
Malam ini, kami sudah berada di sebuah pesta megah, dengan segala pernak-pernik pernikahan yang luar biasa, yah, kami sedang berada di resepsi pernikahan Andi, sekertaris Anwar.
Aku menggunakan, gaun berwarna merah marun, dengan hijab yang serasi, begitupun Anwar, menggunakan batik dengan warna yang senada denganku.
Aku berjalan menggandeng Anwar, ada banyak karyawan yang berada di sana, mereka semua menyapa kami, memanggutkan kepalanya penuh hormat, jujur aku merasa sangat tidak nyaman, ketika mereka memperlakukan aku seperti itu. Tapi, aku berusaha menikmatinya, untuk menghargai suamiku.
“Wah pak Anwar serasi sekali sama Ibu“ seorang pria bertubuh tinggi menyapa kami, lalu bersalaman dengan Anwar dan aku.
“Ah, bisa saja pak Budi ini“ Anwar tergelak.
“Gimana harga saham hari ini pak??” tanya pak Budi.
Aku seringnya merasa bosan ketika harus mendengarkan para pria membicarakan masalah pekerjaan, bukannya aku tidak mengerti, hanya saja sekarang aku jadi tidak selera lagi, jika harus membicarakan pekerjaan.
“Ayah, aku kesana dulu ya, mau ngambil minum“ Aku pamitan pada Anwar, lalu Anwar mengiyakan, dan melanjutkan obrolannya.
Aku berjalan, menuju minuman yang berjejer di dalam gelas, aku meraih gelas yang berisi orange juice, kemudian meminumnya perlahan, sambil duduk.
“Anjani??!!” teriak seorang perempuan.
“Uuhhuukk ... uuhhuukk ...” karena kaget, aku jadi tersedak.
“Siapa ya?” tanyaku sambil mengerutkan dahi.
“Ini, aku Sindy, temen kerja kamu“ jawabnya.
“Ah, iya maaf aku lupa” jawabku sambil cipika-cipiki dengan Sindy, jujurnya aku tidak mengingatnya, yah karena aku dulu tidak terlalu dekat dengan siapapun.
“Masa udah lupa sih?? O ya?? Katanya sekarang kamu udah nikah sama pak Anwar ya?? Selamat ya?” Sindy kembali mengulurkan tangannya.
“Iya, terimakasih“ jawabku sambil tersenyum.
“Gak nyangka ya, ternyata si cupu itu, boss kita, pantesan aja kamu waktu itu, mau deketin dia Jan, jangan-jangan kamu udah tau ya?? Kalau dia itu boss??” Sindy memandangku dengan sinis, rasanya sakit. Melihat tatapan Sindy.
“Maksud kamu??” tanyaku.
“Iya, sebenarnya kamu udah tahu kalau Anwar itu bos, makanya kamu deketin dia, meskipun waktu itu, dia menyebalkan, dan penampilannya iiieeeww ... hahaha” Sindy tertawa, membuat kupingku terasa panas.
“Aku menikah dengan Anwar karena ibadah Sin, bukan karena apa-apa“ jawabku.
“Alah, zaman sekarang, mana ada yang kayak begitu??” Sindy masih sinis.
Aku menarik napas, ada sedikit penyesalan, kenapa aku harus bertemu Sindy di sini??.
“Jangan ngomong gitu Sin“ Aku mendelik.
“Jangan munafik!!!” tiba-tiba Sindy berbisik ketelingaku.
“Maksud kamu!!???” sentakku.
“Hhee ... gak apa apa Ibu Anwar“ Sindy menggeleng, lalu tersenyum. Senyuman yang ambigu, hingga aku sulit mengartikannya.
__ADS_1
“Ada apa sayang??” Anwar tiba-tiba datang dari belakangku.
“Ah, sayang kamu masih ingat dia kan??” tanyaku pada Anwar, sambil menunjuk Sindy yang terlihat kaget.
“Siapa?” tanya Anwar, terlihat dia sedang berusaha mengingat-ingat.
“Sindy, dulu dia sering banget ngerjain kamu“ jelasku, dengan tatapan yang tak kalah sinis.
Seolah mengerti, Anwar tersenyum “Ah, iya Ibu Sindy, di bagian Administrasi, sudah bekerja selama sepuluh tahun ya bu?” tanya Anwar.
“I iya“ jawab Sindy gugup, kulihat lututnya sudah bergetar.
“Kira-kira, di zaman yang serba mahal ini, di tunjang dengan gaya hidup para perempuan yang super waw, gimana kalau saya melakukan pengurangan karyawan di kantor yang Ibu tempati??? Terutama di bagian Administrasi, saya fikir, saya butuh pekerja yang baru, agar pemikirannya lebih fresh, dan tidak kotor“ jelas Anwar sambil tersenyum menyeringai.
“Ja jangan pak Anwar, maafkan segala kelancangan saya, saya tidak bermaksud menyakiti hati istri bapak“ wajah Sindy sudah memucat.
“Hah?? ah, tidak, istri saya bukan seorang pendendam, dengan mudah, dia akan memaafkan banyak kesalahan orang lain“ Jawab Anwar manggut manggut “Saya hanya minta pendapat bu Sindy, tentang pengurangan karyawan aja kok“ lanjut Anwar.
“Ja jangan pak, maaf“ Sindy tertunduk dengan lutut gemetar.
“Ah, iya bu Sindy, saya juga tidak terlalu suka dengan karyawaty yang sudah berumur“ jawab Anwar menjentikkan telunjuknya pada wajah Sindy, Sindy semakin katakutan.
“Maafkan saya pak, maafkan saya“ Sindy terus memohon.
“Akan saya maafkan bu Sindy, besok Ibu akan menerima tunjangan dan gaji terakhirnya, bulan depan Ibu tidak perlu bekerja lagi di kantor saya“ jelas Anwar sambil berlalu, menuntunku, menjauhi Sindy, yang sudah di kerumuni teman-temannya.
“An, kamu selalu berlebihan“ Aku menarik tanganku.
“Ah, ya sudahlah, gimana kamu aja“ Aku menyerah, karena tau, tidak akan menang jika menghadapi Anwar yang sedang marah.
“Baiklah, ayo kita foto bersama“ Anwar menuntunku naik keatas pelaminan.
“Andi, selamat yaa“ Aku menyalami Andi dan istrinya, rasanya sangat bahagia, bisa melihat Andi bahagia.
“Makasih bu Jani“ Andi membalas senyumku.
“Ya udah kita foto bareng yuk“ Anwar mengeluarkan camera, lalu kita berfoto dengan berbagai macam gaya.
Setelah selesai berfoto, dan menyalami Andi, kami memutuskan untuk pulang ke rumah, aku ingat terus pada Fadli, tadi sebelum berangkat, aku menitipkannya pada Tiwi, karena kebetulan bi Lastri sedang pergi ke tukang jahit, untuk menjahit bajunya.
“Jan, kamu kenapa?? Kok kayak cemas gitu??” Anwar bertanya padaku.
“Aku ingat Fadli, perasaanku tidak tenang” jawabku sambil mengurut dada.
“Gak apa-apa, Fadliku baik-baik saja, lagian dia kan di jaga Tiwi" Anwar menenangkanku.
Sepanjang jalan aku lebih banyak diam, fikiranku terus berkecamuk, aku terus mengingat putraku.
Setibanya di rumah, aku segera masuk kedalam rumah, lalu menuju kamar Fadli.
“Fadli“ Aku memanggilnya, lalu menghampiri box tidurnya.
__ADS_1
“Hah?? Fadli mana?? Fadliiii!!!“ seketika aku histeris.
“Kenapa Jan??” Anwar menghampiriku.
“Fadli mana??“ tanyaku sambil mengacak-acak box bayi tempat Fadli.
“Maksud kamu apa??” tanya Anwar.
“Fadli gak ada“ Aku mulai terisak.
“Tiwiiiii!!!!” Anwar berteriak, tapi yang di panggil tak kunjung menyahut.
“Tiwiiii!!” lagi Anwar berteriak, memanggil Tiwi.
“Kemana si Tiwi?” Anwar bergegas menuju kamar Bi Lastri, di ikuti olehku.
“Tiwi!!” Anwar menendang pintu.
Terlihat, Tiwi sedang asyik manggut-manggut, mendengarkan music lewat headset.
“A ada apa pak??” Tiwi terlonjak kaget.
“Mana Fadli??!!” teriak Anwar.
“A ada di kamarnya pak“ jawab Tiwi.
“Kamarnya dimana? Fadli tidak ada!!!” Anwar membentak.
“Hah?? masa pak?” Tiwi turun dari ranjang, kemudian berjalan menuju kamar Fadli.
“Hah? Fadli tidak ada pak?” Tiwi menatapku dan Anwar bergantian, dengan lutut gemetar.
“Kalau terjadi apa-apa pada putraku, kamu harus bertanggung jawab!!” Anwar menunjuk wajah Tiwi dengan gemetar, sementara aku sudah menangis, tak sanggup jika harus kehilangan Fadli.
“Hiks ... hiks ... hiks ... hiks ... terdengar suara yang amat ku kenal“ Aku mengedarkan pandangan.
“Fadli, kamu dimana nak??” Aku berjongkok melihat ke bawah stroler.
Anwar pun ikut berjongkok “Fadli!!” Anwar berteriak, kala melihat Fadli sudah di bawah kolong ranjang, dengan wajah dan mulut yang penuh oleh debu, entah debu dari mana.
“Astagfirullah, nak“ Aku menangis sambil memeluk putraku, merasa sangat bersalah karena sudah meninggalkannya.
“Maafkan Ibu, maafkan Ayah ya“ Aku mengelus punggungnya pelan, kemudian berusaha memberinya ASI, sambil membersihkan tubuhnya.
“Kenapa kamu bisa ada di bawah nak??” dengan berlinang air mata, aku terus mengajaknya bicara.
“Kamu!! Berani kamu membiarkan putraku sendiri!!! Bukannya aku sudah menitipkannya padamu?” Anwar berteriak memarahi Tiwi, aku hanya terdiam, tak bisa membelanya, karena Tiwi memang salah, aku bisa memaafkan siapapun yang menyakiti diriku, tapi aku tidak bisa memaafkan siapapun yang sudah menyakiti putraku. Aku akan melindungi putraku dengan segala caraku. Termasuk jika harus melihat Anwar menghukum Tiwi.
Bersambung..............
Jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaa.....
__ADS_1