KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Operasi Indah


__ADS_3

Hati itu adalah segumpal darah yang menjadi titik sentral segala rasa, rasaku mungkin sama dengan rasanya, ingin merasakan bahagia, tanpa diselingi rasa duka, tetapi itu hanya keinginan, karena sesungguhnya Allah menciptakan segalanya secara berpasangan.


Suara-suara kecewa itu, terdengar menggelegar, meski hanya berbisik di dalam hatiku.


Keegoisanku, memang selalu dalam level terlalu, dan aku tidak dapat menimang rasa untuk sekali-kali merasakan perasaan orang lain, aku begitu antipati dengan sebuah pengorbanan orang lain.


Lubuk hatiku adalah tempat terdalam untuk menyembunyikan semua rasa, dan kusembunyikan rasa benciku didalamnya rapat rapat, “Kak Andre, betapa aku kecewa padamu“.


Aku masih terpejam, ketika suamiku masuk kedalam ruangan tempatku dirawat, sebelum masuk ke meja operasi. Perlahan dia membuka pintu ruangan, langkah kakinya jelas terdengar ditelingaku, dia menuju kearahku, tapi, aku sengaja menutup mataku, untuk menyembunyikan air mata dan kesedihan yang makin memenuhi seluruh hatiku.


“Hay, sayang, selamat sore“ sapanya, kecupan hangat mendarat dikeningku, telapak tangannya membelai pipiku, air mata yang keluar dari kelopak mata secara tidak langsung menjawab pertanyaannya, bahwa aku hanya pura-pura tertidur.


Aku tersenyum, tapi mataku masih terpejam, tidak kuasa jika harus memandang wajah suamiku yang kini teramat kucintai, meski aku tahu, ternyata dia tidak sesungguhnya mencintaiku, mataku tetap terpejam, tak kuasa jika harus memandang wajah suamiku yang sangat tampan itu, yang kini di balut oleh rasa khawatir. Aku tak sanggup jika harus menatap sorot matanya. Semuanya adalah kesalahanku di masa lalu.


Yang karenanya, semakin hari, hatiku semakin di hinggapi rasa bersalah, aku seharusnya tidak menjelek-jelekan kak Anjani kala itu, aku harusnya bisa bertemu dengan pria lain yang jauh lebih baik, dan lebih mencintaiku. Penyesalan ini, kenapa baru datang sekarang??.


“Sudah diminum obatnya?” terdengar dia bertanya, padaku yang tengah memejamkan mata.


“Sudah,“ jawabku singkat, kemudian membuka kedua mataku, terlihat dia sedang tersenyum manis ke arahku. Kumis tipisnya dan pipi tirusnya aku memperhatikannya, semua ini membuatku tak hentinya dirundung rasa bersalah, aku harusnya tidak membuatnya melepaskan orang yang dulu sangat di cintainya. Kak Anjani, Kakakku sendiri adalah orang yang sangat di cintai suamiku, dulu, hingga hari ini.


“Ya sudah, sekarang kamu istirahat dulu ya, aku tahu, kamu perempuan kuat, kamu pasti bisa melewati ini, aku bersamamu“ katanya, sambil menggenggam tanganku erat.


Aku tak bisa berkata apa-apa, perkataannya membuatku semangat, butiran semangat yang tadi sudah hampir lenyap, kini muncul kembali.


“Kak, apa Kak Andre masih mencintaiku??” tanyaku menatapnya lekat, sekuat tenaga aku bangkit dari tidurku, Kak Andre membantuku pelan pelan.


“Aku mencintaimu, terimakasih atas pengorbananmu“ jawabnya yang membuatku terharu.

__ADS_1


“Terimakasih Kak,“ jujur saja, aku sangat takut ketika tau akan menghadapi meja operasi hari ini.


“Kakak, mana Kak Jani dan yang lainnya?” tanyaku sambil mengedarkan pandangan.


“Mereka ada diluar, mau aku panggilkan??” tanyanya sambil beranjak.


“Hmht, iya“ jawabku sambil mengangguk.


Kak Andre beranjak pergi keluar, memanggil keluargaku yang lainnya, rasanya sebelum masuk ruang operasi, ingin sekali aku menemui mereka.


Tak lama mereka datang, “Dek,“ Kak Jani, dengan berurai air mata, dia menggenggam tanganku, sementara Ibu langsung mendekapku.


“Kamu yang kuat ya, kamu pasti bisa“ lagi, kak Jani memberiku semangat.


“Iya Kakak,“ jawabku lemah.


“Selalu nak, kamu anak Ibu, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa“ Ibu memberiku semangat dengan berapi-api.


Aku hanya mengangguk kecil, dan tersenyum, dalam lubuk hati yang paling dalam, terselip berjuta rasa terimakasih yang kupanjatkan kepada Allah, karena telah memberiku keluarga yang begitu mencintaiku, terlepas dari apapun yang pernah kulakukan.


“Ibu Indah, siap untuk keruang operasi sekarang ya?” tiba-tiba Dokter puspita dan dua orang perawat datang.


Deg !


Jantungku berdetak keras, “Ya Allah, hari ini adalah hari terbaik yang engkau siapkan untukku, aku berharap hari ini akan menjadi hari penuh keajaiban. Tiadalah kekuatan bagiku, karena aku percaya engkaulah maha segalanya, aku pasrahkan seluruh hidup dan matiku hanya kepadamu. Beri aku kesempatan untuk menata kembali kehidupanku, engkau maha bijaksana ya Allah, engkau maha baik“ batinku dalam hati.


“Baik Dok, saya sudah siap“ Aku tersenyum berusaha sekuat mungkin untuk menghilangkan rasa ragu. Aku menatap suamiku, aku tau ada cinta di matanya, aku kemudian menatap keluargaku satu persatu, aku tahu ada raut kekhawatiran disana, tapi aku berusaha menyembunyikan rasa takutku, agar tak menjadi beban bagi mereka.

__ADS_1


Kereta dorong, yang membawaku ke ruang operasi seperti kapal besar, yang membawaku pada segala kemungkinan yang akan terjadi, mungkin saja hari ini, adalah hari terakhirku menghirup udara didunia ini, atau mungkin sebaliknya.


Ketika sampai diruang operasi, segalanya tidak sesuai dengan bayanganku, Dokter Puspita menyambutku dengan ramah, ada kekuatan hebat yang membuatku semakin kuat untuk menghadapi hari ini.


“Ibu Indah?? Apa kabarnya hari ini??”tanya Dokter Puspita ramah.


“Kabar baik Dok,“ jawabku. Mataku menatap sekeliling. Banyak peralatan medis yang biasanya hanya aku lihat di film atau televisi, ada pisau, gunting, tabung oksigen, lampu besar dan ... ah ...


“Tidak usah khawatir, saya akan membantu ibu Indah, Ibu Indah tenang saja ya,“


Aku tersenyum, kulihat di dalam ruangan ini tidak hanya ada Dokter Puspita, tapi ada beberapa Dokter lainnya juga, semua sibuk dengan persiapan operasi, sementara Dokter puspita berdiri disampingku, mengajakku terus berbicara.


Prosedur medis untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan rasa sakit, saat operasi dan sesudahnya, dengan cara menghambat sinyal perasa menuju otak.


Meskipun Dokter Puspita terus bicara, tapi irama jantungku terus berdetak, yang semakin lama terasa semakin melemah, sesekali aku kehilangan kesadaranku, yang kudengar hanya tawa canda dari para pengintai maut.


Aku ingin menangis, aku menyesal telah melakukan banyak kesalahan selama hidupku.


Tapi kini aku hanya bisa pasrah,


“Ibu Indah,“ tanya Dokter Puspita yang samar terdengar.


“Ibu??” tanyanya lagi.


Tapi entahlah, aku tak mampu menjawab lagi, seketika kesadaranku mulai menghilang, semuanya terasa gelap. Aku kehilangan kesadaranku.


Bersambung................

__ADS_1


Hay readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.....


__ADS_2