
Indah POV
Pagi yang menyapa hari, udara yang membawa kesejukan menyapa kulit yang lembut, setelah melewati masa-masa suram dan kesedihan. Di dalam kamar aku berdiri didepan cermin, ketika tiba-tiba suamiku memelukku dengan erat, terus mengerat hingga aku sulit bernapas.
“Apa Kakak, begitu mencintaiku?? Hingga pelukan ini sulit dilepaskan?” tanyaku padanya yang tengah menenggelamkan kepalanya di leherku.
“Aku sangat mencintaimu, maaf karena membuatmu merana selama ini,“ sesalnya, tak berani menatapku yang tengah memperhatikannya.
“Aku juga sangat mencintai Kakak,“ jawabku sambil mengusap kepalanya lembut.
“Maafkan setiap kesalahanku, aku tidak pernah mengerti kamu, hingga kamu harus berjuang sendirian“ lagi, dia mengutarakan penyesalannya.
“Hmh, tentu saja, Kakak adalah segalanya bagiku, aku rela mengorbankan apapun selama itu bisa membuat Kakak bahagia“ jawabku sambil tersenyum.
“Terimakasih, mulai sekarang kita berjuang bersama ya, kita lakukan kembali dari awal, kita bisa melakukan program kehamilan bersama-sama, kamu maukan??” sungguh pernyataan dan pertanyaannya membuatku terharu.
“Hmh, tentu saja aku mau Kakak,“ jawabku sambil mengusap air mata yang hendak jatuh, karena saking terharunya aku.
“Jangan menangis lagi, aku sangat mencintaimu,“ Dia menyeka air mataku.
“Sungguh??“ tanyaku meyakinkan.
“Tentu saja“ jawabnya.
“Baiklah, akupun sangat mencintai Kakak,“ jawabku lagi, sungguh aku sangat bahagia, lima bulan pasca operasi, Kak Andre semakin baik padaku, sikap dinginnya berubah menjadi hangat, mungkin ini yang di namakan hikmah di balik musibah, aku sudah merasakannya, kurasakan ketulusan dari setiap ucapan suamiku, semuanya tidak ada yang sempurna, kita perlu ujian agar kita mendapat kelulusan.
Yah ... aku tau semua percakapan Kak Andre dan Kak Jani, yang menyatakan jika Kak Andre sangat mencintai Kak Anjani, jika ada yang bertanya bagaimana perasaanku maka jawabannya adalah sakit, sangat sakit, bagaimana mungkin, aku harus menerima kenyataan jika suamiku sangat dan masih sangat mencintai Kakakku sendiri, dalam hal apapun aku selalu kalah dari Kakak, termasuk memenangkan hati pria yang kini sudah berstatus suamiku.
Ingin rasanya aku berteriak, jika aku juga ingin dilihat, ingin di perhatikan, dan ingin mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi, setelah semua yang kulewati, aku sadar dan yakin, bahwasannya Allah itu maha adil, aku sudah mendapat bayaran atas semua dosa yang kulakukan. Dan mulai sekarang, aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik lagi, seperti Kak Jani, yang awalnya Kakak selalu di uji, tapi kini Kakak bisa menikmati hasil dari ujiannya, nyaman, aman, damai, itu yang kulihat dari kehidupan Kakak sekarang. Aku banyak belajar dari hidup Kakak, bahwasannya semakin Kakak di uji, maka semakin sabarlah dia, hingga dia bisa menikmati hasil dari sabarnya. Aku bangga punya Kakak seorang Kak Anjani. Aku ingin seperti Kakakku itu.
“Indah, bagaimana jika kita melakukan bulan madu, bukankah kita belum pernah melakukannya??” tawar Kak Andre yang membuatku terbelalak.
“Bu bulan madu Kak?” tanyaku tergagap.
__ADS_1
“Iya, kamu mau kan??” tanyanya lagi.
“Aku mau Kakak,“ jawabku sambil memeluknya.
“Hmht, kita pergi bulan madu ya, kamu mau pergi kemana??” tanyanya memberiku kebebasan untuk memilih.
“Aku mau ke ...” jawabku sambil berfikir.
“Aku bingung, apa aku tanya Kak Jani aja ya Kak??” tanyaku, ah ... entahlah, selalu saja nama Kak Jani yang terlintas dikepalaku ketika aku dihadapkan pada pilihan, masalah, atau kebahagiaan, Kakak aku sungguh iri padamu.
“Ya udah, kamu ngobrol aja dulu sama Kak Jani, nanti kamu putuskan kita mau bulan madu kemana yah,“ putus Andre.
“Baik Kak“ jawabku sambil mengambil ponselku yang tergeletak di atas kasur.
Kutekan tombol panggil pada nomor Kak Jani,
“Hallo Asslamu’alaikum Kakak“ Aku menyapanya ketika telpon sudah di angkat.
“Wa’alaikumsalam Dek, ada apa??” tanya perempuan yang memiliki suara meneduhkan itu.
“Cerita apa Dek??” tanyanya terdengar suara penasaran tergambar dari suaranya.
“Kakak, Kak Andre mengajakku bulan madu, menurut Kakak kira kira aku pergi kemana ya??? Apa Kakak memiliki referensi??” tanyaku malu-malu.
“Oooohhh, eh An, lihat deh Indah sama Andre mau pada pergi bulan madu“ terdengar Kak Jani berbicara dengan Kak Anwar.
“O ya??? Sayang, apa kita juga perlu pergi bulan madu??” suara Kak Anwar terdengar nyaring dan antusias.
“Ish, Kakak akukan sedang bertanya, kenapa malah bicara sama Kak Anwar sih?” Aku setengah berteriak, karena kesal pada mereka.
“Iiiihhh ... An, apaan sih?? Kita ini udah tua, gak perlulah bulan madu, ngikutin gaya anak muda, hhii“ terdengar Kak Jani yang terkikik, aku memutar kedua bola mataku, kelakuan mereka memang bener-bener deh.
“Eh, tapi sayang, tapi kayaknya itu perlu deh, ya siapa tau kita juga jadi cepetan punya anak” Aku semakin kesal, karena mereka melanjutkan obrolan mereka tanpa menghiraukan aku yang sedang menunggu.
__ADS_1
“Kakkaaaaaaakkkk!!!!“ Aku berteriak.
“Astagfirullah Dek, kamu jangan teriak-teriak“ terdengar Kak Jani mengambil ponselnya lagi, dan meresponku kembali.
“Kakak, aku dari tadi nungguin Kakak lho,“ Aku cemberut.
“Iya, eemmhh ... kamu gak diskusiin sama Andre dek?” tanya Kak Jani kemudian.
“Kak Andre malah nyuruh aku yang nentuin, tapi aku bingung mau kemana Kak“ rengekku.
“An, kamu punya referensi tempat buat bulan madu gak??” terdengar Kak Jani bertanya pada Kak Anwar, ish ...
“Eeemmhh ... ada, aku tau tempat terindah buat bulan madu“ jawab Kak Anwar di seberang sana.
"Di mana An??” tanya Kak Jani antusias.
“Di dalam kamar, di atas kasur hahhah” jawabnya dan tawa mereka terdengar pecah.
“Iiissshhh ... Kakakkaaaaaaaakkkk!!!“ Aku kembali berteriak,
“Ya sudah, ternyata bertanya pada Kakak bukan solusi, lebih baik aku nyari di internet saja“ Aku semakin cemberut.
“Eeeehhh ... ya udah dek, sementara kamu liat referensi di internet dulu aja ya!!“ teriak Kak Jani.
“Iya deh, nanti aku kabarin Kakak lagi, udah dulu ya Kak, Assalamu’alaikum, dah Kakak“ pamitku.
“Wa’alaikumsalam Dek“ jawabnya.
Kemudian aku menutup kembali telponku dengan Kak Jani, aku tengkurep di atas kasur kemudian membuka google, melihat referensi kota yang bisa aku kunjungi ketika bulan madu bersama Kak Andre. Setelah satu jam scroll ponsel, akhirnya aku mendapatkan referensi yang lumayan bagus menurutku. Jogja, yah aku memutuskan untuk bulan madu kesana saja. Aku segera bangkit, kemudian memanggil kak Andre, yang berada diruang tengah, kemudian mendiskusikan pendapatku yang ingin berangkat bulan madu ke Jogja. Dan kalian pasti tahu, tentu saja kak Andre setuju dan sangat antusias dengan pendapatku.
Yes, akhirnya berangkat liburan juga, setelah sekian lama mendekam di rumah, dan berjuang melawan rasa sakit, akhirnya aku diberi kesempatan untuk refreshing. Terimakasih ya Allah, untuk segala nikmatmu.
Bersambung................
__ADS_1
Yuhuuuuuu...readers kesayangannya author, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa....