
Jauh yang kurasakan, tak sebanding dengan jauhnya kehidupan yang akan menyambut di masa mendatang. Ini bukan kali pertama aku
bangkit dari keterpurukan, entah berapa kali? Jika aku menghitungnya pun, mungkin sudah tak terhitung, saking banyaknya masa yang terlewati karena sebuah pengkhianatan. Hingga aku merasa sudah tak ada waktu lagi untuk meratapi nasib. Mulai sekarang hingga kedepan tak ku izinkan lagi hati tersakiti. Tak ku izinkan lagi siapapun mengkhianatiku.
Ku tata hati dan tetap semangat, ayat-ayat suci, dan dzikir pagi petang, rutin kulakukan. Hanya untuk mengusir duka yang kerap
datang, saat kembali teringat pengkhianatan orang-orang yang paling kusayangi, dan anehnya, setiap orang yang aku sayangi, cintai dan hargai, kenapa mereka selalu mengkhianatiku?? Ribuan kali ku yakinkan hatiku “Kamu pasti bisa Anjani!!!“ kalimat itu yang selalu bisa memulihkan kembali kala hati mulai goyah.
Lucunya, pengkhianatan itu, tidak selalu datang dari pasangan saja, orangtua, adik, sahabat, dan semua orang yang pernah aku kenal, mereka selalu mengkhianatiku, dan ada yang lebih lucunya lagi, aku tetap percaya pada mereka, memaafkan dan memberi mereka banyak kesempatan.
Hidup itu selalu tentang pilihan, dan hidupku juga tentunya adalah pilihanku. Aku memilih untuk terus memaafkan, meski aku terus
di kecewakan. Naif memang.
“Jan, kamu sudah pulang??” Anwar duduk di
sampingku, di sebuah sofa di ruang tengah.
“Sudah“ jawabku singkat.
“Bagaimana? Apa yang Tiwi katakan??” Anwar menatapku dalam.
“Tiwi mengatakan apa yang kamu katakan“ jawabku.
__ADS_1
“Hhuuuuhhh ... “ Anwar menarik napas panjang, merasa lega atas jawabanku.
“Kamu sekarang percayakan padaku??” Anwar memegang bahuku lembut.
“Belum sepenuhnya“ jawabku sekenanya.
“Kenapa lagi?? Bukankah semuanya sudah jelas?” tanyanya kecewa.
“Yang jelas itu belum tentu pasti“ jawabku
memandangnya sinis, entahlah, tapi sekarang hatiku jadi membeku.
“Kamu masih belum percaya padaku Jan?? Kamu masih meragukan aku?? Harus dengan cara apalagi aku meyakinkanmu??” Anwar terlihat frustasi.
“Tidak perlu, Allah jauh lebih tahu kebenaran yang sesungguhnya“ jawabku enteng.
Aku beranjak dari tempat duduk, memasuki dapur, entah berapa lama, aku meninggalkan tempat yang dulu menjadi tempat pavoriteku,
aku membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan yang akan aku masak, rasanya
dengan memasak semua bebanku bisa menghilang. Sementara itu, ku dengar dua pria yang paling kusayangi tengah tergelak di ruang tv. Aku tersenyum, aku begitu menyukai keadaan ini.
Lama aku berkutat di dapur, hingga selesai, dan aku menatanya di meja, aku segera beranjak menuju ruang tv. Kulihat dua pria paling tampan di hidupku sedang berguling di atas karpet bulu. Tertawa riang, sambil
__ADS_1
berceloteh. Aku tersenyum, menyenderkan kepala di pintu penghubung, dengan tangan di lipat di dada. Rasanya entah berapa lama, kedamaian di rumah ini menghilang.
Dan aku sadar, akulah yang menyebabkan semuanya terjadi. Aku yang mengundang
penjahat masuk kedalam rumahku sendiri. Sebuah pelajaran yang sangat berharga
bagiku.
“Jan, kamu sudah selesai masaknya??” tiba-tiba suara Anwar membuatku mengerjap
“Ah, iya, kalian makan dulu ya“ Aku memutar tubuh, lalu berjalan menuju ruang makan, duduk di kursi makan, untuk menunggu mereka.
Tak lama kemudian, Anwar datang dengan Fadli dalam gendongannya.
“Jan, kamu lelah?? Apa aku harus mencari ART baru untukmu??” tanyanya, sambil mengusap keringat yang menjalar di pelipisku.
“Tidak, aku tidak akan mempercayakan siapapun lagi, untuk mengurus urusan rumah tanggaku“ jawabku tegas.
“Ah, baiklah, tapi kamu jangan terlalu capek ya“ Anwar tersenyum.
“Hmh, ayo makan“ Aku menyambar piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk-pauknya, lalu menyodorkannya pada Anwar.
“Terimakasih sayang“ Anwar mengelus ujung kepalaku, ah ... aku sungguh merindukan suasana ini. Kenapa setelah semuanya sempat hilang, aku baru merasakan rindu, aku baru merasakan jika hal-hal kecil dan remeh-temeh yang biasa kami lakukan bersama menjadi sangat berarti.
__ADS_1
Bersambung ........
jangan lupa tinggalkan jejaknya ya readers ....