
Dalam hidup, teramat banyak rahasia, termasuk dalam rumah tanggaku, ternyata ada banyak rahasia di dalamnya, kenyataan yang sebelumnya tidak aku ketahui, dan terasa menyakitkan ketika semuanya telah terkuak, aku hanya manusia biasa, hatiku juga bisa sakit, ketika harus menerima setiap kenyataan pahit yang harus kuterima.
Benci, mungkin wajar jika aku merasakannya, tapi aku sadar aku tidak bisa menyimpan benci terlalu lama, kebencian hanya akan membuatku lebih sakit.
Maaf, satu kata yang mudah diucapkan tapi sulit di lakukan, untuk bisa ikhlas memaafkan aku juga butuh waktu yang cukup lama, hanya saja aku harus terus belajar memaafkan siapapun yang sudah mengecewakanku, karena ketika maafku telah ikhlas, maka rasanya hatiku menjadi lega.
Seminggu setelah kepulanganku ke rumah, seluruh keluarga memutuskan untuk mengadakan syukuran kecil-kecilan, dalam rangka menyambut kepulanganku, semua orang terlihat antusias, jangan tanyakan bagaimana reaksi Ayah, Ibu, Indah dan Andre ketika mereka tau aku pulang, apalagi ketika tau aku juga tengah hamil, jelas gurat bahagia sangat terlihat dari wajah-wajah mereka, jangan tanya bagaimana sikap Anwar sekarang, jelas dia tambah menunjukkan cintanya padaku, ternyata apa yang di bilang orang orang itu benar adanya, kita harus pergi dulu, baru kita akan tau seberapa besar kasih sayang orang lain pada kita, dan kita juga jadi tau seberapa besar kasih sayang kita pada orang lain.
Tepat hari ini, acara syukuran itu di gelar, semua orang sibuk dengan tugasnya masing masing, Ayah, Ibu, Indah, dan Andre juga sudah datang dari tadi sore, membantu menyiapkan segalanya.
Mamah Anita juga tak kalah sibuknya, dari sore sudah datang ke rumah, heboh menelpon teman-teman sosialitanya, mengundang mereka untuk datang ke acara syukuran ini, Mamah Anita terus menyombongkan diri, jika sebentar lagi dia akan memiliki cucu.
Sementara Ibu juga tak mau kalah, Ibu menyombongkan diri, karena Ibu akan langsung memiliki dua cucu sekaligus, mengingat kehamilanku dan Indah hanya beda beberapa minggu saja.
Anwar??? Jangan di tanya, dia dari tadi hanya cengar-cengir saja, membanggakan diri, karena dia akan jadi Ayah, sementara aku dan Indah hanya bisa memutar kedua bola mataku. Cukup jengah dengan sikap mereka, yang terkesan berlebihan.
“Kakak, terimakasih, karena Kakak sudah kembali“ Indah kembali memelukku, saat kami berada didalam kamar.
“Sama-sama dek, Kakak juga sangat bahagia, karena akhirnya bisa kembali kerumah ini, kembali pada kalian“ jawabku, sambil membalas pelukannya.
“Kakak, jangan pergi lagi“ Indah terisak.
“Enggak, Kakak gak akan pergi lagi, kecuali jika Allah yang menakdirkannya untuk seperti itu“ jawabku, melepaskan pelukan sambil mengusap air mata Indah dengan ibu jari.
“Kakak, sekarang, sebentar lagi kita akan menjadi Ibu, rasanya aku sangat bahagia, karena kita akan menjadi ibu, bersama-sama“ Indah tersenyum.
“Kita bisa melakukan banyak hal bersama, kita bisa belajar menjadi Ibu bersama-sama“ Aku juga tak kalah antusias.
“Psssstttt ... ladies, di tunggu di luar, para tamu udah dateng“ tiba-tiba Anwar datang dan berbisik, mengajak kami untuk segera keluar, menemui para tamu undangan.
__ADS_1
Aku tersenyum menatap suamiku, dia begitu kekanakkan dengan sikapnya sekarang, dan aku hanya bisa tersenyum dengan segala tingkahnya.
Aku dan Indah segera beranjak keluar dari kamar menuju ruang tengah, terlihat beberapa bapak-bapak tetangga dan para sahabatnya Ibu, dan Mamah mertua juga sudah tiba, mereka sudah siap untuk membacakan do'a.
Hingga acara do'a itu dimulai, terdengar suara orang-orang membacakan surah Yasiin, begitu menggema, begitu menentramkan, aku duduk bersimpuh di antara mereka, sambil mengusap perutku, mulai sekarang akupun harus mengubah pola hidupku, mungkin aku harus lebih meningkatkan kadar imanku demi anakku. Aku harus bisa jadi panutan untuknya.
Setelah acara doa bersama selesai, acara di lanjutkan pada acara makan-makan, kali ini aku sama sekali tidak memasak, karena Mamah mertua yang memesankan catering, dan Ibu yang membuatkan kue-kuenya, mereka begitu kompak, maklum cucu pertama dari kedua belah pihak. Belum apa-apa aku sudah khawatir, bagaimana jika anakku sudah lahir nanti? Dia pasti akan menjadi rebutan Neneknya. Sementara para Kakek, hanya duduk santai, dengan obrolannya.
Riuh, ucapan selamat untukku terus kudengar, semua orang berjajar menyalamiku, untuk mengucapkan selamat padaku dan Indah, sebagian dari para tamu juga memberiku banyak hadiah, terutama dari sahabat para nenek, dan teman-temannya Anwar.
Ah ... aku sungguh bahagia, “Nak, kamu baru tumbuh dua bulan di rahim Ibu, tapi kamu sudah dilimpahi banyak cinta dan kasih sayang dari banyak orang“ Aku mengelus perutku dengan sayang.
“Tentu saja, jika Ibunya baik, anaknya juga pasti akan jadi anak yang baik, In sya Allah, anak kita akan selalu dilimpahi banyak cinta“ Anwar memelukku dari belakang.
“Ayah, jangan nakal yaaa .. .sekarangkan masih banyak orang, jangan peluk-peluk dong“ Aku menirukan suara anak-anak, tidak nyaman saja jika banyak mata memandang segala keromantisan kami. Aku tidak ingin mengumbarnya saja, takut banyak yang ngiri, he.
“Ayah gak nakal kok, nakalnya dikit aja“ Anwar juga menirukan suara anak-anak.
Terimakasih ya Allah, aku bahagia, sangat bahagia.
“Selamat ya bu Anjani, atas kehamilannya“ tiba-tiba Andi datang mengucapkan selamat padaku.
“Oh, terimakasih Andi“ Aku melepaskan pelukan Anwar.
“Ish, ganggu aja“ Anwar menggerutu, sementara Andi hanya garuk-garuk, dan membenahi kacamatanya, sambil cengar-cengir.
“Ya maaf pak, hhee ... oh iya ini hadiah buat bu Anjani“ Andi menyodorkan sebuah bingkisan besar, dengan bungkus kado bergambar beruang.
“Aduh, kenapa repot-repot Andi??? Tapi terimakasih banyak ya“ Aku menerima kado yang diberikan Andi dengan susah payah, karena besarnya melebihi badanku, aku begitu penasaran, dengan isi dari kado Andi, sementara yang lain memberiku kado yang begitu simple.
__ADS_1
“Hee ... semoga Ibu suka“ Andi menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal.
“Iya, aku pasti suka kok, makasih ya“ Aku tersenyum pada Andi, dengan masih memangku kadonya.
“Saya ikut bahagia, dengan kebahagiaan yang bapak Anwar dan Ibu Anjani rasakan sekarang“ Andi menatap kami bergantian.
“Iya, makanya cepet nikah dong, biar kamu juga cepet punya anak“ Anwar menimpali, sambil menggandeng bahuku.
“Hee ... iya pak, kalau begitu saya permisi dulu ya pak“ Andi pamit undur diri, kemudian berlalu.
“Andi ngasih apa sih Jan?? Ngasih kado kok segede gentong gitu??” tanya Anwar.
“Ya mana aku tau“ Aku mengedikkan bahu, kemudian Anwar mengambil alih kado pemberian Andi, lalu menyimpannya kedalam kamar kami. Menyatukannya dengan kado-kado yang lain.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, acara sudah selesai, semua tamu sudah pulang, Ibu, Ayah, Indah dan Andre juga sudah undur diri, Mamah mertua, setelah menguap berkali-kali juga ikut undur diri bersama Ayah mertua.
Hingga tinggalah kami berdua, aku dan Anwar, juga rumah yang amburadul, tapi Mamah mertua menjanjikan akan mengirim orang untuk membantu kami membereskan rumah esok harinya.
“Sayang ...” Anwar bergelayut manja ditanganku.
“Hmh“ jawabku, aku mengerti kode suamiku.
“Kita ke kamar yuk, aku udah ngantuk nih“ pintanya, dengan nada manjanya.
“Iya, ayo, kita bukain kado-kado yang tadi, aku penasaran, pengen liat isinya“ jawabku antusias sambil beranjak menuju kamar.
“Kok bukain kado sih?? Sayaaaannggg ...” masih kudengar Anwar berdecih kesal, mengundang senyumku, ck dia tidak berubah sama sekali.
Bersambung.....................
__ADS_1
Hay readers tercintanya author, jangan lupa tinggalkan jejaknya yaaaa.....