
“Bagas, bercerailah dari Anjani!!“ seru Bapak yang membuatku hampir tersedak.
“Kenapa bapak?” Aku merasa sudah tidak ada lagi yang bisa mendukungku, kenapa semua orang kecuali Ibu menyuruhku bercerai dari istriku, aku tahu, aku memang seburuk itu, bahkan setelah istriku memberiku kesempatan kedua.
“Bapak tidak menyukai Anjani dan keluarganya” jawaban Bapak cukup membuatku kelu.
“Kenapa?? Bukannya dulu Bapak yang memaksaku untuk menikah dengan Anjani??” cecarku.
“Iya, itu dulu, tapi sekarang tidak“ jawab Bapak enteng.
“Kenapa Bapak selalu memandang rendah pernikahan?” tanyaku mulai tak sabar akan tingkah Bapak.
“Aku tidak pernah memandang rendah pernikahan, aku hanya ingin yang terbaik untuk putraku, dan kini Anjani bukan yang terbaik untukmu, Bapak sudah menyiapkan pengganti Anjani untukmu“ pernyataan bapak sungguh membuatku muak.
“Bapak, aku mohon, jangan terus memonopoli hidupku" suaraku mulai meninggi.
“Oya??? Kamu bisa menentukan jalan hidupmu sendiri Bagas?? Waw ... hebat kamu Bagas, kamu sudah bisa melawanku berkat perempuan itu, bahkan kamu rela jadi anak durhaka“ jawab Bapak berapi-api.
__ADS_1
“Tidak Bapak, jangan seperti itu, aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku“ jawabku melemah.
“Tapi aku tidak ridha, aku ingin kalian berpisah titik!!“ seru Bapak kemudian pergi meninggalkan aku, yang tengah mematung sendirian.
“Ya Allah, bagaimana caraku menyelesaikan semua ini??” gumamku lirih.
Aku kembali masuk kedalam kamar, dan kembali membaringkan tubuh lemahku.
Sudah beberapa hari, aku tidak mengunjungi istriku di rumah sakit, sengaja aku ingin menenangkan hatiku. Tapi aku sangat merindukan senyuman istriku.
Ah, dia begitu licik sekali, dia sudah berhasil membuatku galau, tapi sekarang dia tidak menghubungiku sama sekali, aku faham mungkin dia sangat membenciku. Tapi aku tidak bisa menahan rinduku. Akhirnya aku putuskan untuk menemuinya.
“Jan, apa kamu bahagia bersamanya??? Bahkan kamu menunjukkan senyuman yang tak pernah kamu tunjukkan padaku, aku iri pada pria itu Jan“ Ku langkahkan kakiku kembali, menjauhi ruangan yang menampung dua orang yang membuatku cemburu ini. Sungguh aku ingin jarum jam berputar ke sebelah kiri, agar aku bisa berteriak mengatakan “Aku mencintaimu istriku“.
Aku hanya pria pengecut, aku hanya pria pecundang, yang mengatakan hal yang ingin di dengar istriku saja aku tidak mampu.
Setelah sekian lama mematung, melihat pemandangan itu, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kantor, besok aku akan kembali lagi ke rumah sakit untuk menemui istriku, kali ini ku biarkan dia menikmati senyumnya yang sudah lama hilang karena telah aku renggut.
__ADS_1
Ke esokan harinya aku kembali kerumah sakit, setibanya di ruangan Anjani, ketika aku mau masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba Ibunya muncul di depan pintu dan langsung melotot kepadaku, seolah tidak rela jika aku menemui putrinya.
Ibu mertua kembali memakiku, dan memintaku untuk menceraikan putrinya. Jujur aku sudah tidak sanggup lagi menerima tekanan semua orang yang menyuruhku melepaskan istriku, aku ingin bertahan meski aku tahu, aku mungkin tidak pantas untuk istriku. Kenapa di saat aku ingin berubah, justru ujian itu semakin lekat terasa.
Tapi, permintaan para orangtua dan kenyataan yang kulihat, jika istriku tidak bahagia bersamaku membuatku menyerah meski tidak rela. Iya aku fikir saat ini, berpisah adalah hal terbaik untuk diriku saat ini.
Aku mentalaq istriku dengan berlinang air mata. Demi apapun aku tidak rela, jika waktu bisa berjalan mundur pada masa lalu, maka aku akan melakukan kebalikan dari akhlak burukku selama ini. Kenyataan ini seperti kutukan bagiku.
Rasa sakit ini tidak bisa ku gambarkan dengan kata-kata.
“Anjani, tahukah kamu?? Aku sangat ingin memanggilmu ‘sayang’, Anjani, kamu tahu?? masakanmu sangat enak hingga aku selalu menghabiskannya tanpa kata, aku suka ketika kamu mencium tanganku, aku suka ketika kamu mengamiinkan setiap doa-doaku, aku suka semua yang ada pada dirimu. Sayang ... maafkan pria tidak normal ini Jan” setelah hatiku meracau, aku mengusap air mata yang meleleh di pipiku dengan punggung tanganku.
“Sayang, berkat dirimu, aku menjadi pria yang sangat cengeng, dan berkat dirimu pula si cengeng ini akan berusaha menjadi pria yang baik, terimakasih untuk waktu singkat yang telah kamu berikan, besok, lusa, kelak suatu hari nanti kamu akan tau apa alasanku memutuskan ikatan suci ini“.
Bersambung.......................
Kakak readers terus dukung kisah aku yaaaaa....doakan agar aku bisa berahir dengan kisah yang bahagia
__ADS_1
@Anjani.........