
Perlahan ku buka pintu kamarku, tak ingin membangunkan putraku, yang baru saja ingin tertidur.
Krrriiieetttt ....
“Anwar!!!! Apa-apaan kamu??!!” teriakku, kala kulihat Anwar tengah memeluk Tiwi, dengan Tiwi yang sudah tidak dengan penampilan yang baik.
Rambut acak-acakan, lipstik berantakan, dan rok yang sobek hingga ke atas paha, tengah memeluk Anwar.
Sementara Anwar, dua kancing kemejanya sudah di buka, dengan ke adaan yang tak kalah kacau.
Aku menutup mulutku, aku ingin menjerit dengan melihat pemandangan ini, jika kesadaranku sepenuhnya hilang, mungkin aku juga akan menjatuhkan Fadli dari gendonganku.
“Hhuuaaaaa!!!“ tiba-tiba Fadli menangis, mungkin kaget mendengar teriakanku.
“Jan, ini tidak seperti yang kamu fikirkan, kamu salah faham“ Anwar mencoba meraih tanganku.
Aku menghempaskan tangan Anwar, menyimpan Fadli di Box tidurnya, kemudian mengeluarkan semua pakaianku, dan memasukkannya kedalam koper.
Sementara Tiwi hanya terdiam dengan menyunggingkan senyumannya.
“Jan, jangan seperti ini, kamu salah faham, dengarkan penjelasanku dulu“ Anwar mencoba memelukku, tapi aku segera menepis tangannya kuat.
Sakit, itu yang kurasakan.
“Jan, aku mohon, kamu mau kemana? Jangan seperti ini!!! Dengarkan aku dulu, aku akan menjelaskan semuanya!!” suara Anwar meninggi.
Aku terdiam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bisa bicara, ku putar tubuhku hingga kami berhadapan,
“Apa yang harus kudengarkan?? Dari seseorang yang sudah memiliki penampilan seperti ini??” tanyaku menunjuk tubuh Anwar, yang sudah berantakan.
“Tidak ini salah faham, Tiwi menjebakku“ Anwar mencengkram tanganku kuat “Kamu percaya itu kan?”.
Sekali lagi kuhempaskan tangan Anwar, setelah memasukkan beberapa baju, aku menutup koperku, lalu mendorongnya, tak lupa aku kembali meraih putraku, lalu menggendongnya, Fadli tak berhenti menangis, hingga suasana menjadi tambah kacau.
“Pak Anto!!” teriakku kalap.
“Anjani, kamu jangan pergi!!!” Anwar kembali berteriak.
“Mau kemana kamu??” cengkraman tangan Anwar semakin kuat.
“I iya bu“ Pak Anto datang dengan tergopoh-gopoh, di susul Bi Lastri.
“Ada apa bu??“ tanya Bi Lastri.
Air mata, hanya itu jawaban untuk setiap pertanyaan mereka.
“Astagfirullah!! Tiwi! Apa yang kamu lakukan?”
Plaaaakkkkk!!!!
Bi Lastri memukul Putrinya.
__ADS_1
“Ibu kenapa memukulku??” Tiwi memegang pipinya.
“Dasar anak tidak tau diri!!!” Bi Lastri menggeret tangan putrinya.
“Bukan aku yang salah, pak Anwar yang menggodaku!!!“ teriak Tiwi sambil tersenyum menyeringai.
“A apa? “ Aku terperanjat sambil menatap Anwar.
“Ti tidak itu tidak benar sayang, ini fitnah!” Anwar kembali memohon padaku.
“Pak Anto, tolong titip Fadli, bawa dia kemobil, kita kembali kerumah Ibu“ Aku menyerahkan Fadli pada pak Anto, yang tengah melongo.
“Ba baik bu“ Pak Anto menerima Fadli yang tengah menangis histeris.
“Anto!! jika kamu berani membantu istriku, maka akan kupastikan kamu akan ku pecat!!!” Ancam Anwar.
“A apa pak?” terlihat pak Anto bingung.
“Bawa Fadli keluar!!!“ teriakku sarkis.
“Satu langkah kamu berani membawa putraku keluar dari rumah ini, kamu tidak akan selamat Anto!!” kembali Anwar berteriak tak kalah kencang dariku.
“Fadli putraku, aku berhak atas dirinya, dan kamu!!! kamu tak lebih dari seorang Ayah yang bejat!!” Aku menunjuk tubuh Anwar.
“Aku tidak bersalah!! Aku di jebak!! Aku di fitnah!” Anwar sudah bergetar hebat, aku tau dia begitu ketakutan.
“Ini yang kamu bilang Fitnah??” Aku menunjuk kemeja Anwar yang sudah penuh oleh lipstik Tiwi.
“Aku sangat membencimu Anwar!” teriakku.
“Iya, benci aku sesukamu, tapi jangan pernah tinggalkan rumah ini hum??” Anwar mencoba memelukku lagi, aku meronta, jijik ketika bayangan penghianatannya tadi terlintas di kepalaku.
“Jangan menyentuhku!!!”.
“Pak Anto, ayo kita pergi“ Aku beranjak, mendorong koperku, menggiring pak Anto yang tengah menggendong Fadli.
“ANJANI!!!! JIKA KAMU PERGI TANPA SEIZINKU, MAKA MALAIKAT TIDAK AKAN PERNAH MERIDHAI LANGKAHMU!!!” teriak Anwar semakin frustasi.
Langkahku terhenti, aku tidak ingin mengatakan apapun, Anwar masih suamiku, apa yang di ancamkannya memang benar, aku sungguh takut jika hal itu terjadi, aku tidak ingin menjadi istri yang durhaka.
“Jangan pergi, aku mohon, semuanya bisa di bicarakan baik-baik“ Anwar meraih tubuhku, lalu menenggelamkannya di tubuh kekarnya.
Aku sudah lemah tak berdaya, aku tak mampu lagi mengatakan apapun.
Pak Anto seolah mengerti, dia segera membawa Fadli ke kamarnya, seolah tak ingin lagi melihat kejadian selanjutnya.
“kamu tahu, aku tidak bisa hidup tanpamu, jadi jangan pernah pergi lagi dari hidupku“ dengan suara berat, Anwar terus berkata.
Aku masih diam, jujur hatiku tidak ikhlas menerima kenyatan ini. Anwar mengkhianatiku.
Dengan langkah gontai, aku kembali masuk, di ikuti Anwar yang mendorong kembali koperku, sementara itu, samar kudengar Tiwi tengah menangis histeris, dengan pukulan bertubi-tubi dari ibunya. Aku tidak peduli, dia pantas mendapatkan semua itu.
__ADS_1
Setibanya di kamar, aku hanya terdiam, jujur aku masih shock, dengan semua yang terjadi, semuanya terlalu cepat dan singkat.
Ku dudukkan tubuhku di tepi ranjang, sekali lagi mencoba mencerna semua yang terjadi, mencoba bersikap bijaksana, ku pejamkan mataku. Mencoba menenangkan fikiranku.
“Dengarkan aku Jan“ Anwar membuka suara, setelah beberapa saat dia terdiam.
“Aku tidak ingin mendengarkan apapun lagi“ jawabku sambil memalingkan wajah.
“Jan, jangan keras kepala, aku harus menjelaskan semuanya“ Anwar kembali mengiba.
“Bisakah jika kamu tidak bicara Anwar? Apa yang aku lihat, adalah sebuah penjelasan!!“ teriakku.
“jan, percayalah, mana mungkin aku bisa menghianatimu??” Anwar menyentuh bahuku, tapi segera ku tepis.
“Jika kamu melarangku untuk pergi, bisakah kamu yang pergi dari rumah ini?? Bukankah rumah ini sudah resmi menjadi milikku?? Aku berhak mengusir siapapun yang tidak aku sukai“ entahlah, fikiranku saat ini begitu kacau.
“Jan, aku suamimu“ mata Anwar berkaca-kaca.
“Kamu memang suamiku, Ayah dari putraku, tapi itu hanya akan sampai hari ini“
“Apa maksud kamu??”
“Kamu pasti mengerti ucapanku Anwar, aku benci di khianati“.
“Tidak sayang, tidak begitu, aku di jebak“ Anwar kembali berusaha menjelaskan, tapi amarahku sudah melebihi segalanya, telingaku sudah tertutup rapat oleh semua yang telah aku lihat.
“Aku sudah tidak ingin bicara denganmu lagi Anwar, jika kamu tidak pergi, maka aku tidak akan mengizinkan kamu untuk bertemu lagi dengan putraku“ ancamku.
“Jangan memberi pilihan sesulit itu Jan, Fadli darah dagingku, jangan libatkan dia dalam pertengkaran kita“.
“Kamu yang memulai semuanya“
“Tidak jan, aku di fitnah, aku di jebak, mengertilah“.
“Jadi, itu alasannya ponselmu di matikan?? Hanya karena ingin bebas berzina dengan ABG itu??”.
“Tidak Jan, ponselku hilang“
“Aku sungguh tidak mengenalimu Anwar“ Aku beranjak, kemudian berlalu menuju luar kamar.
Ku jambangi kamar putraku, terlihat Pak Anto dengan setia masih menunggui putraku, yang sudah terlelap dengan wajah cemasnya.
“Makasih pak Anto, sudah mau bantu saya“ Aku menghampiri box Fadli.
“Sama-sama bu, kalau begitu, saya permisi dulu“ Pak Anto undur diri, kemudian pergi keluar ruangan.
“Hay sayang, maafin Ibu yah ... Ibu tidak bermaksud menyakiti Fadli“ Aku mengusap kepala putraku, lalu menciumnya perlahan, dengan deraian air mata yang tak berhenti mengalir.
Bersambung................
Readers....jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.....
__ADS_1