KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Muhammad Fadli Anwar


__ADS_3

Malam itu, Anjani duduk menatap keluar jendela kamar. Sunyi. Ia kembali teringat akan semua ucapan Dokter Puspita, yang menyarankannya untuk menggugurkan anaknya, yang sudah di ketahui jenis kelaminnya. Laki-laki, yah ... jenis kelaminnya laki-laki, sesuai dengan harapan suaminya.


“Aku merindukanmu“ tiba-tiba Anwar datang memeluknya dari belakang.


Anjani mengerjap, karena kaget, akan kehadiran suaminya yang tiba-tiba.


“Kamu sudah makan??” tanyanya.


“Sudah, tadi, bi lastri yang menyiapkannya“ Anwar mengelus perut buncit istrinya dari belakang, yang kini sudah berusia enam bulan.


“Hmh, maaf tak bisa menemanimu makan malam, karena aku tidak kuat mencium aroma dapur“ Anjani mengusap kepala suaminya dengan tangan kirinya, sementara pandangannya masih tetap pada pemandangan di luar jendela.


“Gak apa-apa, sayang, besok aku libur kerja, kamu mau jalan-jalan? Pasti bosan kan?? Terus berada dirumah??” tawarnya.


“Hmh, aku mau“ jawab Anjani.


“Kamu mau jalan-jalan kemana?” tanya Anwar, menatap wajah istrinya lekat, kemudian mengangkat wajah istrinya yang kian chuby.


“Eemmhh ... aku mau ke danau“ jawab Anjani, setelah terlihat berfikir untuk beberapa saat.


“Pilihan yang tepat, aku juga mau kesana“ jawab Anwar tak kalah semangat.


“Ok“ Anjani melepaskan tangan suaminya, kemudian beranjak menaiki ranjang.


Anwar terdiam, terlalu banyak hal yang berubah dari diri istrinya, tapi entah apa. Tapi sebisa mungkin, dia menyembunyikan rasa penasarannya. Anwar mengikuti langkah istrinya, kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Anjani.


“Hay sayang, lagi apa di dalam sana???”  Anwar mengajak anaknya berkomunikasi.


“Apa kamu menendang Ibumu lagi?? Ck jangan nakal yaaa” Anwar terus mengelus perut istrinya.


Anjani terdiam, melihat adegan drama antara anak dan Ayah tersebut.


“Ck, kamu dia masih di dalam perut saja sudah begitu, bagaimana jika dia sudah keluar nanti??” Anjani mengerucutkan bibirnya.


“Hee ... aku fikir, tak ada Ayah yang tak menyayangi putranya, kamu tahu sayang?? Anak laki-laki itu adalah gambaran dari Ayahnya, waaahhh ... aku udah gak sabar menunggu kelahirannya“ Anwar menerawang, menatap langit-langit kamar, dengan senyum sumringah.


“Hmh, kamu bahagia??” tanya Anjani sambil menyelusupkan wajahnya, di dada bidang suaminya.


“Ck, kamu selalu menanyakan hal yang sama, jelas-jelas pertanyaan itu sudah sering aku jawab“ Anwar mengelus kepala istrinya lembut.

__ADS_1


“Kadang orang bertanya itu, bukan karena dia tidak tahu jawabannya, tapi karena dia ingin meyakinkan“ Anjani memejamkan matanya, merasakan rasa sakit di perutnya yang kian terasa, meski dia sudah menahannya sekuat tenaga.


“Ya ya ya, kamu masih belum yakinkah padaku??” tanya suaminya, menatap istrinya yang sedang memejamkan mata.


“Yakin, hanya saja aku ingin lebih yakin“ jawabnya, masih tetap dengan pendapatnya.


“Ayah???” Anjani menyapa suaminya lembut.


“Hmh??” jawabnya.


“Mari kita buatkan nama untuk anak kita“ Anjani mendongakkan kepala, dan menatap manik suaminya.


“Nama?? Bukankah kelahirannya masih tiga bulan lagi???” Anwar mengernyitkan dahi.


“Tidak apa-apa, ayo kita buatkan nama untuknya“ Anjani membenahi diri, dari tidur menjadi duduk.


“Baiklah, kamu mau nama anak kita siapa??” Anwar bertanya, sambil mengikuti istrinya duduk bersila.


“Terserah, kamu saja yang menentukan“ Anjani menopang dagunya dengan tangan.


“Kamu tidak ada keinginan untuk memberinya nama?? Atau nama panggilannya mungkin??” tanya Anwar meyakinkan diri.


“Baiklah, aku akan memikirkannya“ Anwar mengetuk-ngetuk dahinya, lalu memutar kedua bola matanya, pertanda dia sedang berfikir.


“Buatkan dua nama, untuk anak laki-laki, dan anak perempuan“ pinta Anjani tiba-tiba.


“Bukankah anak kita laki-laki??” Anwar berhenti mengetuk dahinya, lalu mengerutkannya.


“Tapi itukan baru hasil USG, bisa saja salah kan?” jelas Anjani.


“Ah iya“ Anwar tersenyum.


“Apa kamu akan tetap bahagia, jika anak ini terlahir perempuan??” tanya Anjani tiba-tiba, membuat Anwar menarik napas panjang.


“Sayang, jangan tanya apapun, hal apapun yang kamu lakukan, yang kamu berikan untukku, adalah anugrah, dan kebahagiaan terbesar bagiku, jadi jangan bertanya lagi. Aku bahagia sangat bahagia, apapun jenis kelamin anakku“ Anwar terlihat frustasi, dengan pertanyaan istrinya, yang sama.


“Baiklah, ayo fikirkan dua nama“ Anjani mengalah, lalu tersenyum lembut.


“Hmh, sebentar“ Anwar kembali mengetuk-ngetuk dahinya.

__ADS_1


“Muhammad Fadli Anwar, kamu suka??” Anwar tersenyum sumringah saat menemukan nama yang dikira cocok untuk anak mereka.


“An, kenapa harus maksa banget sih?? Nyempilin nama kamu di nama anak kita??” Anjani terlihat cemberut.


“Hhiii ... aku tahu, kamu gak suka, karena gak ada nama kamunya kan?? Di nama anak kita?? Kamu tenang aja sayang, nanti kalau kita punya anak perempuan, aku akan selipkan nama kamu pada nama anak kita nanti“ Anwar terkekeh, terlihat begitu puas, ketika melihat istrinya yang tengah cemberut.


“Ya udah, gimana kamu aja“ Anjani membelakangi suaminya, sambil melilit tubuhnya dengan selimut.


“Eeehh, marah dia“ Anwar makin terkekeh.


“Sayang, kamu jangan suka marah-marah juga ya, kasihan Ayah, kalau kalian jadi pada suka marah-marah“ Anwar membujuk Anjani dengan menirukan suara anak-anak.


Tapi Anjani malah semakin menaikkan selimutnya hingga ke kepala.


“Ah, gitu aja marah, sensitive amat, tadi katanya di suruh nyari nama buat anak, udah ketemu namanya malah ngambek, ya ampuuunnn ... aku tuh suka bingung, kalau di suruh ngadepin ibu-ibu labil“ Anwar terus menggerutu.


“Apa?? Kamu bilang aku labil??” tiba-tiba Anjani menyingkap selimutnya, dengan rambut acak-acakan, dia menatap suaminya dengan tatapan marah.


“Ah, ampun sayang, bukan gitu maksud aku“ Anwar sudah pasang kuda kuda untuk menghindari serangan istrinya.


“Terus?? Maksudnya gimana??” Anjani masih menatap suaminya, dengan tatapan membunuh.


“Ma maksud akuuuu ... aku mau pipis, ah iya aku mau pipis dulu ya ...” Anwar segera berlari menuju kamar mandi, masuk kedalamnya dan langsung menguncinya.


“Amarah Ibu hamil, ooouuuuhhhh ya ampuuunn ... bikin frustasi aja, menyeramkan“ Anwar menggerutu, sambil mengacak rambutnya.


Sementara Anjani, terkikik geli, melihat tingkah suaminya.


“Ck, nak, kalau sudah besar jangan jadi suami takut istri ya, kayak Ayah kamu, dia takut, dan penurut pada Ibu, hhii ...“ Anjani terkikik, sambil membayangkan, jika anaknya sudah lahir, diapun akan menjadi anak penurut. Dia juga membayangkan, jika dia akan di kelilingi dua laki-laki yang akan sangat manut padanya.


“Tapi, akankah aku masih bisa melihatmu, jika kamu sudah lahir nanti nak??” Anjani mengelus perutnya lembut, tak terasa derai air mata, kembali meleleh di pipinya, mengingat jika mungkin saja dia akan tiada jika melahirkan nanti.


“Hidup, mati, semuanya kehendak Allah, mari kita sama-sama berjuang untuk tetap bisa hidup“ lirih Anjani.


Hingga tak terasa, dengan tubuh meringkuk, dan berderai air mata, dia terlelap dalam mimpinya, di iringi tatapan suami yang merasa curiga akan segala tingkahnya.


Bersambung.......


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.....

__ADS_1


__ADS_2