
“Ya ampuunn, sini geser, geser, iya yang itu, terus, terus, bukan yang itu, tapi yang sebelah sana“ Aku terus menunjukkan bungkusan kado yang kumaksud, pada Anwar.
Yah, malam ini, aku merasa sulit tidur, dan kuputuskan untuk membuka kado pemberian para tamu.
“Ya ampuunn, yang mana sih?” Anwar terlihat sudah sangat kesal, tapi entahlah, aku hanya ingin dia mengikuti semua keinginanku, sungguh ada banyak hal yang berubah dari diriku akhir-akhir ini, aku jadi sangat mudah tersinggung, mudah menangis, dan mudah kesal begitu saja, bahkan hanya karena hal hal sepele sekalipun.
“Yang itu Ayah, yang sebelah kanan“ Aku masih menunjukkan kado yang di bungkus oleh kertas berwarna coklat.
“Yang ini???” tanyanya, sambil mengacungkan kado yang kumaksud.
“Iya“ jawabku tersenyum, sambil bersila di atas kasur “Sini, bawa kesini“ Aku melambaikan tangan pada Anwar, Anwar menghampiriku, kemudian ikut duduk bersila.
“Kita buka ya“ Aku mulai merobek kertas yang membungkus kardus tersebut.
“Hah?? Apa ini??” Aku mengacungkan isi kado, yang ternyata lingerie berwarna merah menyala.
“Bhahaha” Anwar tertawa sambil menutup mulutnya, malu-malu.
“Ih, jail amat yang ngasih hadiah, kenapa isinya yang beginian sih??” tanyaku kesal, bercampur malu.
“Hahaha, mungkin yang ngasih hadiah tahu, kalau kita baru ketemu lagi“ Anwar tertawa mesum.
“Ish, dasar, Ayah aku mau buka kado yang itu dong, kado yang paling besar“ Aku kembali menunjukkan kado paling besar yang tadi diberikan Andi, sekretaris Anwar.
“Iya, baik Ibu“ Anwar kembali turun dari ranjang, dan beranjak mengambil hadiah yang kuinginkan.
“Ini“ Anwar memangku kadonya ke atas kasur.
“Aku penasaran banget sama isinya, ni kado gede banget, tapi kenapa ringan ya?? Kayak gak ada isinya“ Aku memutar mutar kado tersebut.
“Ya udah, buka ajalah“ Anwar bersedekap.
Perlahan aku membuka kertas yang membungkus tas besar itu, tapi setelah kubuka ternyata masih ada kertas lain yang membungkus kardus tersebut, dengan mengerutkan dahi aku terus membuka kado tersebut, hingga tibalah di dus yang paling kecil.
“Awas kalau isinya bukan benda berharga“ ancam Anwar, yang sudah gemas karena merasa di permainkan Andi dengan hadiahnya.
“Hush, Ayah gak boleh ngomong gitu, kita harus mensyukuri apapun pemberian orang lain, harus di hargai Yah“ Aku mendelik pada Anwar yang sedang memutar kedua bola matanya.
Perlahan kubuka kardus terakhir, berukuran super kecil itu.
__ADS_1
“Hah?? Kenapa isinya satu sachet shampoo ya???” Aku mengernyitkan dahi, kala kulihat hadiah dari Andi.
“Eh, ini ada suratnya“ Aku mengambil selembar kertas yang di gulung dari dalam dus tersebut, dan membacanya.
Bu Anjani, maaf yaaa, saya memberikan hadiah ini, karena saya tau, semenjak Ibu tidak ada, bapak belum pernah keramas dan mandi.
“Hahaha, Andi tau aja kebutuhanmu An" tawaku pecah.
“Ck, Andi benar-benar dia, sepertinya ingin di potong gaji“ Anwar berdecak kesal, tapi lama-lama dia ikut tertawa, melihatku tertawa, merasa lucu dengan apa yang di berikan sekertarisnya.
‘aku begitu bahagia, hingga aku takut, besok aku akan menderita lagi, ya Allah, tolong lindungi keluargaku, lindungi diriku“ lirih hatiku menggumam, sambil menatap wajah Anwar yang tengah tertawa.
“Jan, kamu mau buka semua kado ini sekarang?? Ini udah malem, kamu tidur ya, begadang gak baik buat ibu hamil“ Anwar menarik tanganku, hingga tubuhku masuk kedalam pelukannya.
“Emh, aku akan tidur sekarang“ Aku beranjak membenahi diriku, mencoba berbaring dan memejamkan mata, Anwar mengikutiku, dan memelukku dari belakang. Hingga kami sama-sama tertidur dalam kedamaian kami masing-masing.
***
Esok harinya, aku terbangun, segera kutunaikan shalat shubuh, lalu ku bangunkan Anwar.
Aku beranjak menuju dapur, tapi aku bingung, entahlah perasaan ini, kenapa rasanya tidak nyaman sekali, rasanya aku hanya ingin duduk terdiam, lalu rebahan, berkali-kali aku menguap, sungguh rasanya ini bukan diriku. Aku sungguh tak bisa menerima perubahanku sekarang, di tambah bentuk fisikku juga yang sudah banyak berubah, jujur ini begitu mengganggu, tapi aku berusaha menikmatinya. Rasanya kepalaku begitu pusing, ku dudukkan bokongku di kursi makan, dan kutenggelamkan kepalaku di meja, sayup, mataku terasa kian berat, entahlah ...
“Heeemmm ... An??“ kulihat Anwar sedang menatapku, dengan bingung.
“Jan, kamu tidur disini??” tanyanya lagi.
“Hah?? Enggak kok, aku gak tidur disini“ jawabku mengelak.
“Kamu kenapa hmh??” Anwar menatapku lekat, ada gurat khawatir di wajahnya.
“Aku gak apa-apa An“ Aku menggeleng.
“Kamu yakin gak apa-apa?? Wajah kamu pucat lho“ Anwar memegang wajahku.
“Aku gak apa-apa An, hiks ...“ tiba-tiba saja air mataku mengalir deras, entahlah ada apa dengan diriku.
“Loh?? Kok nangis?? Jangan nangis, sini aku peluk“ Anwar memelukku.
“Aku gak mau di peluk kamu“ Aku mendorong tubuh Anwar kuat, hingga dia hampir tersungkur.
__ADS_1
“Oke, sekarang kamu maunya apa?? Udah dong jangan nangis Jan, aku gak bisa liat kamu nangis kayak gini" Anwar masih merayuku.
“Aku mau nasi goreng buatan kamu“ Aku merajuk.
“Oh, mau nasi goreng aja kok sampe nangis segala sih?? Aku buatin ya“ Anwar beranjak menuju kompor, lalu menyalakannya setelah menyiapkan semua bahan-bahannya.
Lima belas menit, Anwar memasakkan nasi goreng untukku.
“Tarrraaaa ... udah jadi, sekarang kamu makan dulu ya“ Anwar menyodorkan sepiring nasi goreng kehadapanku.
“Huuueeekkkk ... hhhuuueekkk ...” Aku berlari kearah wastafel, dan memuntahkan semua yang ada didalam perutku.
“Jan, kamu kenapa??” Anwar memijit punggungku.
“Nasi gorengnya bau, kamu masukin bawang ya??” Aku menatap tajam ke arah Anwar.
“I iya“ jawabnya gagap.
“Kamu tuh, gak ngerti banget sih?? Aku gak suka bawang!!!” teriakku pada Anwar, ish, dia sungguh tidak mengerti aku.
“Ya ampuunn sejak kapan kamu gak suka bawang??” tanya Anwar.
“Sejak tadi, waktu aku lihat nasi goreng buatan kamu!” Aku masih kesal pada Anwar, tapi entah kenapa, apa mungkin aku kesal pada Anwar hanya karena kesalahan kecil itu?? Entahlah, ada apa dengan diriku.
“Ya udah, maafin aku yaaa ... sini duduk ya“ Anwar menuntunku untuk duduk kembali di kursi makan.
“Maafin aku yaaa ... “ Anwar menyeka keringat di dahiku, rasanya begitu lemas.
“Sekarang kamu mau makan apa dong?? Biar aku pesenin aja ya, kita gofood aja ya“ tawar Anwar.
“Gak mau, aku maunya kamu bikinin aku nasi goreng lagi, tapi gak usah pake bawang“ rajukku.
“Hah??? I iya, oke, kamu tunggu sebentar ya, aku masakin lagi nasi goreng tanpa bawang buat kamu“ Anwar kembali berkutat di depan kompor, membuatkan nasi goreng kedua untukku.
‘Ya ampuunnn ... Ibu hamil kenapa gini banget sih??? Udah sensitif, banyak maunya lagi’ gumam Anwar dalam hati.
Bersambung...............
Hay guys, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....
__ADS_1