KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Fadli sakit


__ADS_3

Hidung mancung, alis tebal, mata bulat, kulit putih, dan bibir tipis berwarna merah, yah ... dialah putraku, setiap pagi, ketika bangun tidur, aku di suguhi pemandangan seperti itu.


Bahagia??? Jawabannya sangat, hidupku terasa sempurna.


Hari ini, putraku berusia enam bulan, dia sudah menunjukkan perkembangannya, dia sudah mulai bisa tengkurep, lucu sekali,


ketika dia merangkak di atas dadaku, lalu memegang wajahku dengan celotehannya,


yang tidak aku mengerti.


Anwar??? Jangan ditanya, kalau bahasa selebrity bilang dia itu, termasuk salah satu ‘hot Papa’, dia terlihat teramat mencintai dan


menyayangi putranya.


Pagi ini setelah aku melihat Fadli di kamarnya, dan menyalakan murotal dari laptop yang sengaja kusimpan di kamarnya, aku beranjak menuju dapur, untuk melihat bi Lastri yang tengah sibuk membuatkan sarapan, sementara Anwar sedang mandi, dan bersiap untuk berangkat ke kantor.


Ku lihat, bi Lastri tengah melamun sambil memotong sayuran, tidak biasanya aku melihatnya begitu cemas, dan khawatir.


“Bi“ sapaku, tapi bi Lastri tak bergeming dia


tetap fokus, seolah tak mendengar ucapanku.


“Bi Lastri“ panggilku lagi.


“Eh, iya bu, ada apa ya?? Ibu mau sesutu?”


tanyanya gugup.


“Bibi kenapa??” tanyaku, pada perempuan paruh baya, yang sudah sangat banyak membantuku ini.


“Bibi gak apa-apa bu“ jawabnya sambil menunduk.


“Bibi, sini duduk disini deket aku“ Aku mendorong kursi, untuk mempersilahkan bi Lastri duduk.


“Ah, iya bu“ Bi Lastri manut, dia duduk di samping kiriku.


“Bibi kenapa??” tanyaku lagi.


“Ah, tidak apa-apa bu“ jawabnya, kembali


menundukkan kepalanya.


“Gak, apa-apa, kalau bibi ada masalah cerita aja, kita kan keluarga“ pintaku sambil mengusap bahunya.


“Bibi malu bu“ jawabnya.


“Loh?? Kok malu, gak apa-apa, bibi bilang aja, bibi kenapa?? Mungkin aku bisa bantu“ Aku menatapnya dalam.


“Bibi lagi bingung bu“ Bi Lastri memulai sesi


curhatnya.


“Bingung kenapa??” tanyaku mengernyitkan dahi.


“Bibi punya anak gadis, sekarang sudah lulus SMA, katanya mau melamar kerja, tapi bibi bingung, bibi sangat khawatir jika harus


melepasnya begitu saja, maklum lah bu, pergaulan anak zaman sekarang seperti


apa“ Bi Lastri mengungkapkan unek-uneknya padaku.

__ADS_1


“Oh, begitu, dia memang mau bekerja di mana bi??” tanyaku.


“Katanya sih mau bekerja di perusahaan XX“ jawab Bi Lastri, setelah berusaha mengingat-ingat nama perusahaan yang akan di tempati


untuk bekerja oleh putrinya.


“Oh, itu kan dekat dari sini, kenapa anak bibi gak tinggal disini aja, dia bisa kan sekamar sama Bibi“ pintaku antusias.


“Ah, emang boleh bu?” Bi Latri kaget, juga tak kalah antusias.


“Ya boleh lah, masa gak boleh, selain menghemat biaya kost, anak bibi juga jadi bisa terpantau, jika dia sudah pulang kerja“.


Jawabku, seketika teringat akan kisahku dulu, ketika aku harus bekerja, ngekost, jauh dari keluarga, rasa itu sungguh menyesakkan dada.


“Ah ibu, sungguh?? Bu Anjani baik sekali“ Bi Lastri dengan penuh haru, memegang tanganku, tanda sangat bahagia.


“Iya, beneran“


“Ada apa ini?? Pagi-pagi udah pada ngerumpi, sayang, dimana putraku??” tiba-tiba Anwar muncul, mencium keningku lalu menanyakan


putranya.


“Putramu di kamarnya, masih tidur“ jawabku, itulah kebiasaannya, hal pertama yang di tanyakan adalah putranya.


“Pagi-pagi, lagi pada ngobrolin apa sih??” tanyanya lagi.


“Ini loh Ayah, katanya anaknya Bi Lastri, mau kerja, di karenakan kebetulan tempat kerjanya dekat dengan rumah kita, maka aku menyarankan untuk anaknya bi Lastri tinggal disini aja, boleh kan??” tanyaku,


setelah menjelaskan keluh kesah bi Lastri.


Anwar terdiam “Anaknya perempuan?” tanya Anwar.


“Iya“ jawabku antusias.


Sementara bi Lastri, setelah kedatangan Anwar, beliau langsung kembali berkutat di depan kompor.


“Sayang, bisa kita bicara sebentar?” tanyanya, sambil menarik tanganku, menuju kamar putra kami, meninggalkan bi Lastri yang tengah asyik mengaduk masakannya.


“Kenapa??” tanyaku setelah tiba di kamar Fadli.


“Sayang, apa kamu tidak berlebihan mengajak putrinya Bi Lastri untuk tinggal di rumah ini??” tanya Anwar mengutarakan pertanyaannya.


“Emh?? Berlebihan?” tanyaku, mengerutkan kening “Aku rasa tidak, dia bisa sekamar dengan Ibunya“ jawabku.


“Tidak, bukan itu maksudku“ jawabnya, seolah bingung, mau mengatakan apa padaku.


“Lalu?”


“Eeemmhh ... rumah ini memang milikmu, tapi tak bisakah kamu bertanya padaku lebih dulu?? Aku merasa tidak nyaman dengan


kedatangan orang lain, yang tidak ada hubungannya dengan kita“ jelas Anwar.


“Astagfirullah, maafkan aku, aku tidak berdiskusi dulu denganmu, aku hanya merasa iba, dengan kondisi Bi Lastri, bagiku Bi Lastri


itu sudah seperti keluargaku sendiri, dia sudah terlalu banyak membantuku Ayah,


maafin aku ya“ Aku menunduk, merasa sangat bersalah, karena telah memutuskan


sesuatu tanpa persetujuan suamiku, mungkin selama ini aku selalu terbiasa dengan Anwar, yang selalu memenuhi setiap keinginanku, jadi aku berfikir untuk kali inipun, Anwar akan menyetujuinya. Apalagi, apa yang kulakukan kali ini adalah sebuah kebaikan, yah ... menolong orang yang sedang kesusahan itu,

__ADS_1


kebaikan bukan??.


“Gak apa-apa“ Anwar memelukku, berusaha menenangkan aku yang merasa bersalah.


“Gimana dong?? Aku udah terlanjur menyetujuinya“ sungguh aku menyesal, dan merasa bersalah.


“Iya, gak apa-apa, untuk sementara biarkan dia tinggal di rumahmu ini“


“Maafin aku yah, aku yang salah“ Aku memeluk Anwar, menyusupkan kepalaku di dadanya, sebagai bentuk rayuan, agar dia mau benar-benar memaafkan aku.


“Iya, gak apa-apa sayang“ Anwar mengelus kepalaku lembut.


“Ooooaaakkkk ... oooaaakkkk!!“ tiba-tiba Fadli menangis dengan kencangnya.


“Astagfirullah, kamu kenapa nak??” Aku segera melepas pelukan dari Anwar, dan segera menghampiri putraku.


“Dia kenapa??” tanya Anwar cemas, tidak biasanya Fadli menangis sekeras ini.


“Kamu kenapa??? Sini di gendong Ibu“ Aku


memangkunya, setelah sebelumnya memeriksa ke adaannya, tapi tidak ada yang


salah dengan putraku, dia tidak pipis, dan juga menolak ketika di beri ASI.


“Nak, jangan nangis terus dong“ Aku mulai menangis, tidak tega melihat putraku terus menangis.


“Kamu jangan nangis juga dong, mungkin Fadli ingin sesuatu“ Anwar menyeka air mataku, diapun begitu khawatir.


“Sini di gendong Ayah“ Anwar menggendong putranya, mengambil alihnya dariku.


“Kenapa sayang?” tanyanya, mencoba mengajaknya bermain.


Tapi Fadli, masih tetap menangis sekuat tenaga, hingga kami malah makin bingung di buatnya.


Perlahan, ku raba dahinya, “Ya Allah, Fadli panas“ Aku histeris, seketika bingung mau melakukan apa, aku malah ikutan menangis,


air mataku terus luruh di pipi, seiring dengan teriakan tangis Fadli.


“Ya udah kita kerumah sakit sekarang ya“ Anwar bergegas keluar.


“Bi, panggil pak Anto!!” terdengar teriakan Anwar, sementara aku terus mendekap putraku.


“Tadi kamu baik-baik aja nak, kenapa sekarang panas banget, kamu kenapa??” Aku terus berbicara pada Fadli yang terus menangis.


“Ayah!!! cepetan!!!” tanpa sadar aku ikutan


histeris.


“Ayo berangkat!!“ Anwar menuntunku, yang tengah menggendong Fadli.


“Bi!!! Siapin kebutuhan Fadli, kita mau kerumah sakit!!” teriak Anwar.


Dengan sigap bi Lastri masuk kedalam kamar Fadli, dan menyiapkan segala kebutuhannya.


“Cup cup cup, sayang, jangan nangis yaa“ Aku mengusap kepala putraku dengan sayang.


Sepanjang perjalanan kerumah sakit, aku terus menangis sambil mendekap putraku, ke khawatiran seorang Ibu terhadap anaknya,


aku merasakannya sekarang.

__ADS_1


Bersambung.....................


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers.............


__ADS_2