
Braaaaakkkkk!!!!!
Tiba - tiba bu Novi masuk ke dalam ruanganku dan menggebrak meja, yang mebuatku terkaget - kaget sejadi - jadinya.
"Anjani!!!!! Masuk ke ruangan saya sekarang!!!!" Teriak bu Novi membuat tanganku yang sedang memegang pulpen gemetaran.
"Ada apa ibu??" tanyaku memberanikan diri.
"Gak usah banyak tanya, ikut saya ke ruangan saya sekarang!!!" Bu Novi masih berteriak - teriak.
"Baik bu" jawabku pasrah, dalam hatiku terus bertanya - tanya, jika bu Novi sudah berteriak seperti ini, pasti sedang ada masalah yang sangat besar,
Aku keluar dari dalam ruanganku, menuju ruangan bu Novi, aku melihat karyawan lain sedang berbisik - bisik tampaku mengerti, aku juga melihat Tiara yang tengah merundukkan wajahnya, sungguh aku bingung ada apa ini??.
"Anjani, apa ini??" Hardik bu Novi sambil melemparkan beberapa kertas tepat ke arah dada dan wajahku, yang membuat ku jelas kaget, karena selama aku bekerja, jelas aku merasa tidak pernah membuat kesalahan apapun.
"A apa ini bu??" tanyaku terbata - bata, antara kaget dan geram bercampur di dalam dadaku. Bu Novi memang kasar, dia tidak pernah berbicara baik - baik atau pun menceritakan dulu apa salah dan kekurangan karyawannya, dia hanya akan melihat secarik kertas dan langsung menyimpulkan pendapatnya.
"Kamu masih bertanya Anjani?? setelah apa yang kamu lakukan pada perusahaan, kamu penghianat Anjani, dan saya tidak akan mentolerir seorang penghianat seperti kamu!!" Bu Novi terus membentakku yang membuatku terperangah.
"Maksud ibu apa?? saya tidak mengerti bu" Aku masih tidak terima atas semua tuduhan bu Novi.
__ADS_1
"Maksud saya Anjani?? kamu nanya maksud saya??? Kamu mulai detik ini saya pecat!!!!"
Deg ...
Pernyataan bu Novi sungguh membuat jantungku hampir lepas dari tempatnya.
"Maksud ibu apa?? Kenapa ibu mau pecat saya??" Tanyaku masih kekeh dengan pertanyaanku.
"kamu buta Anjani?? kamu tidak bisa baca laporan ini?? Kamu korupsi Anjani" Bentakan dan teriakan bu Novi membuat tubuhku hampir hilang ke seimbangannya,
"korupsi ibu?? bagaimana mungkin saya korupsi?? saya tidak melakukan apapun ibu, tolong percaya sama saya ibu, saya bekerja sudah lama di perusahaan ini, bagaimana mungkin saya bisa melakukan semua ini??saya di fitnah ibu, tolong percaya sama saya, saya mohon" Aku memohon sambil mengacungkan ke dua telapak tanganku, seperti orang minta di kasihani.
"Tidak Anjani, saya tidak bisa mentolerir koruptor, saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi dari kamu, penjelasan yang ada di tangan saya ini, sudah cukup bagi saya, mulai sekarang kamu silahkan keluar dari perusahaan ini, dan jangan pernah menampakkan wajah kamu di hadapan saya lagi, kasus ini tidak akan saya limpahkan pada polisi, mengingat kamu karyawaty yang paling saya hargai karena kinerja kamu selama ini, saya mau menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan, nanti akan saya kabari untuk selanjut nya lagi" Tolak bu Novi.
"KELUAR!!!!! KELUAR KAMU DARI KANTOR INI!!!!!!" belum aku menyelesaikan kata - kataku, bu Novi sudah membentakku duluan.
Aku keluar dari ruangan bu Novi dengan kaki gemetar, sungguh ini adalah hal di luar nalarku, berasa di hempaskan dari langit ke tujuh, Aku??? Korupsi?? Tidak, ini tidak benar, jelas ini Fitnah. Tapi siapa orang yang berani memfitnahku? aku tidak pernah memiliki masalah dengan siapapun di kantor ini, bahkan jika bu Dewi masih ada di kantor ini pun, dia pasti akan menjelaskan pada semua orang, bagaimana atitude ku selama ini?
Sungguh, aku sudah meminimalisir hal - hal yang bisa merugikanku lewat fitnah dengan cara tidak terlalu dekat dengan siapapun di kantor ini, tapi kenapa?? ini bisa terjadi padaku?? masalah selalu berdatangan bertubi - tubi di hidupku? Kali ini penjelasan seperti apapun memang tak akan pernah sampai pada hati orang yang tengah di penuhi emosi. Dengan mulut terkunci, aku mengambil tasku, aku membereskan barang barangku, aku melihat ruangan kantor ini dengan penuh kesedihan, kantor ini adalah tempat pertama kalinya aku mengais rezeki, hingga untuk pertama kalinya aku bisa memberikan upah keringatku pada ibu, dari bekerja di kantor ini aku juga bisa menyekolahkan Indah, dan di kantor ini pula aku pertama kalinya bertemu Faisal.
Aku tidak sedih ketika harus kehilangan pekerjaan atau uang. Rezeki bisa di cari di manapun selama kita mau berusaha, bahkan kita bisa mendapatkan lebih, tapi caranya aku kehilangan pekerjaan ini, sungguh aku membencinya. Aku berjalan dengan terseok - seok, Tanpa sadar aku jalan kaki hingga tiba di kosanku, aku masuk ke dalam kosan, dan menguncinya, aku menangis sejadi - jadinya, sambil memukul dadaku, rasanya sakit sekali, aku di khianati entah oleh siapa?? aku hanya ingin di dengarkan, aku ingin perusahaan mendengarkan penjelasanku, setelah semua yang ku lakukan untuk mereka, jadi hanya ini yang bisa mereka lakukan untukku??.
__ADS_1
Dengan perasaan kalangkabut, aku membereskan semua barangku di kosan dan memasukkannya ke dalam tas besar, aku mengunci pintu dan kembali berjalan sambil menenteng tas besar, aku menunggu taksi yang tadi sempat ku pesan, tapi sialnya taksi online yang ku pesan pun berkhianat padaku, mereka meng cancel orderanku, aku harus bicara dengan seseorang agar hatiku lega, tapi entah siapa yang harus ku hubungi. Ah, Faisal aku akan menghubunginya, meski kami sedang melakukan gencatan senjata setelah pertengkaran kami tempo hari.
"Hallo Jani, kenapa??" Sapa Faisal setelah mengangkat telponku.
"Aku di pecat dari kantor mas," Tanpa basa - basi aku langsung to the point pada Faisal sambil terkulai lemah di tanah.
"Loh kenapa???" Terdengar suara Faisal sangat santai dan seperti basa - basi.
"Aku di fitnah mas," Jawabku masih terisak.
"Oh, ya udah, sekarang kamu mau ke mana??" Tanya Faisal lagi, nada suaranya semakin tak enak di dengar.
"Aku mau pulang ke rumah ibu aja mas" Jawabku.
"Oh ya udah, kamu hati - hati aja ya, maaf gak bisa nganter kamu"
"Iya, gak apa - apa"
Aku langsung menutup telpon Faisal tanpa ingin mendengar apapun lagi, kenapa Faisal??apa dia masih marah karena handphonenya pecah yang di sebabkan oleh ku?? harusnya aku pun masih marah karena dia sudah berani membentakku, dia bahkan tidak bertanya aku di fitnah untuk perkara apa?.
Sementara cuaca pun kini sangat tidak mendukungku, langit terlihat sangat mendung, kilat mulai menyambar - nyambar, dan terjadilah hujan yang teramat lebat, seperti mengiringi dukaku saat ini, aku menangis di antara rintik air hujan sambil menenteng tas besar, mulai sekarang aku menyukai hujan, lewat hujan aku bisa menyembunyikan air mataku, meski aku tak bisa menyembunyikan duka di hatiku, kelak suatu hari nanti, aku akan tau kenapa alasan aku di fitnah.
__ADS_1
Bersambung.............
Jangan lupa like, koment, bintang lima dan vote nya ya readers......author tunggu....makasih......