
“Siapa bu?” lagi aku bertanya, rasa penasaranku semakin bertambah melihat ekspresi wajah Ibu.
“Dia juragan tanah dari kampung sebelah” jawab Ibu sambil merunduk malu-malu, aku tercekat dengan ekspresi wajah Ibu, Ibu sepertiiii ... orang yang sedang jatuh cinta, Astagfirullah, di usia Ibu yang sudah kepala lima, apakah mungkin??? Semoga saja tebakanku kali ini salah.
“Lalu, kenapa dia kesini bu??” tanyaku lagi sambil menidurkan kepalaku di pangkuan Ibu, kebiasaanku sulit hilang, meski aku sudah menikah.
“Emmhh ...” jawaban Ibu semakin mencurigakan.
“Kenapa bu??” lagi aku bertanya, Ibu menghentikan elusan tangannya dikepalaku.
“Dia memiliki harapan lebih pada Ibu“ jawab Ibu, sambil memalingkan wajahnya tersenyum.
“Maksudnya??” Aku terlonjak kaget, dan langsung bangun, lalu duduk.
“Iya, dia bermaksud untuk melamar Ibu“ jelas Ibu, yang membuatku agak sedikit shock, ternyata dugaanku benar.
“Ibu harap kamu bisa menyetujuinya“ lanjut Ibu.
Aku terdiam, entahlah, rasanya ada gejolak aneh didalam hatiku.
“Gimana menurut kamu Jan?” tanya Ibu antusias.
“Emmhh, Jani gak tau bu“ jawabku akhirnya.
“Loh kok gak tahu?? Atau kamu gak setuju kalau Ibu nikah lagi?” Ibu bertanya menatapku, terlihat ada gurat kecewa disana.
‘Kalau ibu berniat mau menikah lagi, kenapa Ibu gak nikah lagi aja sama Ayah ya??bukankah waktu itu, Ayah meminta Ibu untuk bisa rujuk lagi dengan Beliau?’ tanyaku dalam hati.
“Jan?? Kamu gak setuju??” Ibu mengguncangkan pahaku.
“Ah, i iya bu, kalau Jani sih, apapun yang Ibu inginkan, selama itu perbuatan baik Jani setuju bu, dan bukankah menikah itu baik?” Aku tersenyum pada Ibu, meskipun hatiku masih sangat ragu, berhubung aku masih belum mengenal sosok pria, yang akan menjadi Ayah sambungku.
“Indah sudah tahu bu??” tanyaku kemudian.
“Belum Jan, nanti kamu kasih tau ya“ perintah Ibu.
“Iya bu, nanti akan Jani sampaikan, tapi memangnya Ibu sudah yakin pada pria itu bu??” tanyaku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
“In sya Allah, ibu yakin nak“ jawab Ibu semangat.
“Ya udah, kalau Ibu sudah yakin, Jani tidak bisa berbuat apa-apa lagi“ jawabku, kemudian kembali menidurkan kepalaku di pangkuan Ibu, dan Ibu langsung mengelusnya dengan sayang.
__ADS_1
Tak lama berselang, suamiku datang menjemputku.
“Assalamu’alaikum Ibu“ Anwar mencium tangan Ibu.
“Wa’alaikumsalam nak, apa kabar?” sapa Ibu kemudian.
“Baik ibu, Jani 'nya mana bu??” tanya Anwar sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
“Ada lagi di dapur, lagi masak, kalian makan dulu aja disi ya“ pinta Ibu pada Anwar.
“Ah iya Ibu, maaf kami jadi merepotkan“ Anwar tersenyum pada Ibu.
“Ah, bagaimana mungkin kalian merepotkan Ibu?? Ibu senang kalian sering berkunjung kesini“ jawab Ibu, sambil membalas senyum Anwar.
“Terimakasih Ibu“ kata Anwar.
“Sama-sama nak, oh iya, bagaimana pekerjaan kamu nak??” tanya Ibu kemudian, memang mertua dan menantu itu begitu cocok, tiap bertemu ada aja yang mereka bahas, dari mulai masalah pribadi hingga masalah pekerjaan.
“Pekerjaan Anwar alhamdulillah, baik-baik aja bu“ jawab Anwar, kemudian mereka terhanyut pada cerita masing-masing, entah apa saja yang sudah mereka bicarakan, hingga aku selesai memasak.
“Bu, Mas Anwar, makan dulu yuk“ ajakku.
“Oh, iya asyik ngobrol sampai lupa, kalau ada yang nyiapin makan“ Ibu terkekeh, di ikuti menantunya.
Selesai makan, kami langsung pamit pulang pada Ibu, Ibu mengantarkan kami hingga di ujung pagar, terbersit rasa iba pada Ibu, di masa tuanya Ibu harus tinggal sendirian, dirumah. Kami hanya mengunjungi Ibu sepekan sekali atau sepekan dua kali, beruntungnya jika siang hari Ibu memiliki kegiatan, menunggu toko kue yang pernah ku rintis dulu. Yah ... Ibu hanya menungguinya saja, karena sudah ada beberapa karyawan yang mengurusnya, Alhamdulillah, sekarang Toko kue itu berkembang juga. Yah untuk menunjang hidup Ibu sendiri, lumayanlah. Sudah lebih dari cukup.
Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam “Kamu kenapa?? Masih kangen Ibu??” tanya Anwar tiba-tiba.
“Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu“ jawabku sambil memandang jalanan dari jendela mobil.
“Memikirkan apa??” tanyanya sambil sesekali menatapku.
“Bagaimana menurutmu jika Ibu menikah lagi?” tanyaku pada suamiku sambil memutar tubuhku, menghadap kearahnya.
“Bhhhaaaahahha” Dia malah tertawa, entah kenapa, entah apa yang lucu.
“Kenapa ketawa??” tanyaku sambil menautkan kedua alisku.
“Ya lucu aja kamu itu pertanyaannya“ jawabnya sambil menahan tawa.
“Kok lucu sih?? Apanya yang lucu?” tanyaku sambil menatapnya.
__ADS_1
“Ya lucu, Sayang, jika Ibu mau menikah lagi, ya sudah restuilah, jangan dihalangi, lagian kasian juga kan?? Ibu sudah terlalu lama sendiri, mungkin Ibu butuh teman untuk bisa mendampinginya“ jawaban Anwar memang benar sih.
“Tapi,“ Aku tercekat.
“Tapi apa??” tanyanya tanpa menoleh, dia tetap fokus pada jalanan, di hadapannya.
“Kenapa rasanya aku tidak ikhlas ya??” Ku utarakan rasa yang dari tadi sangat mengganjal dihatiku.
“ Wajar, kamu tidak ikhlas, anak mana yang rela Ibunya akan dimiliki orang lain, anak mana pula yang rela punya Ayah sambung, setiap anak pasti ingin keluarganya berkumpul utuh“ lagi, jawaban Anwar seratus persen benar.
“Lalu, aku harus bagaimana??” tanyaku sambil menghela napas.
“Ikhlas,“ jawabnya singkat.
“Iya, mungkin aku harus ikhlas membiarkan Ibu menikah lagi“ jawabku lemah.
“Sayang, lagian kamu kan udah ada aku, masa iya, kamu masih belum ikhlas melepas Ibu, Ibu saja ikhlas melepas kamu untuk aku, kenapa kamu tidak ikhlas melepas Ibu untuk Ayah kamu yang baru“ hhhuuuhhhuu ... Anwar kata-katanya bener lagi.
“Iya juga ya,“ jawabku singkat.
“Emangnya kenapa kamu bertanya kayak gitu?” tanyanya lagi.
“Gak, tadi waktu aku datang kerumah Ibu, aku ketemu sama seorang pria, yang kata Ibu, bakalan jadi Ayah aku“ jelasku.
“Tapi, aku gak kenal sama dia An, aku cuman takut, dia bukan pria yang baik buat Ibu“.
“Ya udah sayang, kamu berdo'a aja yah, semoga dia bisa menjadi suami yang baik buat Ibu, dan jadi Ayah yang baik buat kamu dan Indah, udah jangan di fikirin lagi yah, kan ada aku“ Anwar mengelus kepalaku, lalu aku mengangguk sambil kembali menatap jalan.
“Eh, sebentar!!!” teriakku tiba-tiba, kala melihat seorang pria yang baru saja aku kenali.
“Ada apa sayang?? Kamu bikin kaget aja“ teriak Anwar yang tiba-tiba saja mengerem mobilnya.
“Itu, kok kaya pria tadi“ Aku menunjuk pemandangan diluar mobil.
“Mana?? Pria siapa??” jawab Anwar mendelik.
“Itu, di depan, pria yang tadi datang kerumah, yang katanya calon suami Ibu!!!“ teriakku sambil menunjuk l-nunjuk pria yang tak jauh dari tempat kami.
“Ah, masa sih?? Tapi kok????”
Bersambung.....
__ADS_1
Readers, jangan lupa dukung author terus yaaaaa....