KETIKA CINTA DI UJI

KETIKA CINTA DI UJI
Ujian Tahta, Harta


__ADS_3

Aku mengerjapkan mataku, seketika kesadaranku kembali, terasa ada sebuah tangan lembut yang tengah menggenggam tanganku, suara isakan terdengar jelas dari sampingku, kubuka mataku, kuedarkan pandanganku, infusan sudah menempel di tanganku, ruangan khas tempat orang dirawat ini segera kusadari keberadaanku, aku berada dirumah sakit, iya, aku disini, aku berusaha mengingat kejadian sebelumnya, ya, Kakak tiriku ingin kembali merebut tahtaku, sesuatu yang sudah seharusnya menjadi hakku, karena kami semua sudah memiliki bagian harta Ayah, dengan adil, termasuk kedua kakak tiriku. Tapi dia selalu serakah, dia ingin memiliki semuanya. Seringnya aku tidak bisa mengenadlikan diri ketika bertemu dengan mereka, rasa takutku selalu muncul mengusai diriku.


“Jan,“ kusapa perempuan yang menjadi penolongku tadi.


“An, kamu sudah sadar? Kamu kenapa An?” pertanyaan beruntun keluar dari mulutnya, aku tahu dia khawatir, sangat khawatir.


“Aku gak apa-apa,“ jawabku sambil membenahi posisi tidurku.


“Kamu mau apa??” tanyanya lembut, aku tersenyum, menghilangkan segala kecemasan yang sedang berkecamuk dihatinya.


“Aku gak mau apa-apa, aku cuman mau kamu disini“ jawabku, sambil menggenggam erat tangannya.


“Hmh, aku akan disini, selama yang kamu mau“ jawabnya, sambil terisak, kuusap air matanya dengan tanganku.


“Jangan khawatir, aku tidak apa-apa” pintaku.


“Iya,“ jawabnya mengangguk.


“Siapa yang membantumu membawaku kesini??” tanyaku penasaran sambil mengedarkan pandangan, aku tak melihat siapapun selain istriku.


“Aku di bantu Kak Irfan tadi“ jawabnya, aku mengerutkan keningku.


“Dimana kak Irfan sekarang??” tanyaku, aku begitu takut, bahkan hanya mendengar namanya saja.


“Kak Irfan sama mamah udah pulang, baru aja, nanti mamah kesini lagi katanya“ jawabnya membuatku agak sedikit lega.


“tadi mamah kesini juga??” tanyaku.


“Iya, tapi, tiba-tiba aja Mamah ngajak kak Irfan pulang,“ jawabnya polos, sungguh dia tidak tau apapun tentang masa laluku yang menakutkan.


“O ya?? Mungkin Mamah kangen kak Irfan, mereka sudah lama tidak bertemu“ jawabku, tak ingin menceritakan apapun padanya, tak ingin membebani fikirannya, dengan masalahku.


“Dokter bilang, kamu terlalu cemas, hingga kamu pingsan, kamu cemas kenapa?? Apa pekerjaanmu yang membuatmu cemas?? Apa ada masalah?? Apa aku perlu membantumu?” tanyanya beruntun, ah ... sungguh perempuan ini, jika sedang khawatir tidak bisa mengerem pertanyaannya.


“Tidak, tidak ada masalah apapun, hanya saja aku terlalu cemas akan kehilanganmu“ jawabku sambil tersenyum nakal.


“Ish, kamu, masih aja bercanda“ jawabnya sambil menepis tanganku pelan.


“Aku gak lagi bercanda, berjanjilah, kamu tidak akan pergi dari hidupku, meski apapun yang terjadi“ pintaku padanya.

__ADS_1


“Tentu saja, sudah jadi kewajibanku untuk mendampingimu“ jawabnya tulus.


“Hmh, terimakasih sayang“ Aku mengelus kepalanya.


“Kamu istirahat ya, aku mau beli minum dulu di kantin, aku haus“ pamitnya sambil berdiri.


“Baiklah, hati hati ya“ jawabku sambil melepaskan peganganku.


“Iya, tentu saja, kamu istirahat, ayo bobo“ Dia tersenyum lagi, sambil beranjak pergi, meninggalkan kamar tempatku di rawat, setelah sebelumnya menaikkan selimutku hingga kedada.


Dddrrrttt ... dddrrrttt ... dddrrrtttt ...


Suara ponselku berbunyi, kuraih ponselku yang berada diatas nakas kecil disamping ranjang yang kutiduri, sebuah pesan masuk, aku membukanya, kemudian membacanya,


[ Hay adikku, cepat sembuh yaaaa ... hahaha ] emote iblis, chat dari Kak Irfan.


Aku sungguh takut, dadaku kembali sakit, napasku menjadi sesak kembali,


[pergi, dan jangan ganggu hidupku lagi ] aku membalas pesannya dengan tangan bergetar.


[Tentu saja, tapi setelah kau memberikan tahtamu padaku]


[Tidak akan pernah, kuberikan hakku pada siapapun, termasuk kamu yang jelas bukan haknya, untuk menerima hartaku ]


[Aku bukan anak kecil lagi, aku sudah tumbuh besar dan kuat ]


[O ya?? Saking kuatnya, kau sampai pingsan karena bertemu denganku, apa luka itu masih ada??]


[Aku sangat membencimu ]


[Haha, dan aku lebih dari itu, aku akan menyakiti istrimu jika kamu terus tidak mengikuti inginku ]


[Apaaaa??? Jangan sentuh dia!!!]


[jika kamu mau memberikan apa yang aku mau]


Aku menghela napas, sungguh berat, aku harus memilih, antara Anjani atau tahtaku,


Krrriieettt ...

__ADS_1


Pintu terbuka, kulihat istriku masuk kedalam ruangan dengan membawa sebotol minuman, dan ... pria itu mengikutinya dari belakang, sambil tersenyum menyeringai.


“An, lihat, Kakakmu sudah datang lagi,“ teriaknya polos.


Aku tersenyum kaku “Ah, i iya“ jawabku gugup.


“Adik ipar, apa kata Dokter tadi?? Sakit apa adikku ini?” tanyanya sambil menyentuh tanganku, aku sangat membencinya,bahkan keringatku kembali membanjiri seluruh tubuhku.


“Ah, katanya hanya butuh istirahat saja, harus banyak tinggal di tempat yang tenang, karena sebelumnya Anwar terlalu cemas, mungkin dia terlalu memikirkan pekerjaannya“ jawabnya panjang lebar, Kak Irfan tersenyum menyeringai, sulit kuartikan.


“Emmhh, sejak kecil, dia memang memiliki gangguan panik, dan mengidap bipolar akut“ jelasnya, membuatku muak, dan ingin mencengkram lehernya.


“Ah, iya Kakak, sebelumnya aku sudah mendengar itu dari Mamah, tapi selama bersamaku dia baik-baik saja, tapi entah kenapa hari ini, dia tiba tiba begini“ Istriku menyentuh pipiku lembut,


“Jangan sentuh aku!!” teriakku tiba-tiba, sambil menghempaskan tangannya kuat, hingga dia hampir tersungkur, aku hanya mengingat para preman yang akan memukulku kala itu, merekapun memainkan pipiku dengan pisau tajam mereka.


“Astagfirullah,“ Aku tidak percaya atas apa yang sudah kulakukan, aku segera berusaha membantunya, tapi sulit karena selang infus yang menempel ditanganku.


“Sayang maaf, aku hanya ...” suaraku tercekat, melihat Anjani di bantu berdiri oleh Kak Irfan.


“Ya ampuunn ... ternyata dia sekasar itu?? Apa kau tidak apa apa adik ipar?? Maafkan Anwar ya” Dia mendelik ke arahku, membuatku semakin tak karuan, aku tak bisa mengendalikan fikiranku.


Brrruuukkkk....


Entahlah, keberanian ini selalu datang dan pergi sesuka hati,


“Anwar!!! Apa yang kamu lakukan??” teriak Anjani menyadarkanku.


“A aku, aku ...” Aku terbata


“Cepat panggil Dokter!!” teriak Kak Irfan.


Ku lihat Anjani begitu terpukul atas kejadian ini, sambil terisak dia berlari keluar ruangan, meninggalkan kami berdua.


“kau lihat itu adik kecil?? Kau membuatnya ketakutan, jadi, ada baiknya kau segera memberikan tahtamu, agar kau bisa kembali hidup tenang dan damai, kau tentu tidak ingin, dia melihat sisi burukmu bukan?? Kau tidak ingin dia melihatmu ketika kau kehilangan akalmu bukan??” tanyanya menyeringai.


“Pergi!!!!” teriakku sekuat tenaga.


Anjani, dan Dokter datang, tiba-tiba salah satu Dokter menyuntikkan obat kedalam cairan infusanku, hingga kesadaranku kembali melemah, aku semakin tak berdaya, sempat kulihat air mata istriku luruh dipipinya, harukah aku menyerahkan tahta dan hartaku padanya?? Akankah kamu bertahan jika kita hidup miskin Jan?? Akankah kamu setia bersamaku meski kamu tau kekuranganku?? ada banyak pertanyaan, tapi pandanganku mulai buram, dan aku kembali tak mengingat apapun.

__ADS_1


Bersambung...............


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers sayang..........


__ADS_2