya pada Indah, mereka sempat saling tatap ketika Indah menerima uluran tangan Andre "indah" Jawab Indah,
Akhirnya aku dan Andre, kami saling mengobrol ke sana ke mari, Andre memang pria yang mudah bergaul, kecanggungan kami hanya berlaku sebentar saja di awal pertemuan tadi, lama-lama kami merasa seperti teman lama saja. Obrolan kami cukup ringan, hanya menceritakan tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari saja, hingga waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, aku dan Indah memutuskan untuk pulang dan berpamitan pada Andre.
"Ya udah, kalau gitu kami pamit pulang duluan ya mas Andre" pamitku,
"Iya Jan, kalau gitu kalian aku yang anterin aja ya" Tawarnya,
"Eh, gak usah mas, ngerepotin" Tolakku,
"Gak apa-apa Jan, lagian kita 'kan searah juga pulangnya, lagian sebentar lagi kayaknya mau hujan deh, mendung gini" Kata Andre sambil menatap langit,
"Oh ya udah deh mas Andre, kalau gitu maaf banget ya ngerepotin" Akhirnya aku menerima tawaran Andre,
"Iya gak apa-apa, Ayo masuk" Andre membukakan pintu mobilnya untukku dan untuk Indah, di sepanjang perjalanan pulang, kami hanya terdiam, sesekali aku melirik Indah yang ternyata diam-diam dia mencuri pandang pada Andre dari kaca spion depan mobil, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Dasar Indah.
__ADS_1
Bersambung.............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers, jangan lupa Vote, like, komen, dan bintang lima nya yaaaa,,,makasih...